BerandaAdventurial
Selasa, 8 Sep 2025 13:01

Yang Tersisa dari Kisah Kompleks Kampus UGM Cabang Magelang

Kini, hanya monumen kecil ini yang bisa menjadi penanda UGM cabang Magelang ada ukiran nama staf pengajar dan mahasiswa dan “1964–1978” tertera jelas, menandai masa. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sempat mencetak ratusan sarjana dari tiga fakultas yang tersedia, tapi pada akhirnya UGM Cabang Magelang ditutup permanen pada 1978, menyisakan kompleks bangunan mangkrak yang kini menjadi aset Pemprov Jateng.

Inibaru.id - Semua orang tahu bahwa salah satu kampus negeri terbaik di Indonesia saat ini yakni Universitas Gajah Mada (UGM) berlokasi di Yogyakarta. Namun, tahukah kamu bahwa almamater politikus Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo itu pernah punya cabang di Magelang?

Kalau nggak tahu, kamu nggak sendirian, kok. Bagi sebagian besar orang, termasuk para alumninya sendiri, informasi ini terbilang asing. Bahkan, dalam buku-buku sejarah resmi UGM, kisah ini nyaris nggak mendapat tempat.

Namun, bukan berarti bukti sejarah itu nggak pernah ada, ya. Pergilah ke Kelurahan Cacaban untuk menemukan buktinya. Berjarak sekitar 2,5 kilometer saja dari Alun-Alun Kota Magelang, di desa yang masuk wilayah Magelang Tengah ini terdapat satu bangunan tua yang diyakini sebagai bekas gedung UGM.

Gedung berwarna dominan krem yang diperkirakan berdiri sekitar dekade 1960-an itu butuh perawatan. Catnya memudar dan bingkai jendelanya berkarat dengan kaca yang sudah pecah melompong. Rumput liar merayap memenuhi halaman.

Menandingi Pengaruh PKI

Seseorang menuju monumen penanda adanya UGM Cabang Magelang. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Sunyi, itulah yang bakal kamu temukan jika berkunjung ke bekas bangunan ini; seolah-olah nggak pernah ada riuh mahasiswa di sini. Padahal, konon pernah ada masa ketika kampus cabang Magelang ini melayani hampir 2.000 mahasiswa dalam rentang 14 tahun perjalanan sejarahnya.

Oya, keberadaan UGM di Magelang bermula dari terbentuknya kampus di bawah Yayasan Perguruan Tinggi Magelang (PTM) pada 1962. Yayasan yang dipimpin pejabat sipil dan militer itu berdiri untuk dua alasan: meningkatkan pendidikan warga dan menandingi pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Magelang.

Candra Gustava Wardana, pemerhati sejarah dari Komunitas Mlaku Magelang mengungkapkan, kala itu PKI baru saja merintis Universitas Rakyat Borobudur. Setahun berselang, melalui SK Menteri PTIP No 181, PTM berubah status menjadi kampus negeri dengan nama UGM Cabang Magelang.

"Status 'negeri' hanya berlaku di sisi akademik, sementara urusan keuangan dan administrasi tetap ditangani yayasan," tutur lelaki yang akrab disapa Gus Wista ini. "Tiga fakultas resmi berdiri, yaitu Hukum, Ekonomi, dan Teknik Sipil; dengan dosen-dosen yang sebagian besar didatangkan dari Yogyakarta."

Menelurkan Ratusan Sarjana

Terlihat monumen kecil dengan bagunan yang sudah lama tak terpakai menjadi penanda bahwa UGM Cabang Magelang pernah ada “1964–1978”. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Kompleks UGM Cabang Magelang menempati lahan seluas kira-kira 600 meter persegi. Selain ruang kuliah untuk ketiga fakultas, Gus Wista menyebutkan, mereka juga membangun gedung perkantoran, gazebo di belakang kampus, hingga fasilitas publik seperti lapangan untuk kegiatan mahasiswa.

“Dari gazebo ini, pemandangan Gunung Sumbing dan Bandongan membentang indah. Tempat itu dulu diyakini menjadi favorit mahasiswa melepas penat sambil berdiskusi,” tutur lelaki yang hari itu mengiringi para peserta Mlaku Magelang menjelajahi bangunan tua di sekitar pusat kota Magelang ini.

Sayangnya, usia kampus yang berdiri nggak jauh dari pusat kota ini nggak lama. Gus Wista mengungkapkan, tercatat sebanyak 1.855 mahasiswa pernah berkuliah di UGM Cabang Magelang, dengan ratusan sarjana terlahir dari kampus tersebut, sebelum resmi ditutup pada 12 Agustus 1978.

"Setelah resmi ditutup, seluruh aktivitas perkuliahan dipusatkan kembali ke Yogyakarta. Kompleks kampus yang semula ramai pun perlahan senyap. Gedung sempat digunakan sejumlah institusi sebelum UGM menyerahkannya kepada Pemerintah Provinsi (Jawa Tengah)," tuturnya.

Monumen Staf Pengajar

Gus Wista menjukan foto lama UGM Cabang Magelang. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Di kompleks bangunan mangkrak tersebut, yang tersisa kini hanyalah monumen kecil dengan logo UGM yang tercetak cukup besar dalam bingkai pentagon di atas deretan nama staf pengajar dan mahasiswa yang terukir dengan jelas di dindingnya serta rentang angka tahun “1964–1978” yang menandakan usia kampus tersebut.

Empat belas tahun tentu saja bukanlah usia yang ideal untuk sebuah kampus negeri. Namun, keberadaan bangunan ini menandakan bahwa semangat belajar di Magelang telah terakomodasi sejak lama. Namun, lebih dari itu, UGM Cabang Magelang menunjukkan bahwa pendidikan pun menjadi arena pertempuran ideologi.

"Ia adalah saksi bahwa pendidikan telah lama menjadi arena pertempuran ideologi," tutup Gus Wista.

UGM Cabang Magelang adalah bukti bahwa ketika institusi pendidikan hanya didirikan untuk kepentingan politik, keberadaannya rentan tergoyahkan dan bisa disuntik mati kapan saja, apalagi jika tujuan sudah tercapai. Gimana menurutmu, Gez? (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Blok GM, Surga Anak Skena, dan Wajah Baru Kota Semarang saat Malam

9 Apr 2026

Puting Beliung Terjang Banyumanik, Pemkot Semarang Akan Perbaiki Rumah Warga Terdampak

9 Apr 2026

Kembalikan Ruh, Tiket Masuk Resmi Ditiadakan dalam Tradisi Bulusan

9 Apr 2026

Pecinan Semarang Bakal Dikelilingi Arak-arakan 50 Kelenteng Akhir Pekan Ini!

10 Apr 2026

30 Persen Jemaah Haji asal Semarang Masuk Kategori Muda, Puluhan di Antaranya Gen Z

10 Apr 2026

Kolaborasi AMSI dan Meta untuk Dukung Jurnalisme Berkualitas

10 Apr 2026

Jaga Produksi, Pengusaha Tahu Semarang Putar Otak saat Harga Kedelai dan Plastik Naik

10 Apr 2026

Ogah Cuma Jadi Formalitas, Sumanto Pengin Bedah LKPJ 2025 Hasilkan Solusi Nyata buat Jateng

11 Apr 2026

Investasi buat Anak Cucu, Sumanto Ajak Relawan Jaga Kali-Rawat Bumi

12 Apr 2026

Kecelakaan (Lagi) di Silayur Semarang, Mau sampai Kapan?

12 Apr 2026

Bernuansa Spiritual, Tradisi Kirab Kelenteng di Pecinan Semarang

13 Apr 2026

Lansia Dominasi Calhaj Asal Semarang, Kesehatan jadi Tantangan Serius

13 Apr 2026

ASN Jateng WFH Tiap Jumat, Sumanto: Jangan Sampai Pelayanan Publik Malah Libur

13 Apr 2026

Dishub Perketat Akses Masuk ke Silayur, Dua Portal Disiapkan untuk Batasi Truk Tronton

14 Apr 2026

Forbasi Matangkan Struktur Organisasi via Rakernas dan Sertifikasi Juri-Pelatih

14 Apr 2026

Ikhtiar Warga Silayur, Kembalikan Tradisi Ruwatan untuk Keselamatan Pengguna Jalan

14 Apr 2026

Grup Cowok: Batas Tipis antara Bercanda dan Pelecehan Seksual

15 Apr 2026

Menanti Surpres, Nasib RUU PPRT Kini di Tangan Presiden

15 Apr 2026

Temuan Fosil Purba di Bumiayu, Diduga Lebih Tua dari Sangiran

16 Apr 2026

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: