BerandaPasar Kreatif
Minggu, 5 Mei 2018 09:39

Keelokan Payung Kantong Semen dari Kalibagor

Payung kertas Kalibagor dalam beragam hiasan. (Banyumasnews.com)

Setelah mengalami pasang surut antara kejayaan dan kesuraman, sejak sekitar tiga tahun lalu produk kerajinan payung kertas semen Kalibagor kembali moncer. Keseriusan Pemkab Banyumas, Jawa Tengah dan Pemerintah Desa Kalibagor dalam mengembangkannya pantas diacungi jempol.

Inibaru.id – Selain buah kelengkeng, Desa Kalibagor sejak lama menyandang julukan desa sentra kerajinan payung kertas dari limbah kantong semen. Popularitas payung buatan orang di desa yang berada di Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu sudah bergaung sejak Indonesia belum merdeka.

Tapi kisah kerajinan payung tersebut tak selalu indah, Sobat Millens. Ada saat-saat produksinya mengalami kesuraman.

Menurut Sumanto, salah seorang pengrajin seperti dikutip dari blog goodybagbsd.blogspot.com, payung kertas buatan orang Kalibagor sudah dikenal sejak 1940. Keterampilan itu diwariskan secara turun-temurun hingga mencapai puncak popularitas pada kurun 1970-an.

Laman resmi Kabupaten Banyumas banyumaskab.go.id (28/8/2015) menyebutkan, saat jaya produk kerajinan payung kertas ini dapat ditemui di seluruh Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, hingga di Bali. Tapi sayang, serbuan payung impor berbahan parasut dan berangka besi yang mulai masuk pasaran menyurutkan produksi payung kertas secara drastis.

Para pengrajin tradisional yang dulu menggantungkan hidup dari payung kertas, telah banyak yang meninggalkan pekerjaannya. Kini hanya tersisa beberapa keluarga yang konsisten melestarikan produk kerajinan warisan itu.

Langkah Positif

Langkah positif lalu ditempuh Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan mengesahkan kerajinan payung kertas sebagai salah satu kerajinan asli Desa Kalibagor pada 2015. Pada tahun itu, Banyumas Ekstravaganza 2015  sebagai perayaan hari jadi kabupaten mengusung tema “Payung Kertas Kalibagor dalam Lambaian Batik Banyumasan” dengan mewajibkan peserta membawa payung kertas Kalibagor.

Upaya itu berbuah positif, Millens. Mulai muncul beberapa pengrajin lagi dan produksi membaik. Kejayaan payung kertas Kalibagor yang sempat redup beberapa puluh tahun dibangkitkan kembali, terutama oleh Pemerintah Desa Kalibagor.

Apa yang mereka lakukan? Pada tahun itu juga, payung Kalibagor diikutkan dalam  Festival Payung Indonesia di Solo. Ajang itu jadi momentum penting karena peserta festival dan para turis mancanegara kesengsem terhadap kreasi orang Kaligabor. Payung Kalibagor dipuji sebagai buah kreativitas pemanfaatan limbah. Keren, kan?

Yang lebih keren adalah orang Kalibagor ogah mengubah bahan dan pola pembuatan payung seperti yang telah mereka warisi puluhan tahun lamanya. Meskipun tetap menyediakan beragam pilihan bagi pemesan, pengrajin Kalibagor tetap mempertahankan keaslian yaitu menggunakan limbah kertas semen dan bambu sebagai gagang payung untuk pegangan. Variasi payungnya berupa payung tari, payung untuk hiasan hotel, dan payung untuk kematian.

Kini, meskipun masih didominiasi oleh payung berbahan kantong semen, mulai dikembangkan payung dari kain batik atau rajut. Ukurannya pun beragam, dari yang berdiameter 28 sentimeter, 60 sentimeter, hingga yang terbesar 85 sentimeter.

Menurut Sumanto, seperti dikutip dari bralink.id (11/12/2017), pasar luar Jawa telah bisa ditembus, misalnya Bengkulu dan Medan. Pesanan terbanyak datang dari Bandung, Semarang, Malang, serta wilayah Banyumas.

Oya, satu info tambahan yang penting, payung kertas Kalibagor pernah digunakan sebagai medium kampanye antihoaks oleh Kementerian Komknfo RI.

Pokoknya keren deh! Intinya, bila kamu mengembangkan keterampilan, apa pun itu, kamu perlu memikirkan kekhasannya sebagai nilai diferensialnya. Untuk soal ini, kamu bisa belajar dari cara orang Kalibagor dalam membuat payung-payung kertas nan elok. (IB02/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Pantai Dasun Lasem, Kabupaten Rembang

3 Mar 2026

Saat Takjil War, Waspada dengan Sejumlah Pembungkus Takjil Nggak Sehat Ini

3 Mar 2026

OTT Edisi Ramadan, KPK Bawa Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Jakarta

3 Mar 2026

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Jemaah Maiyah yang Lantang Kritik Program MBG

3 Mar 2026

Tren 'Grading Card', Autentifikasi Kartu Koleksi agar Nilai Jual Lebih Tinggi

3 Mar 2026

Mulai Maret Ini, Anak di Bawah 16 Tahun Dibatasi Main Medsos

3 Mar 2026

Kartu Mebel Jepara, 'Tiket Emas' biar UKM Ukir Naik Kelas

3 Mar 2026

Sejuk dan Alami, Begini Keindahan Air Terjun Kyai Buku Jepara

4 Mar 2026

Sepanjang 2025, Uang Hilang Setara Rp355 Miliar di Jepang Kembali ke Pemiliknya

4 Mar 2026

Opsi 'Sekolah Swasta Gratis' Akan Terintegrasi dengan SPMB 2026 di Kota Semarang

4 Mar 2026

Ponpes Raudhatul Qur'an; Cetak Ratusan Hafiz dengan Biaya Bulanan Murah Meriah

4 Mar 2026

Menguliti Asal Usul Nama Kurma

4 Mar 2026

Tragedi Cinta Mangir-Pembayun; Saat Asmara Jadi Senjata Penakluk Mataram

4 Mar 2026

Aneka Festival Musim Semi di Korea Selatan yang Bisa Kamu Datangi

5 Mar 2026

Benar Nggak Sih Sawit Bakal Menyelamatkan Indonesia dari Krisis Energi Global?

5 Mar 2026

Wajibkan Pencairan Maksimal H-7 Lebaran, Jateng Aktifkan Posko THR untuk Pengaduan

5 Mar 2026

Uji Coba Bus Listrik untuk Transportasi Publik yang Inklusif dan Ramah Lingkungan

5 Mar 2026

Kekerasan Seksual vs Main Hakim Sendiri; Undip Tegaskan Nggak Ada Toleransi!

5 Mar 2026

Siap-Siap Gerah! Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering

5 Mar 2026

Kok Bisa Sih Cadangan Minyak Indonesia Cuma 20 Hari?

6 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: