BerandaHits
Minggu, 24 Agu 2024 08:47

Ikut Demo Tolak Revisi UU Pilkada di Semarang, Pelajar SMK Bubar Usai Guru BK Datang

Sejumlah mahasiswa dan pelajar melakukan orasi di tengah aksi massa menolak revisi UU Pilkada. (Inibaru id/ Danny Adriadhi Utama).

Pada Jumat (23/8/2024), sejumlah pelajar SMK ikut aksi unjuk rasa menolak revisi UU Pilkada bersama dengan massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lucunya, mereka bubar usai guru BK datang. Seperti apa ya cerita mereka saat melakukan aksi unjuk rasa ini?

Inibaru.id - Sejumlah massa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melakukan aksi Kawal Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan Tolak Revisi Undang-Undang Pilkada. Mereka jalan berbondong-bondong dari patung kuda Diponegoro Jalan Pahlawan menuju di depan gedung DPRD Jateng, Jumat (23/8/2024).

Sesampainya di depan gerbang, mereka bergabung dengan ratusan pelajar yang masih mengenakansetelan baju bebas serta celana cokelat pramuka. Diduga, mereka berasal dari sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Semarang.

Ratusan massa tersebut bertahan hingga sore hari untuk berorasi dan mengritik pemerintah terkait dengan potensi revisi UU Pemilu yang dipermasalahkan banyak pihak dalam beberapa waktu belakangan. Meski sempat beberapa kali terjadi gesekan dengan petugas keamanan, situasi bisa terkendali.

Seorang pelajar yang mengikuti aksi berkata jika dia pengin mengawal putusan MK bersama rekan-rekannya. Meski masih berusia muda, dia merasa berhak untuk menyuarakan pendapatnya sebagaimana para mahasiswa yang berusia lebih tua.

"Kami ingin mengawal (putusan MK) bersama kakak-kakak mahasiswa, seperti demonstrasi beberapa waktu lalu," terang pelajar yang hanya mau menyebut namanya dengan inisial KJJ tersebut, Jumat (23/8) sore.

KJJ juga memastikan bahwa aksinya hari ini nggak ditunggangi kepentingan apapun atau disuruh pihak lain.

"Tidak ada sama sekali yang nyuruh. Kami sepakat sama teman lainnya ikut aksi damai," lanjutnya.

Para pelajar di tengah aksi unjuk rasa menolak revisi UU Pilkada di Semarang. (Inibaru.id/Danny Adriadhi Utama)

Nggak berselang lama, beberapa guru BK dengan mengenakan seragam batik datang menengok anak-anak SMK. Sejumlah pelajar kemudian mencium tangan mereka. Sayangnya, para guru BK menolak untuk diwawancarai tentang alasan mereka datang ke sana.

Nggak lama kemudian, para pelajar membubarkan diri. Beberapa dari mereka ternyata kesal karena merasa ada yang melaporkan aksi mereka ke guru BK.

"Sukanya mengadu ke guru," teriak sejumlah pelajar kesal ke arah petugas keamanan.

Kordinator aksi pada Jumat (23/8) Winda Setianingsih berkata jika mereka memang sengaja kembali menggelar aksi unjuk rasa demi mengawal putusan MK. Mereka khawatir jika aksi hanya diadakan pada Kamis (22/8), pihak-pihak yang berwenang bisa bermanuver untuk menganulir aturan tersebut.

"Kami menuntut agar KPU dan DPR tidak menganulir putusan MK dan meminta aparat berhenti melakukan tindakan represif terhadap massa aksi di mana pun," kata dia.

Terkait dengan keterlibatan sejumlah anak SMK dan SMA dalam aksi di depan Gedung DPRD Jawa Tengah tersebut, dia mengaku nggak tahu. Tapi, dia menghargai keberadaan mereka yang ikut menyuarakan kegundahannya.

"Saya tidak mengajak anak SMK. Mereka datang sendiri. Tujuan kami memang terus mengawal putusan MK agar nggak berubah jelang pendaftaran Pilkada. Jadi akan kami kawal hingga pendaftaran nanti bersama kawan-kawan," terangnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Kesbangpol Pemprov Jateng Haerudin mengaku sudah mengidentifikasi sejumlah pelajar sekolah menengah atas ikut aksi kawal putusan MK di depan Gedung DPRD Provinsi Jateng. Selain siswa SMK atau STM, ada sejumlah siswa SMA yang ikut serta.

"Ada pelajar SMKN 1, SMKN 3, 4, dan 5 yang mengikuti aksi," kata Haerudin.

Dia menuding para pelajar cenderung mudah melakukan tindakan anarkis seperti melempar barang. Makanya, dia pengin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah agar para pelajara menggelar aksi di sekolah saja.

"Kami akan melakukan sosialisasi dengan mendatangi sekolah-sekolah, karena sekolah menengah atas kan di bawah wewenang Pemprov Jateng," ucapnya.

Hm, bukanlah melakukan unjuk rasa adalah hak semua warga negara, termasuk para pelajar ya? Sepertinya bakal lebih baik jika sosialisasi yang diberikan ke mereka adalah agar nggak melakukan aksi anarkis sehingga unjuk rasa bisa berlangsung damai. Setuju, nggak, Millens? (Danny Adriadhi Utama/E07)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Belajar dari Burung Dodo: Ketika Dunia Berubah, Bertahan Saja Tidak Cukup

1 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: