BerandaHits
Rabu, 17 Feb 2026 11:01

Perubahan Iklim, Jepang Terancam Hanya Akan Punya Dua Musim di Masa Depan

Gara-gara perubahan iklim, musim semi terasa jauh lebih singkat dan sakura juga mekar hanya sebentar. (Japan.travel)

Kalau sampai hal ini terjadi, musim semi dan musim gugur yang selama ini jadi magnet wisata utama di Jepang bisa jadi hanya akan tinggal kenangan.

Inibaru.id – Di Jepang, pergantian musim lebih dari sekadar perubahan cuaca. Setiap musim punya keunikannya sendiri dan dinikmati masyarakat. Sayangnya, gara-gara perubahan iklim, keberadaan empat musim bisa jadi akan hilang di masa depan, berganti menjadi dua musim saja. Kok bisa?

Buatmu yang masih belum menyadari betapa penting empat musim di Jepang, coba deh cermati hal ini: musim semi di Jepang identik dengan hanami dan bunga sakura, musim panas identik dengan festival dan pantai, musim gugur dengan daun momiji yang memerah, dan musim dingin dengan salju serta olahraga ski. Kombinasi keempat musim itu bahkan punya istilahnya sendiri yaitu shiki.

Masalahnya, banyak orang Jepang mulai merasa durasi musim-musim itu tak lagi seimbang. Musim panas dan musim dingin terasa semakin panjang, sementara musim semi dan gugur terasa semakin singkat. Istilah shiki pun perlahan bergeser menjadi niki alias dua musim saja.

Dulu, musim semi terasa panjang dan sejuk. Kini, sakura sering mekar lebih cepat lalu rontok sebelum orang sempat menikmati keindahannya lama-lama. Perubahan suhu yang mendadak bikin kalender alam seperti lompat-lompat. Bagi masyarakat Jepang, ini bukan cuma soal cuaca, tapi juga soal tradisi yang jadi kacau.

“Dulu rasanya kita bisa gantian melihat sakura karena masa mekarnya lumayan lama. Sekarang seperti jauh lebih cepat dan bikin taman-taman jadi semakin sesak karena semua orang jadi nggak pengin terlewat mekarnya sakura yang hanya hadir sebentar setahun sekali,” ucap warga Aomori, Ayumi Hasebe di pesan Instagram pada Senin (16/2/2026).

Sayangnya, anggapan Ayumi sesuai dengan hasil penelitian berbasis data dari Badan Meteorologi Jepang. Dari data yang dikumpulkan peneliti dari Mie University dan Niigata University dan dirilis di Gaijinpot pada (6/2), terungkap bahwa musim panas datang lebih cepat dan pergi lebih lambat.

Musim dingin di Jepang juga terasa cukup lama dan lebih berat. (Pakutaso)

Dalam empat dekade terakhir, durasinya bertambah hampir tiga minggu. Artinya, panas ekstrem sekarang menggerus jatah musim semi dan gugur.

Di sisi lain, momiji alias daun merah yang jadi ikon musim gugur kini sering muncul terlambat atau sebentar saja layaknya sakura. Laut yang lebih hangat menahan panas lebih lama, membuat udara sejuk nggak kunjung datang. Bagi pariwisata, ini masalah besar karena musim gugur adalah salah satu waktu favorit wisatawan, dan ketidakpastian waktu puncaknya bikin industri ini kelimpungan.

Beda dengan musim gugur yang semakin singkat, musim dingin tidak berubah drastis layaknya musim panas. Aliran udara dingin dari benua Asia masih menjaga suhu rendah, terutama di wilayah utara. Tapi tetap saja, ketidakseimbangan musim lain membuat satu tahun terasa sangat berbeda.

Para peneliti bahkan memperkirakan Jepang bisa benar-benar bergeser dari empat musim menjadi dua musim dominan: musim panas yang panjang dan musim dingin yang singkat di masa depan. Akar masalahnya jelas, yaitu perubahan iklim global.

Dampaknya bikin pertanian mulai terganggu. Kualitas dan produksi beras menurun, buah-buahan mudah “terbakar matahari”, dan hasil laut menyusut. Festival yang biasanya mengikuti pergantian musim juga jadi sulit digelar.

Meski begitu, harapan belum hilang. Jepang dikenal piawai beradaptasi dan mulai serius mengembangkan energi terbarukan serta kebijakan iklim. Apalagi, empat musim belum benar-benar menghilang. Sakura masih mekar, salju masih turun, dan daun momiji masih bisa kita lihat.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Jepang akan berubah, Tapi apakah manusia bisa memperlambat kerusakan sebelum shiki tinggal jadi cerita nostalgia. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Persiapan Menghadapi Fenomena Alam Godzilla El Nino pada Musim Kemarau Nanti, Apa Saja?

1 Apr 2026

Memakai BBM yang Ditimbun Lama, Berbahaya Buat Kendaraan Nggak, Ya?

1 Apr 2026

Legenda Azan Pitu di Cirebon; Kisah Para Muazin Melawan Ilmu Hitam

1 Apr 2026

Kueh Makmur, Sajian Lebaran Lembut Bertabur Gula yang Sarat Makna

1 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: