BerandaFoto Esai
Senin, 6 Mar 2022 09:00

Para Pemerah Susu dari Peternakan Sapi di Gunungpati

Pemerahan sapi di Gunungpati ini sengaja dilakukan secara manual untuk menghindarkan sapi dari rasa kesakitan.

Para pemerah susu dari peternakan sapi di Gunungpati ini terbilang menarik. Alih-alih memelihara sapi di rumah masing-masing, mereka memilih memusatkan peternakan di sepetak lahan luas yang dikavling. Kenapa, ya?

Inibaru.id – Hujan belum juga reda saat saya memacu kendaraan ke Desa Sumurrejo, Gunungpati, Kota Semarang. Sudah kepalang tanggung dan nggak enak membatalkan janji dengan Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu, saya pun nekat. Pakaian saya basah, tapi saya tiba tepat waktu di desa para pemerah susu sapi itu.

Saya tiba saat hujan sudah reda. Menjelang sore. Ragil menyambut saya dengan minuman hangat dan camilan alakadarnya. Dialah perwakilan dari kelompok tani yang hendak saya temui tersebut, yang hadir menggantikan Nurdi, ketua kelompok yang berhalangan hadir karena sedang sakit.

Sebentar berbasa-basi, Ragil pun mengajak saya ke sepetak lahan cukup luas yang diapit sawah di kanan-kiri. Di situlah sapi-sapi para anggota Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu dipelihara untuk diperah susunya.

“Kami berdiri sudah lebih dari 20 tahun. Tepatnya kapan, saya lupa; tapi sekitar 1990-an,” ungkap Ragil membuka percakapan sembari memapak saya ke kavling-kavling kandang-kandang sapi didirikan, Jumat (25/2/2022) sore.

Memakai Lahan Bersama

Berbeda dengan kebanyakan peternak yang membuat kandang di pekarangan rumah, para peternak di Sumurrejo ini sengaja memusatkan lokasi peternakan di satu tempat. Mereka menyewa kavling di lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Ragil mengatakan, semula para peternak ini juga memiara ternak di rumah. Namun, kontur desa yang berundak-undak membuat penduduk desa bagian bawah merasa dirugikan lantaran kotoran sapi dari peternakan di desa bagian atas turun ke tempat mereka.

Merasa "tercurangi", mereka pun protes. Dari sinilah pemerintah setempat berinisiatif menyewa lahan datar di dekat desa. Lahan tersebut kemudian dibuat kavling dan para peternak dipersilakan memakai, tentu saja dengan pembagian yang adil sesuai kebutuhan.

“Peternak yang punya banyak sapi bisa ambil dua kavling sekaligus,” terang Ragil yang sembari menunjuk papan daftar anggota yang berjumlah 33 orang. " “Rata-rata peternak punya satu kavling dengan tiga sampai lima sapi."

Sapi Hibah dari Pemerintah

Ragil mengungkapkan, sebagian peternak Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu memelihara sapi hibah dari pemerintah, bukan milik pribadi. Sistemnya, sapi hibah dipinjamkan kepada peternak, tapi setelah beranak, anak sapi itu diberikan kepada peternak lain. Begitu seterusnya.

"Ternak sapi ini adalah usaha keluarga. Semua anggota keluarga saling membantu," tutur Ragil sembari membetulkan letak masker buff yang menutupi mulutnya. "Hasilnya, sapi jantan diambil dagingnya, yang betina diperah susunya."

Yang dikatakan Ragil memang benar. Saya sempat melihat sebuah keluarga yang tengah mengurus sapi-sapi mereka di kandang. Wahyu Nur Hidayat, salah seorang di antaranya. Dia ternyata adalah anak Nurdi, sang ketua kelompok. Bersama ibu dan adiknya, mereka sedang menyiapkan pemerahan susu.

Saat saya menyambangi mereka, adiknya tengah memandikan sapi, sedangkan Wahyu menguleni pakan. Sementara, ibunya sedang menyiapkan minyak goreng, pelumas pengganti lotion untuk puting sapi sebelum diperah.

Diperah Dua Kali Sehari

Wahyu memaparkan, sapi memang sebaiknya dimandikan sebelum diperah. Tujuannya, supaya rileks dan bersih, sehingga susu yang dihasilkan bisa lebih banyak dan steril. Saat memerah, lanjutnya, sapi juga harus diberi makan biar nggak berontak.

“Pakan sapi terdiri atas tiga jenis, yakni komboran (pakan basah) berisi konsentrat, potongan singkong dan kulitnya, serta ampas tahu; campuran kacang hijau dan kedelai giling; dan rumput hijau,” terang Wahyu sambil memberi pakan sapi-sapinya.

Pemerahan sapi, imbuhnya, biasa dilakukan dua kali sehari, yakni pagi antara jam enam sampai sepuluh dan sore sekitar jam tiga sampai lima. Jelang diperah, sapi dimandikan sembari pakan disiapkan. Lalu, selagi sapi makan, area puting sapi diolesi minyak goreng.

"Setelah semua tahap berjalan lancar, susu sapi diperah secara tradisional," terang Wahyu.

Tradisional yang dimaksud Wahyu adalah secara manual, tanpa bantuan mesin perah susu otomatis laiknya kebanyakan tempat perah susu sapi modern. Cara ini sengaja dilakukan Wahyu dkk agar sapi lebih aman.

"Cara tradisional membuat si pemerah tahu saat susu (yang diperah) mulai habis, biar sapi nggak kesakitan," terangnya.

Hasilkan Ratusan Liter Susu 

Berdasarkan penuturan Wahyu, saya tahu bahwa pemerahaan pagi biasanya menghasilkan susu lebih banyak ketimbang sore. Umumnya, seekor sapi menghasilkan 12-20 liter susu per hari, bergantung pada kondisi sapi saat itu.

"Sapi yang sudah tua atau habis melahirkan bakal berpengaruh pada hasil perah,” tutur Wahyu yang juga mengatakan bahwa susu yang dihasilkan nantinya bakal langsung disetor ke pengepul.

Oya, para peternak di Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu biasanya menyetor susu langsung ke Susanti, satu-satunya pengepul di desa tersebut. Kebetulan sore itu saya sempat bertemu dengan sosok perempuan cekatan tersebut.

“Iya, mereka (pemerah susu sapi) datang ke mari pada pagi dan sore (untuk menjual susu hasil perahan), meski ada beberapa pemerah yang memilih menjual secara mandiri,” kata Susanti.

Dia mengungkapkan, Kelompok Tani Peternak Sapi Rejeki Lumintu bisa menghasilkan sekitar 750 liter susu per hari, yang selalu habis di tangan pembeli. Menurutnya, susu tersebut cukup diburu pelanggan karena para peternak berani menjamin kualitasnya oke.

"Sekali dalam sebulan orang Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jateng mengecek secara menyeluruh kualitas produk kami," tandas Susanti sembari menuang susu ke milk can, wadah khusus untuk susu sapi berbahan stainless steel.

Kalau kamu tertarik membeli susu murni yang diperah langsung di peternakannya, mampirlah ke peternakan Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu di Desa Sumurrejo ini ya, Millens! Hm, susu dikasih kopi enak, tuh! (Kharisma Ghana Tawakal/E03)

Ampas tahu, salah satu bahan campuran komboran untuk pakan sapi.
Susanti, satu-satunya pengepul susu sapi di Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu sedang menuang susu dalam <i>milk can</i>.
Berliter-liter hasil perahan susu sapi waktu sore hari.
Sapi-sapi betina penghasil susu sapi di Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu.
Pembeli yang datang membawa susu dalam wadah <i>milk can </i>berbahan <i>stainless steel </i>untuk pasokan ke Ungaran.
Palang di depan gang menuju Kelompok Tani Ternak Rejeki Lumintu.
Topik, salah seorang peternak yang menyiapkan ilalang guna pakan sapi-sapinya.
Hampir seluruh anggota keluarga bahu-membahu mengurus peternakan sapi, termasuk seorang anak yang membantu memberi pakan sapi ini.
Memandikan sapi menjadi bagian penting sebelum pemerahan.
Pemerahan sapi sengaja dilakukan secara manual untuk menghindarkan sapi dari rasa kesakitan.

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: