BerandaFoto Esai
Senin, 1 Feb 2026 13:01

Tradisi Nyadran, Akulturasi Budaya yang Melekat di Masyarakat Jawa

Nyekar atau ziarah kubur menjadi salah satu ritual penting dalam tradisi Nyadran. (Inibaru.id/ Murjangkung)

Mengingat mati dan merayakan berkah yang diberikan Tuhan menyatu dalam satu budaya yang dikenal luas sebagai tradisi Nyadran di Jawa. Digelar untuk menyambut Ramadan, rangkaian ritual ini merupakan bentuk akulturasi budaya antara Islam dengan Hindu-Budha.

Inibaru.id – Masuknya Islam ke Jawa yang didominasi penganut Hindu-Budha diyakini nggak banyak mendapatkan penolakan lantaran dilakukan dengan pendekatan yang damai, salah satunya melalui jalur akulturasi budaya.

Salah satu tradisi yang hingga kini masih dipegang erat oleh masyarakat Islam di Jawa adalah Nyadran, ritual yang digelar untuk menyambut datangnya Ramadan. Lantaran digelar pada bulan Ruwah (Syakban) atau sebulan sebelum Ramadan, tradisi ini juga dikenal sebagai Ruwahan.

Nama nyadran atau sadranan diyakini berasal dari bahasa Sanskerta "sraddha" yang berarti keyakinan. Nyadran diperingati dengan serangkaian upacara, termasuk di dalamnya bersih-bersih makam leluhur, nyekar atau ziarah kubur, dan kenduri atau makan bersama.

Hingga kini, tradisi tersebut masih lazim dijumpai di berbagai daerah Jawa, khususnya di wilayah Jawa Tengah, termasuk di Semarang, Demak, Kudus, Boyolali, Klaten, hingga kawasan lereng Merapi dan Merbabu.

Bentuk Akulturasi Budaya

Awalnya, tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan animisme, yang kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Islam setelah masuknya ajaran Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo. Dalam Islam, tradisi ini bertransformasi menjadi bentuk syukur kepada Tuhan atas berkah yang diberikan.

Selain digelar pada pertengahan Ruwah, ada pula yang menggelar nyadran pada bulan Rajab. Umumnya pada hari ke-10 di bulan tersebut. Di Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, nyadran digelar pada Kamis Wage bulan Rajab, serangkai dengan khaul sesepuh desanya, yakni Kiai Asy'ari.

Namun, karena tahun ini nggak ada Kamis Wage, event tahunan itu pun dialihkan ke bulan Ruwah, yang digelar pada 26 Januari lalu. Selain menjadi upaya mengingat leluhur, nyadran di Ngijo juga menjadi ruang berkumpul warga untuk makan sekaligus berdoa bersama.

“Nyadran ini adalah tradisi kirim doa untuk para leluhur yang dirangkai dengan khaul Kyai Asy’ari, tokoh agama di Ngijo. Kegiatan ini sudah dilakukan secara turun-temurun menjelang Ramadan,” ujar Ahmad Yasak, tokoh agama di Ngijo.

Nyadran di Ngijo digelar selama dua hari, dimulai dengan bersih-bersih tiga area utama, yakni di Makam Segebug, Makam Sentono, dan Makam Menda. Selain mendoakan Kiai Asy’ari, warga juga mengenang pendiri Ngijo yang dikenal dengan sebutan Mbah Ijo, yang dimakamkan di Makam Segebug.

Memasak Bersama di Makam

Di banyak tempat, khususnya di wilayah perdesaan, nyadran menjadi salah satu tradisi yang ditunggu masyarakat karena selalu ada ritual kenduri atau makan bersama. Biasanya, warga membawa makanan dari rumah atau memasak bersama, lalu dinikmati bersama-sama di makam.

Menu yang disajikan di tiap daerah bisa berbeda-beda, tergantung kebiasaan masyarakat setempat. Di Ngijo, makan bersama juga menjadi momen yang dinantikan. Dari tahun ke tahun, menu utamanya adalah gulai kambing yang telah mereka persiapkan bersama sejak pagi.

Yasak mengatakan, setelah khataman Al-Qur'an dan zikir bersama pada malam harinya, pagi-pagi buta warga akan bersegera menuju makam untuk memasak bersama. Untuk tahun ini, ada 48 ekor kambing yang dimasak, yang semuanya merupakan sedekah dari warga.

"Sedekah kambing dilakukan secara perorangan, biasanaya oleh mereka yang bernazar. Setelah disembelih, daging kambing diolah menjadi gulai, kemudian dibagikan kepada peziarah yang hadir," jelasnya.

Menu nyadran di berbagai wilayah berbeda-beda. Namun, biasanya ada ingkung ayam, nasi gurih atau tumpeng, urap sayur, sambal goreng ati, tempe atau tahu bacem, serta jajanan pasar seperti apem, ketan, dan kolak.

Di tempat tinggalmu, ada tradisi nyadran juga nggak, nih? (Murjangkung/E10)

Persiapan puncak Nyadran dilakukan langsung di area makam, baik muda maupun tua.
Selain mendoakan makam keluarga, warga juga berdoa di makam leluhur.
Proses memasak gulai untuk persiapan Nyadran di Kelurahan Ngijo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
Kambing untuk hidangan utama tradisi nyadran di Gunungpati berasal dari sedekah warga.
Proses penyembelihan ternak untuk persiapan nyadran dilakukan secara bersama-sama.
Kebersamaan menjadi kunci dalam persiapan Nyadran.
Kepulan asap di area permakaman saat nyadran menjadi semacam perwujudan harapan yang membumbung tinggi.
Nggak hanya diikuti warga setempat, nyadran juga acap diramaikan oleh orang-orang dari wilayah lain.
Hidangan nyadran dibagikan kepada para peziarah yang hadir.
Selain bersih-bersih makam, ziarah kubur dan mendoakan leluhur serta keluarga yang telah meninggal menjadi inti dari tradisi nyadran.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: