BerandaTradisinesia
Rabu, 24 Jun 2025 10:16

Kata Pakar tentang Larangan Menggelar Hajatan di Bulan Sura

Warga Jawa nggak menggelar hajatan seperti pernikahan pada bulan Sura. (Inibaru.id/Triawanda Tirta Aditya)

Selama bulan Sura, nggak ada orang Jawa yang berani menggelar hajatan seperti pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Apa alasannya?

Inibaru.id – Dua minggu belakangan, Siti mengaku kewalahan dengan banyaknya undangan hajatan yang datang ke rumahnya. Nggak hanya pernikahan, hajatan seperti sunatan atau khataman juga. Dia pun harus pandai-pandai menyisihkan uang untuk memberikan sumbangan ke berbagai acara-acara tersebut.

"Rasanya seperti semua orang lagi menikah atau menggelar hajatan lainnya. Tapi ini wajar, karena bentar lagi kan bulan Sura. Nanti sebulan penuh nggak ada yang berani bikin acara," ucap perempuan asal Kabupaten Semarang itu pada Senin (23/6/2025).

Dari pernyataan Siti yang seperti mewajarkan hal ini, muncul pertanyaan yang cukup mengusik; mengapa semua hajatan dilakukan sekarang dan nantinya nggak bisa dilakukan pada bulan Sura? Nah, hal inilah yang akan kita bahas kali ini, Millens.

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern, masih ada ruang sunyi yang dijaga dengan penuh hormat oleh masyarakat Jawa, yaitu Tahun Baru Jawa atau yang dikenal sebagai 1 Sura.

Bukan sekadar pergantian kalender, 1 Sura adalah momen spiritual yang begitu sakral dan sarat makna. Waktu tersebut sering kali dikaitkan dengan keheningan hingga aura mistis.

Bulan Sura adalah bulan pertama dalam penanggalan Jawa. Pada 2025 ini, 1 Sura 1959 Jawa jatuh pada Sabtu Legi, 28 Juni. Tapi seperti dalam tradisi Jawa, bukan pagi yang jadi penanda pergantian hari, melainkan malam sebelumnya.

Artinya, suasana magis 1 Sura sebenarnya sudah menyelimuti sejak matahari tenggelam pada Jumat Kliwon, 27 Juni nanti. Warga pun menyebutnya sebagai malam 1 Sura.

Nggak hanya malam 1 Sura yang dianggap sakral, pada sepanjang bulan Sura, masyarakat Jawa meyakini satu hal, yaitu larangan menggelar hajatan, termasuk pernikahan. Alasannya, bulan ini dianggap angker dan bukan yang pas untuk mengadakan acara yang bersifat bersuka cita.

Menurut Prof Dr Bani Sudardi, Guru Besar Ilmu Budaya dari Universitas Sebelas Maret (UNS), anggapan tersebut sebenarnya lebih bersifat sugestif, tapi sudah dipercaya secara turun-temurun.

“Kalau orang sudah percaya, semua kejadian bisa dikaitkan ke sana. Misalnya, ada yang ekonominya buruk, sering mengalami masalah rumah tangga, dikaitkan ke hari pernikahannya. Padahal, hal ini bisa saja terjadi pada mereka yang menikah di bulan-bulan lainnya,” ujarnya sebagaimana dinukil dari Kompas, Senin (23/6).

Salah satu tradisi yang digelar pada malam 1 Sura. (Kompas/Anggara Wikan Prasetya)

Dia mencontohkan, jika ada pasangan yang menikah di bulan Sura lalu mengalami masalah rumah tangga, hal itu langsung diasosiasikan dengan waktu pernikahannya yang dianggap nggak sesuai dengan tradisi.

Hal serupa berlaku untuk hajatan lain seperti khitanan, pesta besar, bahkan membangun rumah. Aktivitas-aktivitas itu juga dianggap kurang tepat jika dilakukan di bulan ini.

Menariknya, sebenarnya kalau ditelaah dari sisi sejarah, seharusnya larangan ini nggak karena bulan Sura itu angker, melainkan sebagai bagian dari penghormatan terhadap kesakralan bulan Sura.

Akar budaya terkait bulan Sura sendiri erat dengan sosok Sultan Agung, Raja Mataram pada abad ke-17. Dialah yang menyatukan kalender Saka Hindu dengan kalender Hijriah Islam untuk menciptakan sistem penanggalan Jawa yang unik. Bulan Muharam dalam Islam pun diganti namanya menjadi Sura dalam versi Jawa.

Lantas, mengapa kemudian bulan Sura punya nuansa mistis? Hal ini karena pada zaman dahulu, kegiatan seperti tirakat, tahlilan, ziarah makam leluhur, dan ritual batin di pantai selatan menjadi aktivitas yang lazim dilakukan pada malam 1 Sura.

Pada aktivitas-aktivitas tersebut, nggak ada pesta, nggak ada pula suara gamelan yang meriah. Yang terdengar hanya doa yang lirih, dan langkah kaki para peziarah yang berjalan dalam diam, mengelilingi keraton atau mendaki lereng gunung dalam keheningan.

Sosiolog UNS Drajat Tri Kartono menambahkan bahwa larangan-larangan itu murni berasal dari tradisi, bukan ajaran agama. Dia menyebutnya sebagai bentuk ekspresi budaya yang menekankan penghormatan terhadap waktu yang diyakini sakral.

“Pengaruh nilai spiritual ini melekat dalam budaya orang Jawa yang dikenal menjunjung tinggi warisan lelulur,” jelasnya.

Artinya, malam 1 Sura dianggap sebagai waktu untuk berhenti sejenak, menyepi dari dunia yang bising, menghidupkan kembali nilai-nilai batin yang mulai redup, sekaligus menghormati hidup dan alam semesta.

Seiring dengan waktu, durasi untuk melakukan hal tersebut nggak terbatas pada malam itu saja, tapi sepanjang bulan Sura.

Menarik juga ya sejarah terkait dengan malam 1 Sura dan larangan hajatan di bulan pertama ini. Di sekitar rumahmu, adakah yang masih meyakini mitos ini, Millens? (Arie Widodo/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: