BerandaHits
Kamis, 25 Nov 2020 15:46

Ketahanan Pangan di Indonesia, Salah Kaprah Sejak Zaman Orba?

Ilustrasi: Lahan pertanian di Indonesia. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Konon, salah satu keberhasilan rezim Soeharto adalah swasembada pangan pada 1984, yang membuat Presiden ke-2 RI itu diganjar penghargaan dari FAO. Namun, seberapa berhasil konsep ini?

Inibaru.id – Sudah dua dekade Orde Baru berakhir. Namun, nggak sedikit yang masih mengenang Soeharto, khususnya terkait swasembada pangan yang diraih Indonesia pada 1984. Pertanyaannya, seberapa berhasil konsep yang dihasilkan Presiden ke-2 Indonesia itu untuk Ketahanan Pangan di negeri ini?

Perlu kamu tahu, pada Konferensi ke-23 FAO di Roma, Italia, 14 November 1985, Soeharto berpidato mewakili negara-negara berkembang setelah Indonesia berhasil swasembada pangan pada tahun sebelumnya.

Pada kesempatan itu, Indonesia juga menghibahkan 100 ribu ton beras untuk korban kelaparan di Afrika. Pencapaian ini tentu saja membanggakan, karena membuat negeri ini tampak perkasa di mata dunia.

Ketahanan pangan Indonesia kala itu memang terlihat perkasa karena sebelumnya negeri ini adalah pengimpor beras. Inilah yang membuat Dirjen FAO kala itu, Edouard Saouma, datang ke Jakarta untuk menyerahkan medali emas bergambar petani pada satu sisi dan wajah Soeharto pada sisi lainnya.

Masih Mengimpor Beras

Ilustrasi: Ketahanan pangan hanya sebatas swasembada beras. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Soeharto yang menggantikan Presiden Pertama RI Sukarno pada 1960 memang menanggung beban berat karena kondisi ekonomi kala itu sedang payah. Bahkan, selama 10 tahun berkuasa, Indonesia harus terus menjadi salah satu pengimpor beras terbesar di dunia.

Hingga 1980, situasi itu belum berubah. Ketahanan pangan Tanah Air baru berangsur membaik hingga dinyatakan swasembada pangan pada 1984, kendati menurut FAO masih mengimpor beras sebanyak 414 ton.

Produksi beras pada 1984 mencapai 27 juta ton, sedangkan angka konsumsi rakyat sebesar 25 juta ton. Jadi, ada sekitar dua ton cadangan, plus sedikit mengimpor untuk menjaga stabilitas pangan. Menurut mereka, ketahanan pangan dinilai oke selama harga beras dapat dijangkau masyarakat.

Hanya Bertahan 5 Tahun

Ilustrasi: Swasembada petani mungkin lebih penting ketimbang swasembada beras. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Untuk mencapai swasembada pangan, sejak medio 1970, Soeharto menerapkan semacam “strategi kembar”, yakni jangka pendek dan panjang. Strategi jangka pendeknya berupa stabilisasi harga beras pada tingkat yang terjangkau. Sementara, strategi jangka panjangnya adalah swasembada mutlak.

Pada 1984, swasembada pangan ini tercapai, tapi hanya bertahan selama lima tahun. Sejumlah kalangan menganggap konsep ketahanan pangan yang diartikan sebagai stabilitas harga beras semata itu terlalu rapuh. Rupanya, ketahanan pangan nggak sesederhana swasembada beras.

Pemerintah kala itu berharap pemerataan akan muncul dengan sendirinya. Ternyata keliru. Namun demikian, salah kaprah itu masih saja didengungkan sebagai sebuah keberhasilan.

Hingga sekarang, sebagian dari kita mungkin masih bangga karena Indonesia pernah meraih swasembada pangan. Padahal, alih-alih terus menyoal swasembada pangan, barangkali berpikir tentang swasembada petani lebih baik! Ha-ha. (Tir/IB27/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: