BerandaPasar Kreatif
Senin, 28 Sep 2025 20:00

Cara Unik Menutup HUT Kudus: Konvoi Vespa menuju Pameran Gajah Purba di Patiayam

Para peserta Scooter Go Green Patiayam 2025 tampak memarkirkan vespa klasik mereka di pelataran Museum Patiayam Kudus. (Inibaru.id/ Anam)

Konvoi ratusan vespa klasik dan pameran pop-up gajah purba di pelataran Museum Patiayam adalah dua hal yang tampak nggak nyambung, tapi rupanya berhasil menjadi cara yang unik untuk menutup Hari Jadi Kudus pada akhir pekan ini.

Inibaru.id - Cuaca yang terik membuat jalanan berdebu, tapi para peserta Scooter Go Green Patiayam 2025 tetap terlihat bersemangat mengikuti konvoi. Pemandangan itu terlihat jelas saat memarkirkan skuter klasik mereka pelataran Museum Patiayam Kudus pada Minggu (28/9/2025) siang.

Di antara hijaunya perbukitan dan museum kecil yang menyimpan jejak purba yang menjadi kebanggaan warga Kudus itu, sebagian dari mereka memilih duduk-duduk dan bersantai di pelataran museum. Sementara sisanya terlihat mendatangi pameran di pelataran museum yang berlokasi di Kecamatan Jekulo itu.

Pameran pop-up interaktif itu cukup diminati pengunjung karena konsepnya unik. Pameran ini memamerkan replika hasil ekskavasi fosil gajah purba Elephas hysudrindichs, tapi ditampilkan dengan cara modern, lengkap dengan infogafik dan video interaktif yang relevan untuk anak muda.

Di area pameran yang merupakan penutup dari rangkaian perayaan Hari Jadi ke-476 Kudus ini, panitia memang mencoba menampilkan pameran dengan cara yang menarik, yang memadukan semangat pelestarian budaya dengan energi komunitas vespa klasik yang terkenal guyub dan penuh solidaritas.

Hasil Penelitian Terbaru

Selepas konvoi, sebagian anggota komunitas pun langsung menyambangi primadona pameran, yakni replika hasil ekskavasi terbaru yang baru selesai diteliti oleh Yayasan Dharma Bakti Lestari bersama Center for Palaeontology and Archaeological Studies (CPAS) pada 2024–2025 ini.

Replika itu memperlihatkan kepala, gigi, tulang belakang, hingga rahang bawah gajah purba yang ditemukan di Dukuh Ngasinan, hanya sekitar 500 meter dari Museum Patiayam.

“Ini pertama kalinya ditampilkan ke publik. Hasil ekskavasi masih di permukaan, dan besar kemungkinan jika digali lebih dalam, akan ditemukan elemen lain yang bisa melengkapi satu anatomi utuh gajah,” jelas Mirza Ansyori dari CPAS.

Dia menambahkan, nggak semua situs purbakala memiliki temuan yang bisa direkonstruksi dengan detail. Karena itu, Patiayam memiliki posisi penting sebagai sumber ilmu pengetahuan.

“Kalau dibandingkan dengan Sangiran, Patiayam punya potensi sama. Harapan kami (situs Patiayam) bisa berkembang dan menjadi kebanggaan Kudus,” ujarnya.

Dihadiri Bupati Kudus

Ditemani wakilnya, Bupati Kudus Samani Intakoris turut hadir meninjau stand pameran. Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa Patiayam adalah aset budaya yang harus dijaga bersama.

“Situs ini sangat kaya. Semoga segera ditetapkan sebagai cagar budaya nasional sehingga bisa lebih membanggakan masyarakat Kudus,” ucapnya.

Pameran pop-up yang menampilkan replika fosil gajah purba hasil temuan peneliti di Situs Patiayam Kudus. (Inibaru.id/ Anam)

Nada optimistis juga datang dari Akhwan, perwakilan Sahabat Lestari yang menekankan bahwa pameran replika ini bukan sekadar hiburan, melainkan momentum besar untuk mengenalkan Patiayam ke dunia.

“Pemikiran ini berawal dari Ibu Lestari Moerdijat selaku Wakil Ketua MPR RI. Karena bertepatan dengan Ulang Tahun Kudus, banyak pihak ikut terlibat; mulai dari pemerintah daerah, OPD, hingga komunitas vespa. Intinya, Patiayam ini kelas dunia, bukan situs kecil,” tegasnya.

Dia menambahkan, isu pelestarian Patiayam bahkan sudah sempat dibawa hingga UNESCO. Maka, jika dikelola dengan serius, situs purbakala ini bukan hanya akan memperkuat identitas Kudus, tetapi juga menjadi sumber pendapatan daerah.

Bupati Ikut Konvoi

Nggak hanya para anggota komunitas vespa, konvoi skuter klasik ini juga diikuti Bupati Kudus yang bahkan sampai harus tiga kali berganti vespa sepanjang perjalanan dari Alun-alun Kudus hingga tiba di Museum Patiayam.

Berangkat sekitar pukul 14.00 WIB, Samani segera menyalami para peserta begitu tiba di museum. Setelah mengajak berjemaah salat Asar, dia bersama rombongan segera meninjau pameran pop-up untukmemungkas perayaan HUT Kudus dengan sejumlah prosesi simbolis.

Di depan para pengunjung yang didominasi warga Kudus, bupati melakukan penyerahan tabloid Patiayam, lalu menanam pohon pule dan alpukat, serta melepaskan empat burung derkuku dan 76 burung perkutut yang merupakan perlambang usia Kudus tahun ini, yakni 476.

Di panggung hiburan, Munamuni Band menyajikan musik yang mengalun ringan, membuat suasana semakin akrab. Sorak sorai penonton pun membuncah selaras dengan irama musik sebelum acara ditutup dengan pembagian doorprize yang dinantikan.

Jejak Purba dan Semangat Kekinian

Scooter Go Green Patiayam 2025 menjadi penanda bahwa situs purbakala bukan sekadar ruang sunyi penuh fosil, melainkan ruang hidup yang bisa dirayakan bersama masyarakat. Dari replika gajah purba yang membuka bab sejarah bumi Kudus, hingga konvoi Vespa yang meneguhkan semangat persaudaraan, acara ini memperlihatkan bahwa masa lalu dan masa kini bisa saling menguatkan.

“Semoga kebersamaan ini membawa kedamaian bagi kita semua. Alhamdulillah acara ini lancar dan menjadi penutup Hari Jadi Kudus yang berkesan,” kata Bupati Kudus sesaat sebelum menutup perhelatan hari itu.

Di ujung sore, replika rahang bawah gajah purba yang terpajang di area pameran seakan memberi pesan bahwa Kudus menyimpan kisah besar, dari masa purba hingga kini, dan setiap penemuannya patut dirayakan dengan saksama.

Maka, tugas generasi sekarang adalah memastikan kisah itu tetap hidup, lestari, dan mendunia. Yang orang Kudus mana suaranya, nih? (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Tumpeng, Simbol Syukur dan Harmoni dalam Tradisi Jawa

12 Mei 2026

Dolar AS Sentuh Rp17.500, Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

13 Mei 2026

Rahasia Sehat dari Isi Piring Warna-Warni

13 Mei 2026

Jamu, Warisan Leluhur yang Tetap Relevan di Tengah Gaya Hidup Modern

14 Mei 2026

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: