BerandaInspirasi Indonesia
Sabtu, 17 Apr 2026 15:28

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

Meski tarif cukai terus naik, riset CISDI menunjukkan rokok di Indonesia tetap terjangkau selama satu dekade terakhir. (Dok. CISDI)

Riset CISDI menemukan bahwa selama 10 tahun terakhir kenaikan cukai rokok belum mampu menurunkan keterjangkauan maupun konsumsi, sehingga diperlukan reformasi struktur dan tarif yang lebih komprehensif.

Inibaru.id - Setiap tahun, harga rokok memang tampak naik. Namun di balik angka-angka itu, ada satu hal yang nyaris tak berubah: keterjangkauannya.

Riset terbaru Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) bersama Johns Hopkins University (JHU) menunjukkan bahwa sepanjang 2010 hingga 2024, kebijakan Cukai Hasil Tembakau (CHT) di Indonesia belum cukup kuat menekan konsumsi. Kenaikan tarif yang selama ini dilakukan ternyata masih tertinggal dari laju peningkatan daya beli masyarakat. Dengan kata lain, rokok tidak pernah benar-benar menjadi mahal.

Temuan ini terlihat jelas melalui indikator Relative Income Price (RIP), yang membandingkan harga rokok dengan tingkat pendapatan. Selama satu dekade terakhir, angka RIP rokok di Indonesia stagnan di kisaran 3 persen. Artinya, untuk membeli 100 batang rokok, masyarakat hanya perlu mengalokasikan sekitar 3 persen dari pendapatan tahunan mereka.

“Secara nominal harga memang naik, tapi secara riil tetap terjangkau. Kenaikan harga selalu terkejar oleh pertumbuhan pendapatan,” ujar I Dewa Gede Karma Wisana, peneliti CISDI sekaligus Direktur Lembaga Demografi FEB UI.

Situasi ini tidak lepas dari kompleksitas struktur cukai yang berlaku saat ini. Dengan delapan lapisan tarif, pasar rokok di Indonesia memiliki rentang harga yang lebar. Celah ini dimanfaatkan melalui fenomena downtrading, ketika perokok beralih ke produk yang lebih murah, terutama Sigaret Kretek Tangan (SKT).

Health Economics Research Associate CISDI, Zulfiqar Firdaus, menilai rendahnya tarif cukai SKT menjadi salah satu titik lemah utama. Kondisi ini membuat upaya pengendalian konsumsi tidak berjalan optimal.

Padahal, sensitivitas masyarakat terhadap harga sebenarnya cukup tinggi. Riset tersebut menunjukkan bahwa penurunan keterjangkauan rokok sebesar 10 persen dapat menurunkan konsumsi hingga 7,7 persen.

Artinya, kebijakan harga tetap menjadi instrumen penting, selama dirancang dengan tepat.

Perbaikan Struktur

Simulasi yang dilakukan dalam riset ini memperkuat temuan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa kenaikan tarif saja tidak cukup jika tidak disertai perbaikan struktur. Skenario paling optimal adalah menyederhanakan lapisan cukai dari delapan menjadi enam, serta menaikkan tarif SKT sebesar 20 persen, lebih tinggi dibandingkan SKM yang diusulkan naik 10 persen.

Dalam dua tahun, skenario ini diproyeksikan mampu meningkatkan penerimaan negara hingga Rp63 triliun, menurunkan prevalensi merokok sebesar 1,6 persen, serta mencegah sekitar 292 ribu kematian dini akibat rokok.

“Hasil ini menegaskan bahwa desain kebijakan sama pentingnya dengan besaran tarif. Simplifikasi, terutama pada SKT, menjadi kunci,” kata Dewa.

Meski demikian, reformasi cukai rokok bukan perkara sederhana. Anggota Dewan Ekonomi Nasional, Arief Anshory Yusuf, menyebut kebijakan ini sebagai agenda yang krusial sekaligus rentan, karena dampaknya baru terasa dalam jangka panjang.

Karena itu, ia menekankan pentingnya proses deliberasi yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pembuat kebijakan, peneliti, hingga media.

Sementara itu, Founder dan CEO CISDI, Diah Saminarsih, mengingatkan bahwa beban ekonomi akibat konsumsi rokok terus membesar. Pada 2019 saja, nilainya diperkirakan mencapai Rp410 triliun.

Jika tidak segera ditekan, angka tersebut berpotensi terus menumpuk dan menjadi hambatan serius menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

Dari sisi perencanaan, Kementerian PPN/Bappenas mengakui bahwa sejumlah target dalam RPJMN 2025-2029, termasuk reformasi CHT, belum berjalan sesuai harapan. Meski arah kebijakan sudah tercantum, implementasi fiskal dinilai belum sepenuhnya mengarah ke sana.

Berangkat dari berbagai temuan tersebut, CISDI mendorong tiga langkah utama.

Pertama, memastikan harga rokok benar-benar semakin tidak terjangkau, dengan kenaikan yang melampaui inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, mempercepat reformasi CHT melalui peta jalan yang jelas dan berkelanjutan. Ini mencakup kenaikan tarif secara konsisten, penyederhanaan struktur tarif, serta intervensi khusus pada SKT melalui kenaikan cukai yang lebih agresif.

Ketiga, memperkuat regulasi non-fiskal. Mulai dari perluasan Kawasan Tanpa Rokok, penerapan kemasan standar tanpa identitas merek, pelarangan total iklan dan promosi, hingga penerapan sistem pelacakan untuk menekan peredaran rokok ilegal.

Pada akhirnya, persoalan rokok bukan sekadar soal pilihan individu, tetapi juga soal bagaimana kebijakan publik membentuk lingkungan yang menentukan pilihan itu.

Dan setelah satu dekade, riset ini memberi satu pesan yang cukup jelas: tanpa reformasi yang lebih berani dan terstruktur, rokok akan tetap mudah dijangkau, dan dampaknya akan terus kita tanggung bersama. (Ike/ E01)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Congklak, Permainan Tradisional Tertua yang Kini Mulai Dilupakan

29 Mei 2026

Mengenal Thudong, Perjalanan Spiritual Para Biksu yang Selalu Mencuri Perhatian Saat Waisak

2 Jun 2026

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: