BerandaHits
Minggu, 6 Sep 2025 15:01

Lahir dari Ketidaksengajaan, Tiga Tipe Pola Asuh Anak Menurut Diana Baumrind

Ilustrasi: Berdasarkan dua variabel yakni standar dan komunikasi, pola pengasuhan anak dibagi menjadi tiga. (Calm)

Diana Baumrind membagi pola pengasuhan anak menjadi tiga tipe, yakni otoritatif, otoriter, dan permisif. Berikut adalah sejarah penemuan tipe pengasuhan ini dan dampaknya terhadap perkembangan anak.

Inibaru.id - Pola asuh anak umumnya terbagi dalam tiga tipe utama, yakni otoritatif, otoriter, dan permisif, yang akan memiliki bentuk komunikasi yang berbeda. Hasil penelitian ini cukup terkenal di dunia parenting. Menariknya, penelitian tersebut konon berawal dari sebuah ketidaksengajaan.

Tiga tipe pola asuh utama itu dicetuskan oleh Diana Baumrind, seorang psikolog klinis dan perkembangan, yang dikenal luas berkat penelitiannya itu. Dia mengonfirmasi bahwa fokus riset ini sebetulnya berawal dari sebuah ketidaksengajaan.

Awalnya, Baumrind tertarik mencari tahu faktor-faktor yang memengaruhi anak-anak agar tumbuh mandiri. Da berhipotesis bahwa jika pengaruh tersebut bisa dikenali, anak-anak usia sekolah dasar bisa lebih diarahkan untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Dalam penelitiannya, Baumrind mengamati pola komunikasi dan disiplin orang tua. Dari wawancara dengan orang tua anak-anak yang dikenal mandiri, dia menemukan adanya dua elemen utama dalam interaksi mereka, yaitu komunikasi dan standar.

Komunikasi dan Standar

Komunikasi dan standar pun menjadi dua elemen yang dijadikan sebagai dasar untuk kemuculan konsep gaya pengasuhan yang berbeda, yang kemudian dikerucutkan menjadi tiga pola besar. Dalam penelitiannya, Baumrind menyimpulkan bahwa anak mandiri lahir dari orang tua yang standar dan komunikasinya baik.

Mereka dilabeli sebagai orang tua otoritatif (authoritative). Orang tua dengan gaya ini banyak berdialog dengan anak, memberikan arahan dalam mengambil keputusan, dan menetapkan ekspektasi baik di sekolah maupun pergaulan.

Mereka mengekspresikan kasih sayang dengan cara mengkomunikasikan standar serta nilai yang harus dipahami anak. Bersamaan dengan itu, dia juga membuat dua kategori lain. Secara keseluruhan Baumrind mengklasifikasikan tipe pengasuhan menjadi tiga kategori:

1. Authoritative (otoritatif)

Tipe orang tua otoritatif adalah yang tinggi komunikasi dan standar. Anak diarahkan dengan dialog, diberi penjelasan mengapa suatu aturan penting, dan diajak memahami prioritas.

2. Authoritarian (otoriter)

Tipe ini tinggi standar, tapi rendah komunikasi. Disiplin ditegakkan secara tegas dan sering kali sewenang-wenang. Anak bisa kehilangan inisiatif karena merasa takut salah jika nggak ada aturan tertulis yang jelas.

3. Permissive (permisif)

Kebalikan dengan otoriter, orang tua dengan tipe permisif ini tinggi komunikasi, tapi rendah standar. Orang tua mendengarkan anak tanpa banyak memberi arahan atau batasan. Anak biasanya ramah secara sosial, tetapi prestasi akademiknya cenderung nggak menonjol.

Contoh dalam Keseharian

Gaya pengasuhan otoriter termasuk yang paling banyak dilakukan, yang sebagian besar merupakan warisan dari orang tua mereka. (Shutterstock/fast-stock via Fimela)

Sebagai contoh, bayangkan anak yang baru pulang sekolah diminta mengerjakan PR sebelum menonton televisi, tapi anak menolak. Orang tua otoriter akan memerintah dengan tegas: segera kerjakan, baru boleh menonton televisi!

Sementara, orang tua permisif akan cenderung luluh dengan mengatakan, “Baiklah, tidak usah sekarang, tapi setelah menonton televisi, ya?” sedangkan orang tua otoritatif memilih untuk menanyakan alasan penolakan anak. Jika alasannya kuat, dia akan memberi kelonggaran sembari mengatakan pentingnya menjadikan PR sebagai prioritas.

Gaya pengasuhan otoriter termasuk yang paling banyak dilakukan orang tua. Dalam penelitiannya, Baumrind menemukan faktor yang membuat mereka lebih memilih gaya otoriter ketimbang otoritatif. Salah satunya karena pengaruh pola asuh masa kecil.

Banyak orang tua meniru cara mereka dibesarkan, termasuk pola asuh otoriter yang banyak dilakukan generasi terdahulu. Selain itu, gaya ini juga dipengaruhi oleh lingkungan. Di daerah dengan tingkat kejahatan tinggi atau kondisi berbahaya, aturan yang ketat dianggap penting demi keselamatan anak.

Tipe Pengasuhan Keempat

Banyak yang bilang, butuh satu kampung untuk mengasuh anak. Pernyataan ini nggak bisa dibantah, karena realitasnya lingkungan memang memegang peran penting. Orang yang hidup di daerah konflik atau "nggak aman", pola asuhnya memang cenderung otoriter.

Dalam situasi darurat, siapa yang punya waktu untuk untuk menjelaskan alasan di balik aturan? Bahkan, meski situasi sudah aman, gaya ini terbawa hingga anak dewasa, lalu diwariskan ke anak-anak mereka. Inilah yang membuat pola asuh otoriter masih acap dilakukan oleh masyarakat modern yang hidup di lingkungan aman.

Sementara itu, tipe pengasuhan permisif biasanya muncul karena rasa bersalah orang tua terhadap anak, misalnya karena dia nggak punya cukup banyak waktu untuk bersama atau merasa kurang kompeten dalam mengasuh anak.

Oya, selain ketiga pola asuh itu, beberapa psikolog sempat menyebutkan ada tipe pola asuh keempat yang rendah standar maupun komunikasi. Namun, Baumrind menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah gaya pengasuhan, melainkan bentuk pengabaian (neglect).

"Anak-anak dari orang tua yang abai cenderung kesulitan berkembang menjadi individu produktif, kecuali jika ada sosok dewasa lain yang dapat memberikan dukungan," tandasnya.

Pola pengasuhan otoritatif membuat anak lebih percaya diri. Sementara, pola asuh otoriter dan permisif, meski nggak seimbang, masih memungkinkan anak menjadi produktif. Yang terburuk adalah jika orang tua abai dan merasa anak akan tumbuh baik-baik saja tanpa pendampingan. (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Cantiknya Pemandangan Air Terjun Penawangan Srunggo di Bantul

20 Jan 2026

Cara Unik Menikmati Musim Dingin di Korea; Berkemah di Atas Es!

20 Jan 2026

Kunjungan Wisatawan ke Kota Semarang sepanjang 2025 Tunjukkan Tren Positif

20 Jan 2026

Belasan Kasus dalam Dua Tahun, Bagaimana Nasib Bayi yang Ditemukan di Semarang?

20 Jan 2026

Ratusan Perjalanan Batal karena Banjir Pekalongan, Stasiun Tawang Jadi Saksi Kekecewaan

20 Jan 2026

Viral 'Color Walking', Tren Jalan Kaki Receh yang Ampuh Bikin Mental Anti-Tumbang

20 Jan 2026

Nggak Suka Dengerin Musik? Bukan Aneh, Bisa Jadi Kamu Mengalami Hal Ini!

20 Jan 2026

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: