BerandaHits
Jumat, 12 Feb 2026 09:00

Alasan Mengapa Banyak Orang Korea Selatan Melakukan Operasi Plastik Lipatan Kelopak Mata

Sebagian besar warga Korea Selatan terlahir dengan monolid alias kelopak mata tunggal. (Allaboutvision)

Banyak warga Korea Selatan melakukan operasi double eyelid atau operasi lipatan kelopak mata sebagai hadiah kelulusan SMA.

Inibaru.id - Di balik riuhnya war antara warganet Asia Tenggara melawan warganet Korea Selatan dalam beberapa hari belakangan di media sosial X, terkuak satu hal yang cukup menarik, yaitu warganet Asia Tenggara mengolok warganet Korea Selatan yang banyak melakukan operasi plastik demi mendapatkan lipatan kelopak mata alias double eyelid.

Asal kamu tahu saja, double eyelid memang secara alami sudah dimiliki warga Asia Tenggara sejak lahir. Hal yang sama sayangnya nggak didapatkan oleh sebagian warga Korea yang terlahir monolid alias tanpa lipatan kelopak mata.

Secara genetik, bentuk kelopak mata memang dipengaruhi faktor keturunan. Banyak orang Korea memiliki epicanthic fold, yaitu lipatan kulit di sudut dalam mata yang membuat mata terlihat lebih “tertutup” dan tanpa garis lipatan di atasnya. Sementara di Indonesia, karena latar belakang etnis yang sangat beragam, cukup banyak orang yang punya lipatan kelopak mata secara alami, meski tidak semuanya memilikinya.

Gara-gara hal ini, di Korea Selatan, lipatan kelopak mata dianggap bisa membuat mata terlihat lebih besar, lebih “terbuka”, dan dianggap lebih ekspresif. Anggapan ini disebabkan oleh standar kecantikan modern di sana yang banyak dipengaruhi budaya populer, industri hiburan, dan juga tren global. Nggak heran kalau double eyelid dianggap bisa memberi kesan wajah yang lebih segar dan fotogenik.

Operasi lipatan kelopak mata atau double eyelid wajar dilakukan di Korea. (Noonopi)

Operasi double eyelid atau blepharoplasty akhirnya jadi prosedur yang sangat umum di sana. Bahkan, di Korea Selatan, operasi ini sering dianggap “ringan” dan cukup lumrah. Banyak remaja melakukannya setelah SMA sebagai hadiah kelulusan. Rata-rata usia anak muda yang melakukan operasi ini berkisar antara 18 hingga 25 tahun, meskipun ada juga yang melakukannya di usia lebih matang karena alasan estetika atau kepercayaan diri.

Prosedurnya sendiri biasanya ada dua jenis. Pertama adalah metode non-incisional (tanpa sayatan besar) yang biasanya lebih cepat proses pemulihannya dan cocok untuk kelopak mata yang tidak terlalu tebal. Yang kedua adalah metode incisional (dengan sayatan) yang hasilnya cenderung permanen dan lebih tegas. Pilihan metode ini biasanya disesuaikan dengan kondisi kelopak mata dan hasil yang diinginkan.

Soal harga, biaya operasi double eyelid di Korea Selatan bervariasi tergantung klinik dan teknik yang digunakan. Secara umum, harganya berkisar antara 1,5 juta hingga 3 juta Won atau sekitar belasan sampai tiga puluh jutaan Rupiah jika dikonversi. Klinik-klinik di distrik Gangnam, Seoul, biasanya jadi jujugan tempat operasi karena kawasan ini terkenal sebagai “pusat” operasi plastik dengan berbagai paket perawatan yang ditawarkan.

Meski terdengar seperti tren, penting diingat bahwa keputusan melakukan operasi plastik sangat personal bagi warga Korea. Ada yang melakukannya demi meningkatkan rasa percaya diri, ada juga yang memilih tetap nyaman dengan monolid alami mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, persepsi soal kecantikan di Korea pun mulai lebih beragam, dan banyak figur publik tampil percaya diri dengan bentuk kelopak mata asli mereka.

Menarik juga ya, Gez, jadi tahu kalau memang secara alami, sebagian warga Korea memang terlahir tanpa lipatan kelopak mata seperti orang Indonesia atau orang Asia Tenggara pada umumnya. (Arie Widodo/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Saat Rupiah Melemah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

15 Mei 2026

Rahasia Matematika di Balik Motif Batik, dari Simetri hingga Pola Fibonacci

16 Mei 2026

ARTOTEL Gajahmada Semarang Hadirkan Pameran Seni Kontemporer “Episentrum”

16 Mei 2026

Nyandhang Tradisi untuk Menjaga Ingatan Batik Kudus

18 Mei 2026

9 WNI dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza Dicegat Israel, Ada Wartawan Media Nasional

19 Mei 2026

Margin Kian Tipis, Banyak Seller Mulai Tinggalkan Marketplace

20 Mei 2026

SMA Negeri 1 Kemalang Resmi Berdiri, Anak Lereng Merapi Tak Perlu Sekolah Jauh Lagi

20 Mei 2026

Jateng Media Summit 2026 Bahas Masa Depan Media Lokal di Era Digital

21 Mei 2026

Di Tengah Gempuran AI dan Buzzer, Media Lokal Diajak Kembali ke Jurnalisme Publik

22 Mei 2026

Jejak Panjang Pecel, Lotek, dan Gado-Gado: Saat Salad Nusantara Punya Cerita Peradaban

22 Mei 2026

BI Jateng Ingatkan Bahaya Penipuan Digital di Tengah Tren Transaksi QRIS

23 Mei 2026

Belajar dari Estonia, China, dan Singapura dalam Membangun Infrastruktur Digital

23 Mei 2026

Walkot Semarang Resmi Luncurkan LOFF 2026, Perkuat Ekosistem Perfilman Kreatif

24 Mei 2026

Peluang “Godzilla El Nino” 2026 di Indonesia Relatif Kecil, Ini Kata BRIN

25 Mei 2026

Jadi Wisudawan Terbaik UNRIYO, Pemuda Asal Semarang Ini Ingin Ciptakan Banyak Peluang Kerja

25 Mei 2026

Sebelum Nasi Mendominasi, Leluhur Kita Sudah Diversifikasi Pangan Sejak Dulu

26 Mei 2026

5 Tradisi Iduladha di Indonesia yang Unik, Sarat Makna, dan Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

28 Mei 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: