BerandaIslampedia
Selasa, 11 Jun 2018 20:10

Bantuan Spesial Pondok Pesantren Darut Tasbih untuk Para Penyandang Gangguan Jiwa

Pelaksanaan salat berjamaah di Pondok Pesantren Darut Tasbih, Banten. (Viva.co.id)

Di Banten, ada sebuah pesantren bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Di sana mereka direhabilitasi dan diajak mengenal Tuhannya.

Inibaru.id – Adalah Rafiudin, pria di balik berdirinya pesantren tersebut. Memiliki nama Pesantren Darut Tasbih, tempat tersebut kini dikenal sebagai pesantren rahabilitasi bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa dan keterbelakangan mental.

Awalnya, nggak ada niat bagi Rafiudin untuk membangun sebuah pesantren rehabilitasi. Dia hanya berkeinginan untuk membantu sesama agar para penderita gangguan jiwa tersebut bisa hidup layak.

Berawal pada tahun 1986 KH Rafiudin membawa pulang sejumlah orang yang terlantar di pinggir jalan yang mengalami gangguan jiwa.

''Hati saya benar-benar sedih dan kasihan ketika melihat orang-orang itu diejek dan dihina oleh anak-anak. Saya membawa mereka ke rumah, saya mandiin, saya kasih makan, dan saya ajak ngobrol,'' ungkap Rafiudin, Senin (4/06/2018).

Rafiudin mengungkapkan bahwa penderita gangguan jiwa juga sama seperti kita, mempunyai kehidupan yang sama dan layak seperti orang normal.

''Saya perlakukan mereka seperti kakak, orang tua, ataupun seperti adik saya sendiri. Mereka kalau diajak ngobrol juga sama seperti ngobrol sama orang normal, cuma terkadang memang mempunyai tingkat khayal yang berlebihan,'' ungkap Rafiudin.

Rafiudin menjelaskan pesantren khusus gangguan jiwa ini baru terbentuk pada tahun 2000. Dan berdiri di atas lahan seluas satu hektar, tepatnya di Gelam Jaya, Pasar Kemis, Tangerang, Banten.

Ditulis Kompas.com (08/06/2018), Rafiudin beberapa kali berhasil menyembuhkan mereka hingga normal, sampai pada akhirnya laki-laki yang sudah berumur setengah abad itu membuat sebuah majelis taklim khusus untuk orang-orang yang mempunyai keterbelakangan mental.

Gratis Bagi yang Kurang Mampu

Rafiudin mengratiskan pasien yang kurang mampu secara ekonomi, tetapi untuk orang yang mampu dikenakan biaya sebesar Rp 3 Juta.

''Para pasien yang mempunyai uang lebih saya kenakan tarif. Tarif ini akan saya subsidi silang untuk pasien yang kurang mampu. Semua biaya digunakan untuk konsumsi pasien. Untuk para penjaganya saya gaji dari uang pribadi saya, hasil ceramah dan usaha,'' ungkap Rafiudin.

Menurut KH Rafiudin ada tiga kategori pasien yang datang ke pesantren. Pertama, mengalami gangguan kejiwaan karena stres, kedua karena narkoba, dan ketiga karena gangguan mahluk halus jin. Para pasien ini setiap harinya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan seperti beribadah, mengaji, dan mendengar tausiyah.

 

Para santri sedang mengaji. (kompas.com / Andreas Lukas Altobeli)

Nah, untuk memaksimalkan penyembuhan, pesantren ini hanya membatasi untuk 50 pasien saja yang dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama, pasien berada di ruangan yang dijaga ketat dengan petugas pesantren. Menurut Rafiudin, pasien kelas pertama ini merupakan para penderita gangguan jiwa yang sulit dikontrol jadi harus dijaga ketat.

''Harus dijaga ketat, takut berantem satu sama lain. Kegiatan ibadah seperti solat masih kita bimbing," tegasnya.

Berbeda dengan kelas pertama, kelas kedua ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah bisa dikontrol. Selain itu, Millens, rata-rata pasien juga sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik lo.

Bagaimana pun kondisi para pasiennya. Rafiudin selalu membuka diri untuk membantu mereka. Dia berharap para pasiennya bisa sembuh dengan kegiatan religius di pesantren. (IB06/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Penelitian Terbaru Ungkap Fakta Baru Manusia Hobbit Flores

8 Jul 2026

Muhammadiyah Resmikan KucingMu, Kampanyekan Kepedulian terhadap Hewan

9 Jul 2026

Pemerintah Tetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan, Ini Dasar Pertimbangannya

10 Jul 2026

BRIN Targetkan Luncurkan Satelit NEO-1 pada Januari 2027, Tonggak Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

13 Jul 2026

Indonesia dan India Berkolaborasi Konservasi Candi Prambanan, Perkuat Pariwisata Budaya Kelas Dunia

14 Jul 2026

Warisan Sejarah Indonesia Kembali, Dua Arca Buddha Kuno Dipulangkan dari AS

14 Jul 2026

4 Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Makanan Berbahan Tepung Tapioka Terbaik 2026 Versi Taste Atlas

15 Jul 2026

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: