BerandaHits
Senin, 10 Mar 2024 19:05

Kisah Mata Air Tuk Dungsono yang Kabarnya Dulu Jadi Tempat Wudu Sunan Kalijaga

Mata air Tuk Dungsono di Gunungkidul. (Detik/Iqbal Al Fardi)

Lokasi mata air Tuk Dungsono hanya beberapa meter dari sungai. Tapi, kejernihan aliran sungai dan air yang keluar dari Tuk Dungsono sangat kontras. Kok bisa, ya?

Inibaru.id – Sunan Kalijaga dikenal luas sebagai salah satu orang terpenting dalam sejarah Kesultanan Demak yang ada di Pantai Utara Jawa. Tapi, jejak-jejaknya bisa ditemui di banyak tempat, termasuk di sisi selatan Pulau Jawa. Nah, salah satu dari jejak petualangannya bisa kamu temui di Tuk Dungsono yang bisa kamu temui di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kamu bisa menemui mata air ini di Padukuhan Plumbungan, Kalurahan Putat, Patuk, Gunungkidul. Lokasinya nggak jauh dari aliran sungai Kedungsono. Meski lokasinya berdekatan, mata air yang yang muncul dari tebing dengan tinggi kurang lebih 2 meter itu cenderung bening, sangat jauh dari warna sungai Kedungsono yang terlihat keruh.

Menurut salah seorang warga setempat yang terbiasa mengambil air dari Tuk Dungsono untuk konsumsi sehari-hari bernama Gunawan, masyarakat percaya kalau mata air ini dulu adalah tempat wudu Sunan Kalijaga.

“Kalau soal bagaimana cerita lengkapnya saya kurang tahu. Tapi warga sini yakin kalau dulu Sunan Kalijaga pernah wudu di sini,” ujar laki-laki berusia 41 tahun tersebut sebagaimana dilansir dari Detik, Minggu (4/2/2024).

Hal serupa diungkap Kepala Dukuh Plumbungan Sulistyo. Dia mengetahui cerita tentang Sunan Kalijaga yang sempat singgah ke Gunungkidul. Jadi, ceritanya pada zaman dahulu, salah satu anggota Wali Songo datang pada musim kemarau, saat air di Gunungkidul memang cenderung susah dicari.

Tuk Dungsono kabarnya jadi tempat wudu Sunan Kalijaga. (Detik/Iqbal Al Fardi)

“Sunan Kalijaga dan muridnya memang sedang mencari air untuk wudu. Tapi karena musim kemarau, sulit. Beliau lalu memasukkan jari telunjukknya ke sebuah lubang batu, lalu muncullah mata air tersebut,” ungkap Sulistyo, Minggu (4/2).

Terkait dengan nama Dungsono, disebabkan oleh banyaknya pohon sonokeling di sekitar mata air tersebut. Nah, kedung bisa bermakna kolam di mana air berkumpul. JAdilah nama Kedungsono atau disingkan jadi Dungsono saja.

O ya, setelah berwudu, Sunan Kalijaga dan muridnya kemudian salat di bekas aliran Sungai Kedungsono yang saat itu sedang kering akibat musim kemarau. Sunan Kalijaga melihat posisi aliran sungai pas dengan arah kiblat dan saat itu dasar sungai yang kering juga cukup bersih.

Selain dianggap punya sejarah dengan salah seorang penyebar agama Islam di Tanah Jawa, Tuk Dungsono juga dianggap istimewa karena airnya nggak pernah habis meski musim kemarau berlangsung cukup lama.

“Bahkan saat Jogja dilanda gempa pada 2006, saat itu banyak mata air yang mati. Tuk Dungsono tetap mengalir. Di musim kemarau juga debit airnya tetap stabil,” lanjut Sulistyo.

Nggak jauh dari mata air tersebut, tepatnya kurang lebih 500 meter, kamu juga bisa menemui Petilasan Mbah Santri. Kabarnya, dialah murid Sunan Kalijaga yang salat bareng setelah mendapatkan air wudu di Tuk Dungsono. Mbah Santri ini pulalah yang kemudian ditugaskan Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam di kawasan tesebut.

“Dulu petilasan itu adalah tempat mengajar Mbah Santri. Di tempat itu pula, peninggalannya, yaitu tongkat dan sorban dikubur,” pungkas Sulistyo.

Nggak disangka ya, Millens, ternyata cerita dari Tuk Dungsono di Gunungkidul ternyata cukup menarik. Kapan yuk kita main dan melihat sendiri mata air yang unik, ini! (Arie Widodo/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: