Inibaru.id - Setiap salat Jumat, azan pertama di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berada di kompleks Keraton Kesepuhan Cirebon, nggak hanya dikumandangkan oleh satu orang. Tujuh muazin berdiri berjejer, menyerukan panggilan salat secara bersamaan.
Masyarakat Cirebon menyebut tradisi yang jarang ditemukan di masjid lain ini sebagai Azan Pitu. Lebih dari sekadar panggilan salat, azan pitu dianggap sebagai simbol kemenangan atas gangguan gaib yang konon pernah mengancam penyebaran Islam di Kota Udang tersebut.
Menurut Subhan Nur, pegiat sejarah dari komunitas Cirebon History, ada beberapa versi kisah di balik azan tujuh ini. Intinya, semua itu berkaitan erat dengan perjuangan syiar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
"Azan pitu atau tujuh muazin ini punya beberapa versi cerita. Ketika Islam belum berkembang pesat, masjid Sang Cipta Rasa dibangun sebagai sarana syiar. Setiap azan hanya dikumandangkan oleh satu muazin," ucap Subhan, belum lama ini.
Pada abad ke-15, syiar Islam yang dilakukan Sunan Gunung Jati tergolong pesat. Banyak warga setempat berbondong-bondong memeluk Islam dan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Gangguan Ilmu Hitam
Namun, dakwah Sunan Gunung Jati nggak selalu berjalan mulus dan aman dari gangguan. Subhan menyebut, pada masa itu muncul tokoh antagonis bernama Menjangan Wulung, seorang pendekar ilmu hitam yang konon menggunakan sihir untuk melemahkan para muazin.
"Siapa pun yang mencoba mengumandangkan azan, pasti langsung jatuh sakit. Menjangan Wulung tidak senang dengan perkembangan Islam," tegas Subhan. "Dia ingin menghancurkan para muazin, sampai membuat mereka sakit dengan sihir dan ilmu-ilmu gaib."
Kondisi ini membuat Sunan Gunung Jati bermunajat memohon petunjuk kepada Allah. Strategi pun muncul, yakni dengan menambah jumlah muazin yang mengumandangkan azan menjadi beberapa orang, hingga akhirnya berjumlah tujuh orang.
"Azan dua muazin masih jatuh. Azan tiga juga sakit. Sampai azan enam, masih sama. Baru ketika azan tujuh dikumandangkan, gangguan itu hilang. Menjangan Wulung terpental," imbuh Subhan.
Sejak saat itu, azan pitu dijadikan tradisi dan dikumandangkan setiap salat Jumat. Tradisi ini juga diyakini sebagai simbol perlindungan atau tolak bala, sekaligus pengingat perjalanan dakwah Sunan Gunung Jati yang penuh ujian.
Selain kisah perlawanan terhadap ilmu hitam, ada tafsir lain yang lebih sufistik. Menurut Subhan, azan pitu juga dianggap sebagai lambang kesempurnaan spiritual dalam ajaran tasawuf yang berkembang di kalangan para wali.
"Jadi, kalau yang namanya sejarah itu dinamis dan banyak versinya. Kita harus memaklumi semuanya, bukan berarti merasa paling benar," ungkap dosen UIN Syekh Nurjati tersebut.
Cerita Muazin Azan Pitu
Bagi para muazin, tradisi ini bukan sekadar warisan, tetapi amanah yang harus dijaga. Munadi,salah seorang muazin yang saat ini berusia 45 tahun mengaku melakoni pekerjaan tersebut untuk merawat tradisi. Dengan sukacita, sosok yang menjadi muazin menggantikan ayahnya itu melakukannya dengan sukarela.
"Saya jadi muazin menggantikan bapak. Ada perasaan tanggung jawab untuk menjaga. Ini bukan sekadar tugas, tapi warisan yang harus dijalankan," ungkap Munadi.
Hari Jumat dipilih sebagai waktu pelaksanaan azan pitu karena menjadi saat berkumpulnya umat Islam. Kehadiran banyak jemaah, menurutnya, membuat tradisi ini sekaligus memperkuat nilai spiritual dan perlindungan.
"Hari Jumat itu momen silaturahmi umat Islam. Jadi, menjadi waktu yang tepat untuk melestarikan tradisi ini," sebutnya.
Dengan sejarah panjang dan tanggung jawab yang begitu besar, Munadi mengatakan bahwa pekerjaan sebagai muazin azan pitu sebenarnya cukup berat. Namun, karena niatnya adalah untuk pengabdian kepada umat dan agama, dia nggak gentar melakukannya.
"Berat, tapi sejauh ini kami niatkan untuk ibadah dan mengabdi," tutupnya.
Azan pitu terus bergema setiap menjelang salat Jumat, mengingatkan warga Cirebon akan sejarah perjuangan para wali sekaligus menjadi simbol tolak bala bagi umat Islam. Membayangkan tujuh azan berkumandang di sebuah masjid secara bersamaan pasti menyejukkan sekali ya, Gez? (Sundara/E10)
