BerandaTradisinesia
Kamis, 28 Jan 2026 15:01

Etika Berbusana Para Saudagar Kudus: Adaptif, Sopan, dan Elegan

Salah satu foto keluarga Nitisemito yang ditunjukan dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Wastra Sodagaran bukan sekadar ajakan berjalan kaki. Walking tour tajaan Cerita Kudus Tuwa itu juga menjadi napak tilas fesyen para saudagar di Kota Kretek pada masa lalu.

Inibaru.id Ajining raga ana ing busana. Falsafah Jawa yang kurang lebih berarti kehormatan ditentukan oleh busana yang kita kenakan ini bukanlah sekadar isapan jempol, khususnya di kalangan "kelas atas" pada zaman dulu; nggak terkecuali di Kabupaten Kudus.

“Bagi para saudagar di Kudus, busana bukan semata perkara gaya, tapi juga etika; cara mereka menempatkan diri di hadapan orang lain,” ujar Yusak Maulana, pegiat Cerita Kudus Tuwa saat menaja (menginisiasi) walking tour bertema Wastra Sodagaran di Kota Kretek pada pertengahan Desember 2025 lalu.

Di kota dagang seperti Kudus, kain berbicara lebih dulu sebelum mulut membuka percakapan. Berbeda dengan priyayi yang memperoleh kewibawaan dari struktur kekuasaan, saudagar Kudus membangun martabat melalui reputasi dan kepercayaan.

"Dunia dagang menuntut keterbacaan sikap, dan salah satu cara paling awal untuk membacanya adalah dari penampilan," lanjutnya.

Antara Jas dan Sarung

Peserta walking tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Foto-foto lama keluarga saudagar sepeti M Nitisemito, H Hasan Sjoekoer, hingga H Muzaid Dahlan memperlihatkan satu benang merah: jas tutup berkerah tinggi berpadu dengan sarung batik halus, dan peci atau iket yang terpasang tanpa kesan berlebihan. Rapi, elegan, tapi nggak mencolok.

“Saudagar Kudus ingin tampak pantas di mana pun ia berada. Di rumah, di pabrik, di masjid, maupun saat bertemu relasi dagang Eropa,” kata Yusak. "Dalam konteks ini, berpakaian adalah bagian dari kerja. Ia adalah modal sosial, sekaligus investasi kepercayaan."

Wastra Sodagaran memperlihatkan satu hal penting yaitu kosmopolitanisme nggak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru sebaliknya, di Kudus pengaruh Eropa dipeluk dan dijahit ulang agar menyatu dengan akar lokal yang familiar di kalangan bumiputera.

Jas Eropa hadir berdampingan dengan sarung dan peci; sebuah perjumpaan yang, pada pandangan pertama, tampak bertentangan. Namun, di situlah Kudus menemukan gayanya sendiri.

Fesyen yang Akulturatif

Peserta walking tour Cerita Kudus Tuwa sedang foto bersama salah satu pewaris batik di Kudus. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Saudagar Kudus hidup dalam pusaran dunia global. Mereka berhubungan dengan pedagang Belanda, Tiongkok, dan Arab. Namun, identitas Islam dan Jawa pesisiran tetap menjadi pijakan.

“Ini cara mereka berkata bahwa kami modern tapi tidak tercerabut!” jelas Yusak sambil menunjuk foto seorang saudagar dengan jas gelap dan sarung batik bermotif pesisiran.

Busana menjadi pernyataan diam-diam; tentang posisi, sikap, dan keberpihakan kultural. Perhatian Wastra Sodagaran nggak berhenti pada busana laki-laki, karena para istri saudagar juga menempati peran penting dalam representasi keluarga.

Foto-foto lama memperlihatkan perempuan Kudus tampil anggun dalam kebaya bordir, jarik batik pesisiran, dan perhiasan yang sepertinya dipilih dengan cermat. Yusak mengatakan, kalung kerek, liontin koin ukon, hingga berlian yang tersemat di rasukan mereka bukanlah semata hiasan.

“Ia (hiasan pada pakaian) adalah penanda ekonomi dan kehormatan keluarga,” tutur Yusak.

Nggak Selalu Mewah

Peserta terlihat sedang menikmati pemeran batik dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa. (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Dalam tatanan sosial itu, perempuan tampil tertutup, tapi percaya diri. Alasannya, karena keberadaan mereka bukan sekadar untuk menemani, tapi juga mewakili keberhasilan suami dan ketertiban rumah tangga. Martabat keluarga dijaga, antara lain, lewat kain yang melekat di tubuh perempuan.

Namun, Yusak menambahkan, bukan berarti dandanan para saudagar selalu semewah itu. Dalam aktivitas kerja, lurik yang sederhana tapi fungsional dan terkenal awet menjadi pilihan mereka. Kesederhanaan lurik bukan tanda penghematan semata, melainkan cerminan etos dagang.

Dalam dunia niaga, kepercayaan dibangun dari konsistensi. Pakaian yang bersih dan pantas menciptakan kesan dapat dipercaya.

“Saudagar Kudus sangat berhitung," papar Yusak sebelum tersenyum, “termasuk dalam berpakaian.”

Busana kala itu, dia menambahkan, menjadi bagian dari strategi sosial yang mengatur jarak, membangun citra, sekaligus menjaga keseimbangan antara hemat dan pantas. Dia berharap, walking tour ini membuat peserta menyadari bahwa kota adalah arsip hidup dengan foto-foto lama itu sebagai kepingan informasinya.

Busana sebagai Bagian dari Budaya

Yusak dalam acara walking tour Cerita Kudus Tuwa (Dok Cerita Kudus Tuwa)

Setiap titik perhentian dalam walking tour yang dipusatkan di Kudus Kulon itu menyimpan kisah: bagaimana kain dibeli, dijahit, dikenakan, lalu diwariskan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, busana menyimpan ingatan tentang cara hidup, cara bekerja, dan cara menjaga martabat.

Wastra Sodagaran membuka kesadaran bahwa pakaian bukan sekadar benda, melainkan dokumen sejarah yang melekat di tubuh manusia. Di akhir perjalanan, satu kesimpulan mengemuka: busana saudagar Kudus adalah bahasa kebudayaan.

Kesimpulannya, budaya Kudus sangat mengedepankan kerapian, sopan, adaptif, dan sarat akan makna. Cerita Kudus Tuwa nggak sedang berusaha meromantisasi masa lalu, tapi mengajak para peserta memahami gimana orang Kudus dahulu menempatkan diri dalam kehidupan sosial melalui apa yang mereka kenakan.

Busana, pada akhirnya, bukan sekadar kain, tapi cara orang Kudus berbicara tentang martabat, identitas, dan etika hidup di tengah arus zaman. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: