BerandaFoto Esai
Senin, 25 Apr 2021 09:00

Tradisi Ratusan Tahun, Berbuka dengan Bubur India di Masjid Pekojan Semarang

Ramadan menjadi momen yang ditunggu warga sekitar Masjid Pekojan Semarang. Di masjid berusia 150-an tahun tersebut, masyarakat bisa mencicipi menu berbuka yang istimewa, yakni Bubur India, yang telah berusia ratusan tahun.<br>

Inibaru.id - Keringat mengucur deras di wajah Ahmad. Matanya juga memerah. Sesekali, dia menyeka keringat atau mengucek matanya di tengah kesibukan mengaduk adonan bubur dalam kuali besar di atas tungku berbahan bakar kayu di dapur Masjid Jami Pekojan Semarang.

Tanpa memberi jeda, Ahmad sekurangnya harus bertahan di depan tungku selama dua jam, mengaduk beras untuk menjadi bubur. Dalam kuali, dia juga menambahkan santan dan berbagai rempah seperti jahe, bawang, serai, dan kapulaga, untuk menjadi Bubur India.

Selama Ramadan, menanak bubur kaya rempah itu memang menjadi rutinitas Ahmad saban siang. Bubur dalam satu kuali besar itu nantinya dibagi menjadi sekitar 200 porsi sebagai menu berbuka puasa di Masjid Pekojan.

“Sekitar 200 porsi bubur ini disediakan setiap hari (selama Ramadan) sebagai menu berbuka puasa kepada seluruh orang yang datang ke masjid ini,” ujar Ahmad sembari mengelap keringat di dahinya.

Di masjid yang telah berdiri sejak sekitar 150 tahun lalu itu, bubur India memang menjadi hidangan berbuka nan istimewa. Bubur ini nggak dijual; dibagikan cuma-cuma. Siapa saja boleh menjajal bubur yang nantinya disajikan dalam mangkok plastik dan ditata berderet di masjid tersebut.

Masyarakat Kota Semarang nggak asing dengan keberadaan bubur India, khususnya yang tinggal di sekitar masjid yang ada di Jalan Petolongan, Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, tersebut, Menu berbuka ini konon sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Ketua Takmir Masjid Pekojan Ali Baharun mengungkapkan, bubur India kali pertama diracik oleh seorang mualaf dari India.

“Sekitar 100 tahun yang lalu ada orang India yang berdakwah ke Masjid Pekojan, dialah yang membuat bubur ini dengan memasukkan rempah-rempah khas India,” kata Ali.

Selama sebulan penuh, Ali dkk bakal menyediakan bubur berwarna kecoklatan yang bertekstur lembut tersebut di Masjid Pekojan. Bukan tanpa alasan mereka sengaja menyediakan bubur, alih-alih nasi. Menurut Ali, saat berbuka, seseorang membutuhkan asupan makanan yang lembek setelah menahan lapar selama sekitar 13 jam.

“Bubur ini untuk seluruh umat, nggak memandang agama, ras, atau etnisnya. Semua orang boleh menikmati bubur ini,” ujar pria 62 tahun tersebut; "karena tujuannya untuk menyambung silaturahim antarumat beragama dan berbangsa Indonesia."

Gimana rasanya? Wahyu, salah seorang penikmat bubur India di Masjid Pekojan, mengaku ketagihan untuk berbuka dengan bubur yang disajikan dalam porsi yang lumayan banyak ini.

“Rasanya gurih dengan aroma yang khas, kaya bumbu-bumbu tradisional, yang membuat badan terasa segar kembali," ungkap lelaki yang mengaku sudah beberapa kali menikmati bubur India di Masjid Pekojan lantaran ketagihan tersebut.

Sebagai pelengkap menu iftar (berbuka puasa) di Masjid Pekojan ini, pengunjung juga bakal diberi kurma dan minuman manis untuk membatalkan puasa.

Gimana, tertarik berbuka di sini? Eits, tapi sebelumnya, pastikan kamu menerapkan protokol kesehatan dengan ketat ya, Millens! (Triawanda Tirta Aditya/E03)

Menikmati menu iftar bubur India di Masjid Pekojan Semarang.<br>
Dalam sehari akan ada 200 porsi bubur India yang disajikan.<br>
Bubur ditaruh di bagian kanan masjid, ditata dengan jarak sekitar satu meter.<br>
Calon bubur India dalam satu kuali besar; diolah dengan santan dan berbagai bumbu serta rempah.<br>
Dengan sabar dan tekun Ahmad terus mengaduk bubur agar nggak mengerak dan matang merata.<br>
Bubur India dimasak di atas tungku berbahan bakar kayu yang berada di dapur Masjid Pekojan Semarang.<br>
Bubur disajikan di atas mangkok, bersanding dengan kurma dan minuman manis.<br>
Menjelang berbuka, para pemburu menu iftar di Masjid Pekojan bakal mengikuti tausyiah.<br>
Menunggu waktu berbuka.<br>
Buka puasa diawali dengan doa bersama.<br>

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: