BerandaPasar Kreatif
Selasa, 16 Mar 2026 04:30

Tragedy of the Commons; Alasan Hutan dan Sumber Daya Bersama Mudah Rusak

Ilustrasi: Hutan yang luas, yang membuatnya bisa diakses siapa pun justru berpotensi menjadi yang pertama rusak. (Unsplash/ Roya Ann Miller)

Kekayaan adalah kutukan bukanlah sekadar pameo, tapi pengingat bahwa sumber daya yang melimpah sehingga bisa diakses semua orang adalah yang bakal cepat habis. Dalam dunia ekonomi, konsep ini dikenal sebagai tragedy of the commons.

Inibaru.id - Di sebuah desa nelayan, setiap orang memiliki akses yang sama ke laut. Nggak ada aturan ketat tentang berapa banyak ikan yang boleh ditangkap. Pada awalnya, sistem ini tampak adil. Semua orang bisa memanfaatkan sumber daya yang tersedia.

Namun, seiring waktu, tangkapan semakin menurun. Setiap nelayan berusaha menangkap ikan sebanyak mungkin sebelum orang lain melakukannya. Tanpa disadari, laut yang sebelumnya melimpah perlahan menjadi kosong.

Fenomena ini dikenal sebagai tragedy of the commons, sebuah konsep dalam ilmu ekonomi dan lingkungan yang menjelaskan bagaimana sumber daya bersama dapat rusak ketika setiap individu bertindak demi kepentingannya sendiri.

Sedikit informasi, istilah ini dipopulerkan oleh Garrett Hardin, seorang ekolog dari University of California, Santa Barbara. Dalam artikel berjudul The Tragedy of the Commons yang diterbitkan di jurnal Science pada 1968, Hardin menggambarkan bagaimana sumber daya bersama dapat mengalami eksploitasi berlebihan.

Hal ini bisa terjadi ketika nggak ada aturan yang mengaturnya. Hardin menggunakan ilustrasi padang rumput yang digunakan bersama oleh para peternak untuk menggembala hewan piaraan mereka.

Setiap peternak memiliki insentif untuk menambah jumlah ternaknya karena keuntungan dari satu hewan tambahan dinikmati sepenuhnya oleh pemiliknya. Namun, kerusakan padang rumput akibat kelebihan ternak ditanggung bersama oleh semua pengguna.

Relevan untuk Krisis Global

Logika sederhana ini menciptakan dilema: secara rasional, setiap individu ingin memaksimalkan keuntungan pribadinya. Namun, jika semua orang melakukan hal yang sama, sumber daya bersama akan rusak dan pada akhirnya merugikan semua pihak.

Meskipun contoh awalnya sederhana, konsep ini sejatinya sangat relevan jika diaplikasikan untuk menjelaskan berbagai masalah global.

Eksploitasi berlebihan terhadap biota laut, deforestasi, pencemaran udara, hingga perubahan iklim adalah bentuk modern dari tragedy of the commons. Sumber daya seperti udara bersih, laut, atau hutan berfungsi sebagai “commons” atau ruang bersama yang dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Nah, saat nggak ada mekanisme pengelolaan yang jelas, setiap pihak menjadi merasa memiliki hak untuk menggunakan atau mengeksploitasi sumber daya tersebut sebanyak mungkin sebelum pihak lain melakukannya.

Para ekonom dan ilmuwan lingkungan sering menggunakan konsep ini untuk menjelaskan mengapa masalah lingkungan sulit diselesaikan secara kolektif, sekaligus menjadi sangat relevan untuk mendeskripsikan krisis global yang kita alami saat ini.

Kritik dan Perspektif Baru

Kalgoorlie Super Pit, tambang emas terbuka terbesar di Australia, terletak di dekat Kalgoorlie, Australia Barat. (Greenleft)

Meski sangat berpengaruh, gagasan Hardin juga mendapat kritik dari sejumlah ilmuwan sosial. Salah satu kritik penting datang dari Elinor Ostrom, profesor di Indiana University Bloomington yang kemudian meraih Nobel dalam ilmu ekonomi.

Dalam penelitiannya terhadap berbagai komunitas di dunia; mulai dari sistem irigasi di Asia hingga aktivitas hutan di Amerika Latin, Ostrom menemukan bahwa masyarakat lokal seringkali mampu mengelola sumber daya bersama secara berkelanjutan tanpa harus mengandalkan privatisasi atau kontrol pemerintah yang ketat.

Menurut Ostrom, kunci keberhasilan pengelolaan sumber daya terletak pada aturan lokal yang jelas, pengawasan komunitas, serta sanksi sosial bagi pelanggar.

Dalam bukunya Governing the Commons (1990), dia menunjukkan bahwa tragedy of the commons bukanlah nasib yang nggak terhindarkan. Namun, dengan institusi yang tepat, masyarakat dapat bekerja sama untuk menjaga sumber daya bersama.

Pelajaran bagi Dunia Modern

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap lingkungan global, konsep tragedy of the commons tetap relevan hingga saat ini. Konsep tersebut mengingatkan kita bahwa banyak sumber daya yang tampak “bebas” sebenarnya memiliki batas.

Tanpa aturan dan kerja sama kolektif, insentif individu dapat mendorong eksploitasi berlebihan yang merugikan semua orang. Namun, penelitian seperti yang dilakukan Elinor Ostrom juga menunjukkan bahwa manusia nggak selalu terjebak dalam tragedi tersebut.

Dengan tata kelola yang baik, transparansi, dan kesadaran kolektif, sumber daya bersama dapat tetap terjaga. Maka, dalam hal ini, bisa disimpulkan bahwa siapa yang mengelola sumber daya itulah yang terpenting.

Di tangan masyarakat yang peduli lingkungan dan keberlanjutan, semuanya akan baik-baik saja. Namun, di tangan mereka yang menutup mata pada eksploitasi sumber daya secara berlebihan, kerusakan itu pun menjadi sebuah keniscayaan.

Di sinilah pelajaran penting dari tragedy of the commons: tantangan terbesar bukan sekadar kelangkaan sumber daya, melainkan bagaimana manusia mengelola kepentingan bersama di dalamnya. Sepakat, Gez? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

31 Mei 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: