BerandaHits
Selasa, 21 Jul 2025 18:17

Rojali; Fenomena Ramai Pengunjung, Sepi Pembeli

Sekarang, lebih banyak orang yang nggak berbelanja meski ramai-ramai mengunjungi pusat perbelanjaan. (via Keluarga Biru)

Fenomena 'Rojali' alias Rombongan Jarang Beli bukan sekadar istilah lucu di tengah keramaian mal dan pasar. Bisa jadi, fenomena ini cerminan krisis daya beli masyarakat. Orang-orang tetap pergi berjalan-jalan di mal atau nongkrong berjam-jam di kafe, tapi enggan menghabiskan uang banyak-banyak.

Inibaru.id - Di tengah riuh rendahnya pusat perbelanjaan, kafe estetik, dan pasar tradisional, ada pemandangan yang kian sering kita temui: kerumunan orang berswafoto di depan kedai kopi, duduk lama di food court tanpa membawa nampan, atau lalu-lalang di kios UMKM tanpa satu pun kantong belanja. Ya, mereka adalah “Rojali” alias Rombongan Jarang Beli.

Sekilas terdengar lucu, istilah ini memang sempat viral sebagai lelucon di media sosial. Tapi jika dicermati lebih dalam, “Rojali” bukan sekadar plesetan yang menghibur. Ia mencerminkan sesuatu yang jauh lebih serius: krisis daya beli masyarakat.

Kalau dulu orang ke mal memang niat belanja, sekarang banyak yang datang cuma numpang sejuknya AC, cari suasana, atau sekadar “healing” gratis. UMKM di pasar pun tak luput dari fenomena ini. Ramai yang datang, tapi pembeli tetap bisa dihitung dengan jari.

Bukan tanpa sebab. Harga kebutuhan pokok makin melonjak, sementara penghasilan stagnan. Biaya hidup naik, dari transportasi, pendidikan, hingga cicilan. Nggak heran, prioritas masyarakat kini bergeser. Nongkrong boleh, tapi beli? Nanti dulu.

Fenomena ini tersebar merata, dari pusat kota hingga pelosok desa. Semaraknya keramaian ternyata nggak selalu berarti geliat ekonomi. Banyak pelaku usaha kecil yang mulai frustrasi. Mereka bilang, “Yang datang banyak, tapi yang beli cuma satu-dua.”

“Rojali” adalah cermin baru dari masyarakat yang bertahan di tengah tekanan ekonomi. Mereka tetap ingin menikmati hidup, walau harus berhemat sebisa mungkin.

Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan nggak mungkin UMKM dan sektor ritel makin megap-megap. Daya beli bukan cuma angka di statistik ekonomi, tapi napas keseharian rakyat. Maka, pertanyaannya: akankah “Rojali” terus jadi tren, atau kita mulai mencari cara agar “rombongan” ini kembali jadi pembeli sejati?

Bukti Ekonomi Lesu?

Mungkinkah fenomena Rojali bukti ekonomi sedang lesu? (Pixabay)

Fenomena Rojali, menurut Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David E Sumual menyelimuti semua kalangan. Untuk golongan menengah ke bawah, mungkin hal ini nggak aneh. Tapi, bagaimana dengan masyarakat menengah ke atas? Ke mana mereka membelanjakan uang?

Menurut David, kelompok masyarakat ini banyak yang menyimpan uang ke produk investasi, misalnya deposito, giro, saham, surat berharga negara (SBN), perhiasan, emas, hingga emas digital.

"Instrumen investasi sedang menarik bagi mereka sehingga mereka lagi ke sana dulu," kata David, Jumat (18/7).

Hingga saat ini, konsumsi masyarakat menengah ke atas belum menunjukkan perbaikan. Padahal, golongan ini menyumbang porsi hingga 70 persen. Apakah ini tanda daya beli masyarakat benar-benar turun?

Menanggapi hal ini, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kemendag, Septo Soepriyatno membantah. Dia menilai, fenomena Rojali menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang menjadikan mal nggak hanya sebagai tempat berbelanja, melainkan juga sebagai ruang publik dan tempat rekreasi.

Menurutnya, momentum pergeseran ini dapat dimanfaatkan oleh ritel konvensional dan pusat-pusat belanja untuk melakukan perubahan strategi dengan memberikan ruang yang lebih bagi penyewa dengan konsentrasi produk lifestyle, serta penyewa di sektor makanan dan minuman (FnB).

“Kami melihat hal ini sebagai sinyal penting karena masyarakat kembali memenuhi pusat belanja kita dan suksesnya transformasi ritel menuju model bisnis yang lebih adaptif, dengan melakukan transformasi konsep, serta terintegrasi secara digital melalui omnichannel,” kata Septo mengutip Kompas, Senin (21/7).

Menarik ya? Kalau menurutmu, fenomena “Rojali” merupakan cermin bukti penurunan daya beli atau hanya perubahan perilaku, Gez? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: