BerandaInspirasi Indonesia
Rabu, 14 Jul 2020 12:37

Hoegeng Dalam Kenangan: Si Jujur Versi Gus Dur yang Nggak Mau Dimakamkan di TMP Kalibata

Jenderal Polisi (purn) Hoegeng Imam Santoso. (Kompas.id)

Pernah menjadi kepala polisi dan pejabat publik di pemerintahan, nama Hoegeng tetap harum versi Gus Dur, bahkan jadi simbol kejujuran di Indonesia. 14 Juli 2004 lalu, dia yang berwasiat untuk nggak semakam dengan pelaku korupsi di Pertamina, Haji Thahir, akhirnya dimakamkan di permakaman umum di Giri Tama, Kabupaten Bogor

Inibaru.id – Kematian Jenderal Polisi (purn) Hoegeng Imam Santoso pada 14 Juli 2004 lalu tentu menjadi kehilangan yang besar bagi negeri ini. Dikenal sebagai polisi paling jujur di Indonesia, hingga tepat 16 tahun kematiannya hari ini, mungkin belum ada yang menggantikan posisinya.

Bahkan, dalam kematiannya, Hoegeng dikenal masih "lantang" lantaran enggan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, karena di sana ada H Ahmad Thahir, seorang koruptor yang telah terlanjur dikuburkan sebagai pahlawan.

Perlu kamu tahu, Thahir sebelumnya diduga menerima suap sebagai pemulus pembangunan PLTU dan sarana pelabuhan bongkar muat PT Krakatau Steel.

Seperti Mohammad Hatta yang pantang dimakamkan di Kalibata, sebelum meninggal Hoegeng pun berwasiat untuk dikubur di tempat lain. Wasiat itu pun dilaksanakan. Oleh keluarga, Hoegeng dikuburkan di permakaman biasa di Giri Tama, Kabupaten Bogor.

Si Jujur Versi Gus Dur

Gus Dur yang menyebut-nyebut Hoegeng sebagai Polisi jujur. (Detik.com)

“Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng,” kelakar Gus Dur yang baru-baru ini kembali populer. Yap, bagi Presiden ke-4 RI itu, Hoegeng memang setinggi itu.

Lelaki kelahiran Pekalongan, 14 Oktober 1921 itu merupakan sosok legendaris yang menjabat sebagai kapolri pada 1968-1971. Sosoknya dikenal sebagai polisi yang bersih, jujur, berintegritas, antikorupsi dan sederhana oleh kerabat-kerabatnya.

Meski tokoh kepolisian Orde Lama, dia adalah satu-satunya jenderal polisi yang kerap disanjung oleh Gus Dur sebagai polisi yang jujur.

Dalam buku Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan, Hoegeng dijelaskan sebagai sosok jenderal yang berdedikasi menjalankan tugasnya dengan menolak suap di institusi kepolisian maupun lembaga negara yang lain.

Ya, selain menjabat sebagai Kapolri ke-5, Hoegeng juga sempat mengemban tugas sebagai Kepala Jawatan Imigrasi (1960), Menteri Iuran Negara (1965), serta Menteri Sekretaris Kabinet (1966).

Tugas-tugasnya tersebut diembannya setelah selesai bertugas sebagai Kepala Dinas Keamanan Negara (DPKN) wilayah Jawa Timur serta Kepala Direktirat Reserse Kriminal Polda Sumatera Utara di Medan.

Di Medan, Hoegeng menghadapi tantangan berat. Dia menolak dengan halus rumah beserta kendaraan yang ditujukan untuk keluarganya. Selama hidup, Hoegeng memang dikenal sebagai sosok sederhana meskipun menempati jabatan-jabatan strategis.

Sejak berhenti sebagai Kapolri pada 1971 hingga 2001, uang pensiun Hoegeng hanya Rp 10 ribu per bulan dengan berbagai potongan. Bahkan, sebagai orang nomor satu di Korps Bhayangkara saat itu, Hoegeng nggak segan turun ke lapangan untuk megatur lalu lintas jika kebetulan terjadi kemacetan.

Kasus-Kasus Besar yang Ditangani Hoegeng

Masa tua Hoegeng. (Medcom)

Keterlibatan Hoegeng dalam menangani kasus-kasus besar Keluarga Cendana dinilai turut berperan dalam berakhirnya karier Hoegeng sebagai Kapolri. Konon, dia juga sempat beberapa kali mendapat "masalah" selama Orde Baru.

Salah satu kasus populer yang ditangani Hoegeng saat menjabat sebagai Kapolri adalah penyelundupan 3.000 mobil. Kala itu, pada 1968, sedang marak-maraknya penyelundupan mobil mewah ke Indonesia tanpa membayar bea masuk.

Dari ratusan mobil yang berhasil diamankan, ribuan lainnya lolos akibat keterlibatan oknum-oknum aparatur yang juga terlibat dalam kasus Roby Tjahyadi.

Hoegeng akhirnya diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 Oktiber 1971 dan ditawari menjadi Duta Besar di Kerajaan Belgia yang kemudain ditolaknya. Banyak yang berspekulasi bahwa hal tersebut adalah taktik Soeharto untuk menempatkan Hoegeng di luar Indenesia. Kala itu Soeharto juga menegaskan sudah nggak ada jabatan untuk Hoegeng di Indonesia.

Serah terima jabatan Kapolri antara Jenderal Hoegeng Iman Santoso kepada penggantinya Moh Hassan oleh Presiden Soeharto pada 1971. (Kompas/Pat Hendranto)

Setelah jabatannya berakhir, Hoegeng dikenal getol mendalami seni tarik suara dengan tampil di beberapa acara musik The Hawaiian Seniors di TVRI. Dia juga kerap menghabiskan waktunya untuk melukis. Hoegeng kemudian bergabung dengan kelompok "Petisi 50-an" pada 1980-an yang kerap mengkritisi rezim Soeharto.

Hoegeng akhirnya tutup usia pada 14 Juli 2004 setelah menderita stroke sekian lama. Keteladanan Hoegeng membuat namanya tak lekang oleh zaman. Meski Gus Dur juga sudah tiada, Hoegeng tak kehilangan penyanjungnya! (CNN/IB27/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: