BerandaHits
Sabtu, 12 Des 2025 20:30

Kisah Kadjo, Abdi Dalem Muda dari Solo yang Dikirim ke Belgia dan Sukses Jadi Ahli Arloji!

Ilustrasi arloji. (Kibrispdr)

Pada tahun 1856, Abdi Dalem muda Kasunanan Surakarta bernama Kadjo dikirim oleh Susuhunan Paku Buwono VIII ke Brussel, Belgia, atas usulan C. Coenaes untuk dididik sebagai ahli arloji profesional.

Inibaru.id – Di balik kemegahan Kasunanan Surakarta pada pertengahan abad ke-19, tersimpan kisah inspiratif tentang seorang abdi dalem muda bernama Kadjo yang dikirim melintasi benua untuk belajar membuat arloji.

Semua bermula dari keluhan seorang penyewa tanah partikelir berkebangsaan Belgia di Surakarta, C. Coenaes. Coenaes mengeluh kepada Susuhunan Pakubuwono VIII lantaran keahlian tukang keraton yang dianggap kurang mumpuni dalam memperbaiki lonceng dan arloji miliknya.

“Dan penanganan atas barang-barang emasnya pun buruk sekali,” kata Coenaes, sebagaimana dicatat Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950.

Coenaes lantas mengusulkan agar Sunan mengirim salah satu tukangnya ke Eropa untuk dididik sebagai ahli arloji profesional.

Dari Surakarta ke Brussel Penuh Badai

Sunan Pakubwono VIII memilih Kadjo untuk berangkat ke Belgia. (Universitas Leiden)

Gayung bersambut! Sunan Pakubwono VIII menyambut usulan tersebut dan memilih Kadjo, seorang abdi dalem muda berusia 21 tahun yang merupakan anak seorang perwira rendah pasukan kavaleri.

Pada Juni 1856, Kadjo pun berangkat ke Brussel, Belgia, bersama keluarga Coenaes. Pilihan Sunan ternyata tidak meleset.

Dalam perjalanan laut selama 23 hari yang penuh badai, Kadjo sudah menunjukkan keuletan dan loyalitasnya, dengan setia menemani Nyonya Coenaes dan anak-anaknya. Setibanya di Brussel, Kadjo harus belajar bahasa Prancis terlebih dahulu sebelum mendalami ilmu pembuatan arloji.

Berkat kerajinannya, Kadjo menjadi murid yang sangat menonjol. Dia cepat menyerap pelajaran membuat arloji.

“Baru satu tahun dia sudah amat maju, sehingga dapat mengikuti pelajaran pembuat arloji Heckmann dan mengikuti pelajaran di Akademi Seni Menggambar untuk memahirkan diri dalam seni menggambar ornamen,” tulis Poeze mengutip Historia (19/2/2017).

Kemampuan Kadjo bahkan melampaui murid-murid Tuan Heckmann yang lebih senior. Puncaknya, pada Oktober 1859, Kadjo berhasil memenangi penghargaan pertama dalam seni gambar ornamen kelas dua di Akademi Seni Menggambar.

Coenaes sendiri bangga bukan main. “Saya bisa katakan bahwa saya telah berhasil menjadikan orang Jawa ini seorang seniman sejati.”

Arloji Aksara Jawa untuk Sang Sunan

Setelah mahir, Kadjo merancang dan membuat arloji khusus sebagai hadiah persembahan bagi Susuhunan Surakarta. Karya itu diberi nama “duplex a balancier compensateur dengan sepuluh batu”.

Secara eksklusif, Kadjo merancang arloji itu dengan menggunakan aksara Jawa pada angka-angka penunjuk waktunya. Di lempeng arloji tersebut, ia membubuhkan prasasti yang berbunyi:

“Kadjo, habdi dalem ponokawan djam hing Soerokarto moeridipoen toewan Higman Brussel”

Prasasti itu berarti: “Kadjo, abdi dalem pelayan jam di Surakarta, murid Tuan Heckmann di Brussel”.

Karya agungnya itu bahkan sempat dipamerkan kepada Van Wielik, pembuat arloji Baginda Ratu Belanda, dan Menteri Daerah Jajahan Rochussen, yang semuanya sangat terkesan dengan hasil kerajinan Kadjo.

Menarik ya kisah Kadjo ini, Gez. (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: