BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 5 Nov 2019 12:43

Ikut Katrol Perekonomian dan Wisata Jepara, Kopi Diolah Secara Serius

Luluk, pengusaha kopi asal Desa Kelet, Kecamatan Keling menunjukkan biji kopi robusta yang telah disangrai dari petani Desa Tempur. (Inibaru.id/ Pranoto)

Jika diolah secara serius bukan nggak mungkin kopi memberi keuntungan besar untuk sektor pariwisata di Jepara.

Inibaru.id - Kabupaten Jepara, Jawa Tengah nggak hanya masyhur dengan kerajinan kayunya. Tempat kelahiran pahlawan emansipasi perempuan Kartini ini juga memiliki produk kopi yang nikmat. Nggak percaya? Yuk berkenalan dengan jenis kopi khas lereng Gunung Muria ini.
 
Tanaman kopi di Jepara sebenarnya sudah lama dibudidayakan oleh petani-petani di lereng Gunung Muria di sisi Jepara. Kopi banyak tersebar di desa-desa yang ada di wilayah Kecamatan Kembang, Donorojo, dan Keling atau disingkat Bangdoling.
 
Ada 12 desa yang memiliki kebun kopi. Empat di antaranya memiliki potensi produksi paling besar yakni Desa Tempur, Desa Damarwulan, Desa Kunir, dan Watuaji.
 
Camat Keling Samiadji menyebut produksi biji kopi paling banyak ada di Desa Tempur. Di desa ini produksi pertahun bisa mencapai 800-860 ton, lo. Posisi kedua disusul Desa Damarwulan dengan 500-550 ton per tahun, kemudian Desa Kunir dengan 250-280 ton, dan terakhir Desa Watuaji dengan 100-150 ton per tahun.
 
"Kalau diperkirakan, totalnya ada 1.800 ton per tahun," ujarnya beberapa saat lalu.
 
Di Desa Tempur, sebagian besar petaninya adalah jenis robusta. Seperti Anwar, dia mengaku memiliki 800 batang pohon kopi jenis robusta yang dapat menghasilkan hingga lima kwintal biji kopi.
 
Dia menyebut, mulai merasakan kualitas panen yang unggul semenjak 2012. Karena sebelum tahun tersebut, kualitas pohon kopi yang ada di desanya menurun dan harga kopi yang anjlok.
 
Hal itu karena adanya teknologi pembaharuan varietas yang dilakukan bersama Dinas Pertanian Jepara.
 
"Dulunya kopinya masih lokal, sekarang menjadi varietas Robusta TS 28," ujarnya.
 
Seorang pegiat kopi Jepara Fatturachman mengatakan, geliat kopi asli Jepara di mulai sekitar 2010-2011. Pada kurun waktu tersebut mulai banyak penikmat kopi yang peduli akan kualitas kopi yang banyak dipengaruhi oleh cara panen dan pascapanen biji kopi.
 
Dia menyebut, sebelum tahun tersebut, produksi kopi petani lebih banyak dijual ke pengepul yang bekerjasama dengan pabrik besar. Selain itu, pengetahuan akan pentingnya proses petik kopi yang baik beserta pemrosesannya masih minim sekali. Hal itu berdampak pada harga jual green beans (biji kopi mentah) masih rendah. Sekilo green beans dijual dengan harga belasan ribu saja.
 
Setelah 2010, tren menikmati kopi mulai muncul. Hal itu berimbas pada pengetahuan dan keinginan belajar para petani kopi yang meningkat.
 
Sejak itulah, petani kopi di Jepara mulai memerhatikan proses petik kopi dan pemrosesannya. Hanya buah kopi yang telah merah yang dipanen. Otomatis, hal itu berpengaruh pada harga green beans yang mulanya hanya dihargai belasan ribu, kini dipatok mulai Rp 35 ribu per kilogram.
 
Selain proses panen, perhatian pada pemrosesan kopi pun meningkat. Petani kini menjemur kopi menggunakan alas agar nggak terpengaruh aroma tanah ataupun lantai semen. Di samping itu, banyak konsumen yang kini memilih kopi non sachet, sebagai pilihan minuman. 

Pengembangan Wisata

Perkembangan kopi juga turut mengatrol sektor lain, lo. Di antaranya perekonomian dan pariwisata lokal. Kepala Desa Tempur, Sutoyo menyebut, banyak kafe-kafe di wilayahnya yang menjual kopi berikut pemandangan sebagai daya tarik. Hal itu diakuinya mengerem arus urbanisasi warganya.
 
Saat ini seenggaknya ada tiga kafe kopi yang berdiri di wilayah tersebut. Selain menawarkan seduhan kopi, pemandangan alam desa di lereng Gunung Muria itu, juga menjadi nilai tambah.
 
Dia menyebut, di daerahnya ada sekitar 35 persen warga yang menjadi pekerja di luar negeri. Namun, kini jumlahnya berkurang.
 
"Kalaupun ada, orangnya ya itu-itu saja. Itu sedikit banyak berkat dari pengembangan tanaman kopi. Dari 1.320 kepala keluarga, rerata memiliki tanaman kopi, yang membedakan hanya luas tanah garapan," jelas Sutoyo.
 
Kini, Desa Tempur, sudah jauh dari kesan tertinggal. Di sana-sini banyak di temui kafe yang dikunjungi banyak pelancong. Desa ini bahkan kondang melalui unggahan netizen melalui instagram.
 
Seperti Anggun Cita (23), warga asal Pati itu mengaku sengaja meluangkan waktu datang ke Desa Tempur untuk menikmati pemandangan alamnya. Mengambil foto di spot foto di kafe Ndank Ngopi.
 
"Ke sini menemani teman. Tahu tempat ini lewat postingan Instagram," pungkas Anggun.
 
Kalau kamu sudah pernah cicipi kopi dari lereng Muria belum, Millens? (Pranoto/E05)
 

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: