BerandaHits
Minggu, 8 Mar 2025 15:33

Orang Indonesia Kerap Menjarah Muatan Kendaraan yang Kecelakaan, Mengapa?

Ilustrasi armada truk yang mengalami kecelakaan. (Antara/Azmi Samsul Maarif)

Masyarakat Indonesia dikenal agamis. Tapi kok kalau ada kendaraan alami kecelakaan, barang muatannya dijarah? Apa penyebabnya?

Inibaru.id - Meski sudah lebih dari 20 tahun berlalu, peristiwa yang terjadi saat saya masih duduk di kelas 2 SD ini masih teringat dengan jelas. Sebuah truk pembawa minuman bersoda dengan rasa lemon lepas kendali dan terjun bebas ke jurang yang ada depan gang kampung saya. Meski pengendaranya selamat dan dilarikan ke rumah sakit, muatannya kemudian dijarah oleh tetangga-tetangga saya sendiri.

Kala itu bulan puasa, namun warga mengambil sebanyak mungkin botol minuman yang ada. Pada keesokan harinya, obrolan di antara mereka bahkan seperti perlombaan tentang siapa yang 'berhasil' mengambil botol minuman bersoda lebih banyak.

Siapa sangka, apa yang dulu saya lihat sebagai kejadian yang sangat aneh dan berlawanan jauh dengan apa yang saya pelajari di sekolah ataupun tempat mengaji ini masih bisa ditemukan di mana-mana. Kasus terkini terjadi pada sebuah truk pembawa telur yang mengalami kecelakaan di Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara pada Minggu (2/3/2025).

Bukan hal aneh melihat orang Indonesia menjarah muatan kendaraan yang alami kecelakaan. Hal ini tentu sangat kontras dengan kecenderungan warga Indonesia yang dikenal agamis. Lantas, apa ya alasan mereka melakukannya?

Sosiolog Drajat Tri Kartono dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah punya pendapatnya sendiri terkait dengan hal ini. Menurutnya, penjarahan terhadap kendaraan yang mengalami kecelakaan adalah bentuk hukuman sosial.

"Truk besar membawa barang-barang namun cuma lewat dan nggak memberikan manfaat apa pun. Padahal jalan juga bisa rusak kalau sering dilewati truk dengan ukuran besar tersebut. Makanya begitu terjadi kecelakaan, muncul social punishment berupa penjarahan," ungkap Drajat sebagaimana dinukil dari Kompas, Selasa (17/5/2022).

Terdapat sejumlah faktor yang bikin penjarahan terhadap kendaraan yang alami kecelakaan sering terjadi. (Radarmojokerto/Deni Lukmantara)

Lebih dari itu, hal ini sebenarnya adalah perwujudan dari kecenderungan warga Indonesia yang masih mengedepankan sikap oportunisnya untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri dalam segala situasi. Hm, jadi mirip koruptor gini, ya?

"Ini adalah gambaran perilaku masyarakat baik itu dari kelas atas, menengah, maupun kelas bawah. Mereka lebih mengedepankan oportunistic behaviour alih-alih berempati untuk merasakan penderitaan orang lain atau menolong mereka," lanjut Drajat.

Tapi kok bisa hal ini terjadi di tengah masyarakat yang dikenal agamis? Hal ini ternyata juga bisa disebabkan oleh kesulitan dan kesenjangan ekonomi yang semakin parah.

Tanpa disadari hal ini bikin masyarakat berusaha untuk mengambil kesempatan apa pun demi bertahan hidup, bisa berhemat, atau mendapatkan keuntungan. Mereka pun jadi kehilangan perilaku empatinya terhadap korban kecelakaan dan nggak menyadari kalau tindakan penjarahan ini bikin korban jadi semakin menderita.

Di sisi lain, Koordinator Humas Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Tengah Haryadi Nurwanto menyebut seringnya penjarahan terhadap muatan kendaraan yang mengalami kecelakaan menandakan bahwa norma serta moral masyarakat Indonesia sudah semakin memburuk.

"Banyak yang merasa nggak apa-apa melakukannya karena orang lain juga melakukannya, atau merasa korban nggak membutuhkan barang-barang itu juga. Makanya, kalau bisa pendidikan moral dan empati harus dipupuk sejak usia dini agar kejadian seperti ini nggak terjadi di masa depan," saran Haryadi.

Yap, cukup ironis ya, Millens kalau melihat ada kasus penjarahan muatan kendaraan yang jadi korban kecelakaan. Jangan ditiru deh tindakan yang nggak baik itu. Setuju? (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: