BerandaHits
Sabtu, 13 Feb 2026 14:56

Tanah Gerak Jangli dan Retakan Menganga yang Paksa Belasan Warga Mengungsi

Salah satu rumah warga di Kampung Sekip yang terdampak tanah gerak. (Inibaru.id/ Sundara)

Tanah gerak Jangli Semarang menyisakan retakan menganga yang memutus akses menuju Undip serta merusak belasan rumah di Kampung Sekip yang memaksa para warganya mengungsi untuk sementara waktu.

Inibaru.id - Bencana tanah gerak yang menimpa Kampung Sekip di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, membuat akses jalan utama dari Jangli ke Kampus Universitas Diponegoro (Undip) Tembalang terputus.

Lubang besar yang menganga di badan jalan membuat jalur penghubung Jangli-Undip benar-benar nggak bisa dilalui kendaraan, baik roda empat maupun dua. Nggak berhenti di situ, tanah gerak juga mengakibatkan rumah di sekitar tanah gerak rusak, bahkan roboh.

Lantai dan tembok yang retak atau patah menjadi pemandangan yang mengkhawatirkan di Kampung Sekip. Terpantau pada Rabu (11/2/2026), warga tampak bergotong royong membongkar rumah yang rusak atau kondisinya mengkhawatirkan untuk mengambil material bangunan yang bisa diselamatkan.

Slamet Riyadi, salah seorang warga yang terdampak tanah gerak Jangli mengaku memilih merobohkan rumahnya sendiri karena retakan yang tergurat di bangunan tersebut kian parah. Dia khawatir fondasi rumahnya runtuh sewaktu-waktu jika dibiarkan.

Memilih Mengungsi

Lelaki paruh baya itu mengatakan, sudah tiga hari dia nggak berani tinggal di rumahnya. Dia memilih mengungsi di musala sebab setiap kali turun hujan tanah terasa masih bergerak-gerak. Hal itu membuatnya ngeri, waswas, dan mengkhawatirkan keselamatan keluarganya.

"Kandang ternak kambing saya yang berada di belakang rumah itu roboh. Semua ternak sudah saya pindahkan," ujar Slamet saat ditemui Inibaru.id, Rabu (11/2). "BPBD mengatakan, rumah saya sudah tidak layak untuk ditempati. Lebih baik dirobohkan (untuk menyelamatkan material)."

Kondisi rumah Slamet Riyadi yang terpaksa dirobohkan akibat terdampak tanah gerak. (Sundara/Inibaru.id)

Slamet sejatinya merasa sayang jika harus melihat bangunan berukuran 4x10 meter yang merupakan rumah warisan orang tuanya itu rata dengan tanah. Namun, menurutnya upaya penyelamatan material lebih penting agar bisa dipakai untuk membangun rumah baru di tempat lain.

"Goncangan-goncangan tanah gerak itu masih saya rasakan. Sekitar rumah saya semalam masih terdengar bunyi pletok-pletok. Sudah jelas tanah ini memang bergerak," terangnya.

Belasan Rumah Rusak

Ketua RT 7 Kampung Sekip, Joko Sukaryono mengatakan, tanah gerak di Jangli sudah berlangsung sekitar dua minggu terakhir. Patahan tanah di permukiman tersebut semakin kentara saat hujan deras mengguyur wilayah itu.

"Sekitar 4-5 Februari kami mulai merasakan guncangan. Pergerakan tanah makin parah saat hujan turun. Kalau hujan terus, pergerakannya pasti semakin signifikan," jalasnya.

Menurut Joko, tanah gerak telah merusak sekitar 15 rumah warga. Lantai rumah retak dan menggelembung. Rawan runtuh. Maka, bangunan yang kondisinya membahayakan terpaksa dibongkar untuk menyelamatkan material bangunan yang bisa dipakai, termasuk dua rumah dan balai RW yang jadi prioritas.

"Ada satu rumah yang langsung roboh akibat tanah gerak. Semula Jalan Jangli-Undip ketika awal-awal ada tanah gerak masih bisa dilalui kendaraan, tapi sekarang kerusakannya semakin parah," resahnya.

Lahan Milik TNI

Kondisi Jalan Jangli-Undip yang rusak parah akibat terdampak tanah gerak. (Inibaru.id/ Sundara)

Sebagian besar rumah terdampak tanah gerak berdiri di lahan milik TNI AD. Kondisi tersebut membuat warga khawatir akan masa depan tempat tinggal mereka. Karena itulah Joko berharap pihak TNI dan Pemkot Semarang bisa segera memberikan solusi bagi warga terdampak tanah gerak yang terjadi kali ini.

"Fenomena tanah gerak sekarang ini sebenarnya tahap kedua. Sekitar 25 tahun lalu juga pernah terjadi, tapi dampaknya tidak separah sekarang," paparnya. "Kami harap segara ada solusi, sebab sebagian besar warga berpenghasilan menengah ke bawah. Mereka tidak punya pilihan tempat tinggal selain rumah-rumah itu."

Menurut Joko, wilayah yang terdampak tanah gerak diperkirakan menjalar hingga radius sekitar 70 meter ke bagian bawah permukiman. Pergerakan tanah masih berlangsung hingga saat ini dengan pergeseran sekitar dua meter, sehingga lebar retakan mencapai sekitar lima meter; masih di wilayah RT 7 RW 1.

"Harapan kami, segera direlokasi ke tempat yang lebih aman, tapi kalau bisa masih ada di sekitar tanah yang sama. Meski luasnya terbatas, masih ada lahan yang memungkinkan untuk merelokasi sekitar 15 rumah yang terdampak di sekitar sini," curhatnya.

Merelokasi belasan rumah memang bukan perkara mudah, tapi warga yang khawatir karena rumahnya nggak lagi aman untuk ditinggali nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Menurutmu, adakah solusi instan lain selain mengungsi, Gez? (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Tanggapan Warga Terkait Kemungkinan Harga BBM Naik pada 1 April 2026

31 Mar 2026

Benar Nggak Sih Mengaktifkan Mode Pesawat Bikin Durasi Ngecas HP Jadi Lebih Cepat?

31 Mar 2026

April Mop atau April Panas? Intip Bocoran Cuaca BMKG Sepekan ke Depan!

31 Mar 2026

Stres Kok Sampai Meriang? Mari Kenalan dengan Demam Psikogenik

31 Mar 2026

Persiapan Menghadapi Fenomena Alam Godzilla El Nino pada Musim Kemarau Nanti, Apa Saja?

1 Apr 2026

Memakai BBM yang Ditimbun Lama, Berbahaya Buat Kendaraan Nggak, Ya?

1 Apr 2026

Legenda Azan Pitu di Cirebon; Kisah Para Muazin Melawan Ilmu Hitam

1 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: