BerandaHits
Rabu, 6 Jan 2026 11:01

Jumlah Anak Sekolah Makin Sedikit, Ribuan Sekolah di Korea Selatan Ditutup!

Ilustrasi: Sekolah di Korea Selatan yang ditutup karena kekurangan murid. (iNews)

Masalah krisis demografi di Korea Selatan semakin memburuk. Jumlah anak usia sekolah semakin sedikit hingga bikin lebih dari 4.000 sekolah di sana terpaksa ditutup karena nggak ada murid baru mendaftar.

Inibaru.id - Di saat banyak negara masih sibuk membangun sekolah baru, Korea Selatan justru harus menutup ribuan sekolah karena satu alasan besar: jumlah anak usia sekolah terus menyusut. Masalah ini bukan sekadar urusan pendidikan, tapi cerminan krisis demografi yang makin serius.

Hingga Maret 2025, pemerintah Korea Selatan tercatat telah menutup 4.008 sekolah dari berbagai jenjang, mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Data ini disampaikan Kementerian Pendidikan Korea Selatan dan diungkap ke publik oleh anggota parlemen Jin Sun-mee. Angkanya bukan main-main dan menunjukkan bahwa penurunan jumlah pelajar sudah berada di level yang mengkhawatirkan.

Menurut data yang diungkap Koreatimes, Rabu (31/12/2025), mayoritas sekolah yang ditutup adalah sekolah dasar. Dari total ribuan sekolah tersebut, sebanyak 3.674 SD resmi berhenti beroperasi. Sementara itu, 264 sekolah menengah pertama dan 70 sekolah menengah atas juga ikut ditutup.

Dalam lima tahun terakhir saja, ada 158 sekolah yang menghilang dari peta pendidikan Korea Selatan. Bahkan, lima tahun ke depan diperkirakan masih akan ada lebih dari 100 sekolah tambahan yang menyusul tutup.

Penutupan sekolah ini paling terasa di daerah-daerah luar kawasan perkotaan. Wilayah pedesaan dan kota kecil mengalami penurunan jumlah siswa jauh lebih cepat dibandingkan Seoul dan sekitarnya. Banyak keluarga muda memilih pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan, meninggalkan daerah asal yang akhirnya kekurangan anak-anak usia sekolah.

Jumlah anak muda di usia sekolah di Korea Selatan semakin sedikit. (Haenam High School)

"Dulu pas saya jadi sukarelawan ngajar Bahasa Inggris di Haenam pada 2009 saja, jumlah anak SD per kelasnya nggak sampai 10 orang. Sulit banget melihat anak kecil dan anak-anak muda di kawasan pedesaan di Korea. Apalagi sekarang," ucap salah seorang warga Indonesia yang pernah tinggal di Korea bernama Nora, Rabu (31/12).

Akar masalahnya jelas: krisis populasi. Korea Selatan saat ini memiliki tingkat kelahiran yang sangat rendah, bahkan termasuk yang terendah di dunia. Total fertility rate negara tersebut sudah lama berada di bawah angka 1, jauh dari ambang ideal untuk menjaga keseimbangan populasi. Akibatnya, jumlah anak yang lahir setiap tahun semakin sedikit, dan dampaknya baru benar-benar terasa sekarang di sektor pendidikan.

Jika ditarik ke belakang, jumlah pelajar Korea Selatan pernah mencapai hampir 10 juta siswa pada era 1980-an. Namun pada tahun ajaran 2025, angka tersebut turun drastis menjadi sekitar 5 juta siswa. Proyeksi ke depan pun tidak terlalu optimistis. Pada 2029, jumlah siswa diperkirakan menyusut lagi hingga sekitar 4,2 juta.

Dampak penutupan sekolah tidak berhenti di ruang kelas. Guru kehilangan tempat mengajar, anggaran pendidikan harus disesuaikan, dan fasilitas sekolah yang sudah dibangun puluhan tahun lalu kini terbengkalai. Dari ribuan sekolah yang ditutup, ratusan bangunan belum dimanfaatkan kembali. Bahkan, ada sekolah yang kosong lebih dari 10 tahun.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa krisis demografi bukan isu masa depan, tapi masalah nyata yang dampaknya sudah terjadi hari ini. Korea Selatan mungkin dikenal sebagai negara maju dengan teknologi canggih, namun urusan populasi dan regenerasi justru menjadi tantangan terbesarnya saat ini. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: