BerandaInspirasi Indonesia
Jumat, 6 Apr 2023 14:00

Komunitas Sahabat Mata, Support System Para Tunanetra Semarang

Amin Hambali, anggota Komunitas Sahabat Mata, saat berada di ruang siaran radio. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Berkenalan dengan Komunitas Sahabat Mata yang jadi penopang, pendukung, penyemangat, dan support system para tunanetra di Semarang, yuk!

Inibaru.id - Bagi Amin Hambali, Sahabat Mata bukan semata komunitas atau rumah untuk berteduh, tapi juga tempat untuk terus berkembang dan bertumbuh. Masih lekat dalam ingatannya gimana komunitas untuk para penyandang tunanetra Kota Semarang ini "menyelamatkan" hidupnya.

Sebelum tinggal di Rumah Sahabat, "markas" Komunitas Sahabat Mata, pada 2018, hidup Amin memang nggak menentu. Dia terus berpindah-pindah tempat tinggal untuk bekerja sejak lulus SMA pada 2012. Dia baru menetap di Semarang setelah bergabung dengan Sahabat Mata.

Bahkan, lelaki penyandang tunanetra tersebut mengaku, kesempatan mengenyam bangku kuliah yang dijalaninya sekarang ini nggak lepas dari dorongan sang pendiri Sahabat Mata, yakni Basuki. Bahkan, seluruh biaya kuliah Amin dibiayai komunitas yang berpusat di Kecamatan Mijen, Kota Semarang itu.

"Wah, gila! Senang sekali, mimpi saya dari dulu untuk kuliah akhirnya terwujud!" terang Amin di Rumah Sahabat, belum lama ini. "Penginnya ambil Psikologi, tapi di UIN Walisongo Semarang akses untuk penyandang disabilitas baru jurusan KPI (Komunikasi dan Penyiaran Islam) saja."

Amin mengaku bercita-cita menjadi penulis. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, dia juga bergabung dengan koran kampus di Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fakdakom), yakni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Missi. Dia juga rajin mencurahkan kegundahannya melalui tulisan cerita pendek.

"Komunitas Sahabat Mata sangat membebaskan saya untuk mengembangkan bakat dan minat, termasuk keinginan untuk menulis," ujar pemuda kelahiran Kabupaten Semarang ini.

Keseriusan Amin menjadi penulis bukanlah kaleng-kaleng. Dia mengaku pernah menjuarai sebuah lomba menulis melalui karya cerita pendek yang dibuatnya pada 2022. Pemuda bersahaja ini meraih Juara I untuk kategori cerpen "Paling Menyentuh".

"Saya tulis cerpen yang mengisahkan tentang masyarakat yang belum open minded terhadap penyandang disabilitas," kata dia.

Dorongan untuk Berdaya

Sopyan, anggota Komunitas Sahabat Mata, sedang menunjukkan kemampuannya membaca Al-Quran Braille. (Inibaru.id/ Fitroh Nurikhsan)

Nggak hanya Amin, menurut pendiri Komunitas Sahabat Mata Basuki, tiap anggota komunitas ini memiliki kesempatan yang sama untuk terus berkembang dan berdaya, termasuk melanjutkan pendidikan.

Dia mengatakan, saat ini ada empat anggota yang dikuliahkan. Mereka kuliah Universitas Dian Nuswantoro dan UIN Walisongo Semarang. Untuk biayanya, ada yang sepenuhnya ditanggung Sahabat Mata, ada yang sebagian masih disokong orang tua mereka.

"Kami ingin membuka ruang baru. Kalau bukan dari kita, siapa lagi?" ujar Basuki.

Saat mendirikan Komunitas Sahabat Mata pada 1 Mei 2008, tujuan lelaki paruh baya ini memang untuk mendorong para penyandang tunanetra agar lebih berdaya dan berkeinginan untuk mengejar impian mereka.

"Untuk mewujudkan cita-cita ini, kami sediakan berbagai fasilitas penunjang seperti tempat siaran radio, perangkat komputer, dan alat cetak Al-Quran braille," terangnya. "Saya ingin kami semua punya kemampuan untuk hidup mandiri."

Menyambung perkataan Basuki, salah seorang anggota Komunitas Sahabat Mata Sopyan mengaku senang bisa menjadi bagian dari komunitas tersebut. Berkat Sahabat Mata, dia mengatakan semakin mahir membaca Al-Quran braille, bahkan kini dipercaya untuk mengajari kawan-kawannya.

"Saya mengajar ngaji sekitar satu jam sehari. Tapi, sebelum menggunakan Al-Quran braille, mereka harus mengenal lebih dahulu simbol huruf hijaiyah dari modul yang telah disusun," tandas Sopyan.

Untuk bertahan, seseorang memang nggak bisa hidup sendirian. Butuh penopang, pendukung, dan penyemangat, terlebih untuk mereka yang acap dipandang sebelah mata karena dianggap nggak sempurna. Semangat terus, Sahabat Mata! (Fitroh Nurikhsan/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: