BerandaAdventurial
Kamis, 6 Agu 2025 13:33

Sejumlah Alasan Mengapa Tektok Gunung Digemari Pendaki

Belakangan ini banyak sekali pendaki muda yang lebih suka tektok atau naik-turun gunung sekali jalan alih-alih bermalam dulu di puncak. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Tektok atau naik-turun gunung dalam sehari kini jadi pilihan banyak pendaki muda karena lebih fleksibel, hemat waktu dan biaya, meski tetap butuh persiapan fisik dan perlengkapan yang matang.

Inibaru.id – Linimasa di media sosialku belakangan ini lagi banyak banget yang ngunggah pengalaman mereka saat naik gunung. Namun, yang bikin heran, di antara foto dan video teman-teman lagi mendaki itu, tampaknya nggak banyak yang sharing pengalaman saat nge-camp.

Penasaran, aku pun sempat tanya ke beberapa teman. Jawaban mereka pun sama, yakni mereka memang sengaja nggak bermalam di puncak agar bisa naik-turun gunung dalam sekali jalan. Untuk yang belum tahu, gaya naik gunung seperti itu dikenal dengan istilah "tektokan".

Pertanyaanku selanjutnya, apa nggak capai mendaki gunung dengan cara itu? Alih-alih mendapatkan jawaban, seorang teman malah mengajakku mempraktikkannya langsung.

Dengan pengalaman mendaki yang sangat minim, rasa penasaran akhirnya membawaku mencoba tektok gunung pertamaku ke Puncak Songolikur, titik tertinggi Gunung Muria. Gunung yang memuncaki Jepara, Kudus, dan Pati nggak terlalu tinggi sehingga bisa ditempuh naik-turun dalam sehari.

Alasan Memilih Tektok

Banyak alasan yang membuat para pendaki pemula memilih tektok gunung daripada <i>camping</i>. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Dengan kemampuan seadanya, aku berhasil naik-turun Muria dalam sehari tanpa bermalam di puncak. Terasa capai hingga berhari-hari setelahnya, tapi jujur aku merasa sangat puas. Sembari menceritakan pengalamanku di media sosial, aku pun melontarkan pertanyaan: Kalian lebih memilih tektok apa ngecamp dan kenapa?

Cukup banyak respons yang kuterima, tapi yang paling umum adalah karena masalah waktu. Karena hanya memiliki waktu libur pada akhir pekan, mereka bilang, pilihan yang paling masuk akal tentu saja adalah tektokan.

Isa, misalnya, mengaku pernah tektok Gunung Sumbing hanya bermodalkan nekat. Pernyataan ini tentu saja cukup membuatku kaget, mengingat gunung yang mengatapi tiga kabupaten, yakni Magelang, Temanggung, dan Wonosobo itu lumayan tinggi, sekitar 3.300-an mdpl.

Gunung Muria yang hanya setinggi 1.600-an mdpl sudah cukup melelahkan bagiku, apalagi Gunung Sumbing yang lebih dari dua kali lipatnya? Ketika kutanyakan kepada Isa, dia hanya menjawab dengan emot tawa.

“Mau gimana lagi? Nggak ada waktu buat ngecamp, karena besoknya harus kerja,” tulis Isa via DM Instagram. “Naik-turun sekitar 12 jam lebih. Capek! Nggak rekomen buat yang persiapan fisiknya kurang!”

Praktis dan Lebih Hemat

Walaupun tektok hanya sehari, persiapan fisik dan perlengkapan yang matang juga sangat diwajibkan untuk mendaki gunung. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Karena sangat menguras tenaga, tektok memang nggak disarankan untuk gunung dengan ketinggian lebih dari 3.000-an mdpl. Inilah yang disarankan Andika Usman. Lelaki yang biasa kusapa Mas Us ini memang cukup sering tektok gunung.

"Aku lebih suka tektokan karena praktis dan hemat," tutur pemuda asal Magelang yang beberapa kali tektok di Gunung Andong yang dekat dengan rumahnya ini. "Bulan lalu, kali terakhir aku naik Andong banyak barengan, tapi sedikit yang ngecamp. Kebanyakan tektok."

Jika harus menginap, Mas Us mengungkapkan, dia harus sewa alat karena belum punya sendiri. Kebutuhan logistik selama pendakian juga lebih banyak. Belum lagi kebutuhan lain yang cukup membebani. Meski banyak alat mendaki yang murah, menurutnya tetap akan lebih murah jika tektokan.

"Kalau naik Gunung Andong yang dekat dengan rumah memang lebih praktis dengan tektokan. Alasan utamanya karena hemat, sih!" kata dia.

Sulit Mengejar Sunrise

Warung di puncak gunung Andong memiliki view yang ciamik. (Dok Andika Usman)

Menurut Mas Us, mendaki gunung bukan hanya tentang ketahanan fisik. Biaya pendakian juga perlu menjadi pertimbangan. Selain logistik seperti konsumsi, kesehatan, dan P3K, perlengkapan mendaki juga perlu masuk perhitungan.

“Kalau di Andong, biaya simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) untuk tektok atau ngecamp sama. Namun, karena tektok nggak perlu sewa alat atau bawa logistik bermalam, cara ini jelas lebih hemat,” jelas pemuda 25 tahun itu.

Meski begitu, bukan berarti tektokan nggak punya kekurangan. Mas Us menyebutkan, kelemahan tektok adalah sulit untuk mengejar sunrise, kecuali benar-benar mempertimbangkan kapan waktu naiknya. Namun, menurutnya hal itu nggak menjadi masalah baginya karena dia nggak selalu mengejar matahari terbit.

“Kemarin aku naik emang nggak ngejar sunrise, apalagi cuaca lagi dingin-dinginnya. Jadi, tektok adalah cara yang paling masuk akal,” pungkasnya.

Berdasarkan penuturan teman-temanku, aku simpulkan bahwa nggak semua orang tektokan karena fomo, tapi lantaran menyesuaikan diri dengan bujet dan ritme keseharian yang nggak memungkinkan untuk menikmati pendakian selama berhari-hari. Menurutmu, adakah alasan lain? (Rizki Arganingsih/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Istana Kepresidenan Yogyakarta Kini Bisa Dikunjungi Gratis, Ini Syarat dan Cara Daftarnya

16 Jul 2026

Mengenal Kalender Aboge, Sistem Penanggalan Jawa-Islam yang Masih Bertahan hingga Kini

17 Jul 2026

OSC Award 2026 Umumkan 116 Penerima Beasiswa S1 Penuh, Pendaftar Tembus 7.600 Peserta

17 Jul 2026

Ragam Upacara Adat Jawa dari Kehamilan hingga Kematian, Sarat Makna dan Nilai Kehidupan

18 Jul 2026

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: