BerandaHits
Rabu, 3 Feb 2026 09:01

Kabar Baik, Per 2026 Wisata Tunggang Gajah Dilarang Di Indonesia

Wisata tunggang gajah dilarang di Indonesia. (Thebalisun)

Kabar bagus datang dari dunia konservasi di Tanah Air, wisata tunggang gajah resmi dilarang di Indonesia per 2026 ini. Apa alasan dari peraturan baru ini, ya?

Inibaru.id - Berakhir sudah era wisata tunggang gajah alias elephant ride di Indonesia. Pemerintah resmi melarang aktivitas tersebut di seluruh lembaga konservasi dan destinasi wisata, mulai dari kebun binatang, taman safari, hingga pusat wisata satwa. Kebijakan ini jadi langkah penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan satwa, khususnya gajah yang selama ini kerap “bekerja” menghibur manusia atas dalih wisata edukatif.

Larangan ini tertuang dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang di Lembaga Konservasi. Surat edaran tersebut ditandatangani pada 18 Desember 2025 dan akan diterapkan secara lebih ketat mulai awal 2026. Intinya sederhana: peragaan atau wisata tunggang gajah tidak lagi dibenarkan di Indonesia.

Aturan ini bukan berdiri sendiri. Dasar hukumnya cukup kuat, mulai dari Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 yang menetapkan gajah sebagai satwa dilindungi, hingga Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Bahkan, melalui UU Nomor 32 Tahun 2024 sebagai perubahan atas UU 5/1990, sanksi terhadap praktik penyiksaan satwa kini dibuat lebih tegas.

Pemerintah juga tidak main-main soal pengawasan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di berbagai daerah diminta mengawal pelaksanaan aturan ini. Di Bali misalnya, BKSDA mencatat ada 13 lembaga konservasi, dengan 5 di antaranya mengelola gajah sebanyak total 83 ekor.

Kepala BKSDA Bali Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa lembaga yang melanggar bisa dikenai sanksi hingga pencabutan izin operasional. Sebagai contoh tindak lanjut, Bali Zoo bahkan sudah menghentikan peragaan gajah tunggang sejak 1 Januari 2026.

Alih-alih ditunggangi, gajah sebaiknya diamati dan dibiarkan hidup bebas di alamnya. (Antara/Wahdi Septiawan)

Keputusan ini disambut positif oleh banyak pihak, terutama pegiat konservasi. Selama bertahun-tahun, praktik gajah tunggang menuai kritik karena dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan alami gajah.

Secara ilmiah, punggung gajah tidak dirancang untuk menopang beban manusia secara terus-menerus. Aktivitas ini bisa memicu kerusakan tulang belakang, gangguan sendi, hingga luka kronis. Belum lagi dampak psikologis akibat proses “penjinakan” yang sering melibatkan kekerasan dan pengekangan.

Lewat kebijakan ini, pemerintah mendorong perubahan arah pariwisata satwa. Dari yang sebelumnya berbasis atraksi dan eksploitasi, kini diarahkan ke wisata pengamatan dan edukasi. Pengunjung diajak mengenal gajah melalui perilaku alaminya, belajar soal ekologi dan konservasi, tanpa harus menunggangi atau memaksa satwa tampil.

Lebih jauh, larangan ini juga mencerminkan perubahan cara pandang yang lebih luas. Satwa bukan sekadar objek hiburan, melainkan makhluk hidup yang berhak hidup layak dan bebas dari penderitaan.

Mulai tahun ini, jika masih ada tempat wisata yang menawarkan tunggang gajah, kamu bisa melaporkannya melalui aplikasi Gakkum LHK atau BKSDA setempat. Tapi, semoga saja kita nggak sampai melaporkan apa pun karena semua pihak sudah mematuhinya ya, Gez? (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Duh, Kata Menkes, Diperkirakan 28 Juta Warga Indonesia Punya Masalah Kejiwaan!

21 Jan 2026

Jika Perang Dunia III Pecah, Apakah Indonesia Akan Aman?

21 Jan 2026

Ki Sutikno; Dalang yang Tiada Putus Memantik Wayang Klithik Kudus

21 Jan 2026

Statistik Pernikahan Dini di Semarang; Turun, tapi Masih Mengkhawatirkan

21 Jan 2026

Kabar Gembira! Tanah Sitaan Koruptor Bakal Disulap Jadi Perumahan Rakyat

21 Jan 2026

Ternyata Bumi Kita Nggak Seburuk Itu, Simak Kabar Baik Pemulihan Alam Belakangan Ini!

21 Jan 2026

Kata Pakar Soal Makanan yang Bisa Bertahan Lebih dari 12 Jam

22 Jan 2026

Apakah Indonesia Sudah Memasuki Puncak Musim Hujan?

22 Jan 2026

Tradisi Unik jelang Ramadan; Nyadran 'Gulai Kambing' di Ngijo Semarang

22 Jan 2026

Bukan Cuma Rokok, Tekanan Finansial Juga Jadi Ancaman Serius buat Jantung

22 Jan 2026

Pantura 'Remuk' Pasca-Banjir, Pemprov Jateng Mulai Hitung Kerugian dan Siapkan Strategi Baru

22 Jan 2026

Menurut PBB, Dunia Sudah Memasuki Fase Kebangkrutan Air Global!

23 Jan 2026

Waktu-waktu Terburuk untuk Liburan ke Jepang pada 2026

23 Jan 2026

Menghitung Jumlah Pengunjung Kota Lama Semarang, Gimana Caranya?

23 Jan 2026

Agenda Pembuka ICMSS ke-25, Investment Training: Strategi Berinvestasi untuk Pemula

23 Jan 2026

Dari Camilan Jadi Bahan Bakar; Ubi Kayu Kini Digenjot buat Industri Etanol!

23 Jan 2026

Inilah Senyawa Baru yang Bikin Kualitas Udara Kita Anjlok

23 Jan 2026

Berbahaya Nggak Sih Kebiasaan Terus Menancapkan Charger di Stop Kontak Meski Nggak Dipakai?

24 Jan 2026

Menariknya Asal-usul Nama Desa Tempur di Jepara

24 Jan 2026

Kampung Sporlan Semarang dan Episentrum Kelahiran Kereta Api di Indonesia

24 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: