BerandaHits
Selasa, 3 Okt 2022 11:00

Sarkem, Sisi Lain Gemerlapnya Yogyakarta yang Eksis Sejak Zaman Belanda

Sarkem, singkatan dari Pasar Kembang, loksai prostitusi di Yogyakarta. (Kumparan/Arfiansyah Panji Purnandaru)

Sarkem nggak jauh dari Malioboro. Di sanalah kawasan prostitusi yang paling populer di Yogyakarta berada. Tapi, kamu tahu nggak sejarah dari lokasi prostitusi ini?

Inibaru.id – Jika bicara tentang Yogyakarta, yang langsung terpikir biasanya adalah wisata urban yang menyenangkan, budaya dan tradisi yang kuat, hingga kuliner yang menggoda. Tapi, di balik gemerlapnya Yogyakarta bagi para wisatawan, ada sisi gelap yang jelas terpampang, yaitu keberadaan Sarkem.

Sarkem adalah singkatan dari Pasar Kembang. Plang nama Jalan Pasar Kembang bahkan bisa dengan mudah kamu lihat di ujung utara Jalan Malioboro, tepatnya di seberang Stasiun Tugu. Kalau kamu masih bingung dengan apa itu Sarkem, tempat tersebut dikenal sebagai salah satu kawasan prostitusi tertua di Indonesia.

Lokasi pasti Sarkem memang cukup tersembunyi karena ada di gang-gang sempit yang ada di Jalan Pasar Kembang. Tapi, bukan berarti semua gang adalah lokasi prostitusi. Gang 1 dan 2 dikenal sebagai Kampung Sosrowijayan Wetan yang populer di kalangan backpacker karena ada banyak penginapan murah. Nah, di Gang 3 atau Sosrowujayan Kulon-lah, prostitusi Sarkem eksis.

Dilansir dari Detik, Jumat (20/6/2014), nama Pasar Kembang berasal dari lokasi jualan pedagang bunga yang dulu memenuhi sisi selatan Stasiun Tugu. Kini, para pedagang ini sudah pindah ke Jalan Ahmad Jazuli di kawasan Kotabaru.

Tapi, sejarah prostitusi di Sarkem muncul jauh lebih lama dari saat pedagang bunga masih eksis di sana. Bahkan, sejumlah sejarawan menyebut Sarkem sudah eksis sejak Belanda masih mengusai Nusantara, Millens.

Gang-gang di dalam kawasan Sarkem. (catatanbaskoro.wordpress.com)

Dikutip dari Kumparan (10/9/2019), semua bermula dari kemunculan aturan yang melegalkan prostitusi pada 1852. Kala itu, pemerintah Hindia Belanda merasa aturan ini perlu diterapkan demi mencegah dampak buruk dari keberadaan publieke vrouwen, istilah bagi pekerja seks komersial pada masa itu. Dengan adanya lokasi prostitusi, maka para PSK bisa didata, dikendalikan, dan pemerintah pun mampu mencegah munculnya sejumlah penyakit menular seperti sifilis.

Meski begitu, kemunculan kawasan prostitusi di Pasar Kembang lebih dipengaruhi oleh pembangunan jalur kereta api yang cukup masif di Pulau Jawa pada akhir abad ke-19, tepatnya sejak 1884. Saat itu, lokasi prostitusi di Yogyakarta ini lebih populer dengan nama ‘Balokan’. Nama ini muncul dari banyaknya tumpukan balok kayu jati yang dipakai sebagai bantalan rel kereta api. Di tempat itulah, banyak pekerja proyek pembangunan jalur kereta api mencari ‘hiburan’.

Setelah jalur kereta jadi dan Stasiun Tugu mulai beroperasi pada 12 Mei 1887, banyak pengguna kereta yang membutuhkan tempat istirahat di dekat stasiun. Maka, di area tersebut pun bermunculan tempat-tempat penginapan. Nah, pada 1990-an, barulah nama Pasar Kembang atau Sarkem lebih dikenal sebagai sebutan area tersebut. Alasannya sudah dijabarkan sebelumnya, yaitu kemunculan para penjual bunga.

Menariknya, Sarkem tidak pernah jadi lokalisasi resmi di Yogyakarta. Meski begitu, bukan berarti pemerintah Kota Yogyakarta mengabaikannya.

“Sarkem memang nggak ada legalisasinya. Nggak pernah ada istilah tempat ini dibuka atau ditutup, jalan begitu saja. Meski begitu, kami tetap melakukan kontrol dan perhatian seperti rutin melakukan cek kesehatan terhadap pekerja,” ucap anggota DPRD Kota Yogyakarta Ipung Purwandari sebagaimana dilansir dari Mojok, (24/9/2022).

Meski nggak ada legalisasi, Pemkot bisa dikatakan cukup tenang dengan adanya pusat prostitusi di Sarkem. Pasalnya, di tempat ini, kontrol bisa dilakukan sehingga prostitusi dan dampak buruknya bisa ditahan agar tidak menyebar.

“Jadi tersentralisasi. Kalau bubar, nanti bisa ke mana-mana bahayanya,” lanjut Ipung.

Kalau menurutmu, Sarkem harusnya ditutup atau dibiarkan saja, Millens? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: