BerandaTradisinesia
Minggu, 9 Jul 2022 08:00

Bawor, Kudi, dan Identitas Budaya Banyumas

Ilustrasi: Pengawas berkostum Bawor lengkap dengan kudi di tangannya menjadi cara unik yang dilakukan sebuah sekolah di Banyumas untuk mengurangi ketegangan siswa. (Ittelkom-pwt)

Bawor yang lugas dan apa adanya dan kudi yang multifungsi menjadi identitas budaya Banyumas yang masih lestari hingga kini.

Inibaru.id – ­­Bicaranya lugas, terkesan kasar, cengengesan, tapi dikenal jujur. Itulah Ki Lurah Carub Bawor atau biasa disingkat Bawor. Ia adalah anak tertua dari Semar, tokoh utama Punakawan yang dikenal sebagai penasehat para kesatria dalam kisah pewayangan di Jawa.

Di Sunda, Bawor identik dengan Cepot atau Astrajingga. Sementara, di sebagian besar wilayah di Jawa, sosok yang dikenali dari tubuhnya yang tambun, matanya yang besar, dan mulutnya yang lebar ini lebih familiar dengan nama Bagong. Bawor hanya dikenal di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya.

Masyarakat Banyumas memang begitu menggemari sosok Bawor. Dalam tiap perhelatan wayang, ia menjadi salah satu sosok yang pasti dinantikan kehadirannya. Bawor bahkan dijadikan sebagai maskot kebanggaan wilayah yang dikenal dengan kuliner tempe mendoannya itu.

Alasannya, sifat mudah memaafkan, apa adanya, adil, jujur, dan sederhana ini dianggap sebagai simbol orang Banyumas. Dialek Jawa ngapak orang Banyumas yang dicap lebih kasar ketimbang bahasa Jawa keraton ala orang Solo atau Semarang juga dianggap pas dengan sosok Bawor yang tutur katanya lugas.

Gaman Bernama Kudi

Kudi merupakan identitas budaya Banyumas. (Mikimedia)

Nggak cuma karakternya yang serupa, warga Banyumas dan Bawor juga memiliki "senjata" yang sama. Kudi namanya. Senjata ini berbentuk parang asimetris bermata satu yang merupakan perpaduan kapak, celurit, dan palu.

Bagian pangkal kudi berbentuk lebih lebar, menggembung pada sisi tajamnya, lalu membengkok dan meruncing pada ujungnya. Sekilas, kudi mirip kujang, senjata khas orang Sunda, tapi lebih besar. Sisi tumpulnya juga lebih tebal, ditopang dengan gagang panjang yang cukup untuk dua genggaman.

Bagi warga Banyumas yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, kudi adalah perkakas multifungsi yang konon sudah dikenal sejak abad ke-7. Pangkal kudi yang menggembung ibarat kapak, berguna untuk memotong atau membelah kayu atau bambu, sedangkan lekukannya untuk menghaluskan bambu yang sudah dibelah.

Sementara, bagian ujung kudi yang seperti paruh burung bengkok berfungsi sebagai celurit, untuk memangkas rumput dan cabang pohon serta mencungkil atau membuat lubang. Kemudian, punggung kudi yang tumpul dan tebal adalah semacam palu yang berguna untuk memecah batok kelapa atau memaku.

Identitas Budaya

Patung Bawor membawa kudi di Pasar Manis, Purwokerto, Banyumas. (Kompas/Wilibrordus Megandika Wicaksono)

Masyarakat Banyumas nggak hanya menjadikan kudi sebagai perkakas pertanian, tapi juga identitas budaya. Maka, nggak heran kalau perkakas itu dijadikan sebagai senjata untuk Bawor, sosok wayang yang hanya "manggung" di sekitar Banyumas.

Selain menjadi gaman Bawor, kudi juga cukup lekat dengan kesenian tradisional Banyumas, misalnya ketoprak banyumasan dan wayang jemblung. Suparjo, dalang jemblung asal Karang­petir, Kecamatan Tambak, Ka­bupaten Banyumas mengatakan, kudi mewakili seluruh senjata dari semua tokoh wayang.

“Kudi yang serbaguna menjadi alat paling mumpuni dibanding dengan alat lain yang sejenis,” ungkap Suparjo, belum lama ini.

Sedikit informasi, wayang jemblung adalah kesenian rakyat Banyumas yang diyakini mulai berkembang saat Amangkurat I berkuasa di Jawa sekitar abad ke-17. Kesenian lisan tanpa iringan tetabuhan ini dimainkan lima orang yang bertindak sekaligus sebagai dalang, wayang, pemusik, dan pesinden.

Seperti Bawor, keberadaan kudi dalam kesenian tradisional Banyumas menunjukkan betapa pentingnya fungsi gaman tersebut bagi identitas budaya setempat. Sayangnya, kudi mulai jarang diproduksi secara massal, bisa jadi karena profesi petani semakin jarang atau kian banyak perkakas yang lebih modern.

Namun, kalau kamu pengin mencari kudi, cobalah mampir ke Kecamatan Susukan di Banjarnegara atau Keca­matan Kedungbanteng dan Sokaraja di Banyu­mas. Di tempat-tempat tersebut, terkadang pandai besi masih membuat kudi, kok. (Infop,Sp,Kom/IB31/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: