BerandaAdventurial
Selasa, 2 Nov 2020 18:00

Romantisme Bioskop di Kota Semarang dan Film-Film yang Diputar

Romantisme Bioskop di Kota Semarang dan Film-Film yang Diputar

Bekas Gedung Bioskop Banyumanik Theater yang berlokasi di belakang Rumah Sakit Hermina. (Inibaru.id/ Audrian F)

Nggak kurang dari 27 gedung bioskop pernah berdiri di Kota Lunpia. Dari semua bioskop itu memiliki kisah dan karakteristiknya masing-masing. Apa saja?<br>

Inibaru.id - Mungkin, hampir semua orang merindukan nonton film di bioskop. Pandemi membuat pintu gedung layar lebar ditutup rapat-rapat selama lebih dari setengah tahun. Beberapa kali ada wacana bioskop bisa beroperasi, tapi yang terakhir, ada protokol kesehatan yang nyebelin banget!

Sejak lama bioskop memang menjadi alternatif hiburan bagi banyak orang, termasuk saya. Sebelum pandemi, delapan bioskop yang masih beroperasi di Kota Semarang selalu dipenuhi antrean panjang, khususnya saat memutar film-film populer.

Kegandrungan warga Kota Lunpia akan tontonan di bioskop nggak hanya terjadi pada era kiwari. Puluhan tahun silam, Semarang bahkan memiliki 27 gedung bioskop. Hal ini seperti diungkapkan Imam Rahmayadi, pengamat film cum penikmat bioskop di Kota Semarang sejak 1980-an.

Imam menggandrungi film sejak usia belia. Bahkan. hampir tiap akhir pekan dia mengharuskan diri nonton di bioskop. Nggak hanya di satu tempat, dia mengklaim pernah mencoba semua bioskop di Semarang.

Ramainya bioskop nggak hanya di masa kiwari. Puluhan tahun silam, bioskop sudah riuh di Kota Atlas ini. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Ramainya bioskop nggak hanya di masa kiwari. Puluhan tahun silam, bioskop sudah riuh di Kota Atlas ini. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Menurut Imam, bioskop di Semarang punya kekhasan masing-masing, tergantung di daerah mana fasilitas apa yang diberikan. Bioskop-bioskop kala itu, lanjutnya, memang menunjukan sekat antarkelas sosial.

Untuk kalangan menengah ke atas, ada lima bioskop yang mewakili, yakni Studio 1 di Puri Anjasmoro, Bioskop Gris di Jalan Pemuda, Kanjengan Theater, Gelora di jalan Dr Cipto, dan Sri Indah.

Bioskop kelas atas memiliki ciri yang mirip, mulai dari fasilitas, harga, hingga jenis film yang diputar. Kala itu, harga tiketnya antara Rp 500 hingga Rp 750. Kursinya empuk dan pakai AC.

Imam paling suka Kanjengan Theater, yang dianggapnya sebagai bioskop modern pertama di Semarang, yang sudah dilengkapi eskalator. Anak-anak pinggiran dulu sering datang ke tempat tersebut sekadar untuk naik eskalator.

“Waktu pembukaan, (Kanjengan Theater) memutar film Gejolak Kawula Muda,” kenang Imam saat saya temui, belum lama ini.

Sayang, buruknya manajemen pengelolaan membuat kemewahan gedung bioskop ini nggak bertahan lama. Lingkungan di sekitar Kanjengan Theater yang termasuk "zona hitam" juga membuat wilayah tersebut mengalami kerusakan di mana-mana.

Sudah Ada Sejak Kolonialisme Belanda

Paragon Mall yang dulu sebagai Gedung Bioskop Gris. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)<br>

Selain Kanjengan Theater, bioskop kelas atas yang lekang dalam ingatan Imam adalah Bioskop Gelora. Konon, bioskop ini merupakan yang tertua, yang sudah ada sejak zaman kolonialisme Belanda. Di gedung tersebut ada balkon khusus untuk orang-orang Belanda.

“Meski tinggal di Kota Lama yang serba tertutup, orang-orang Belanda kalau mau nonton film larinya ke Gelora,” ujarnya, mengenang romantisme gedung Gelora yang kini sudah menjadi sebuah ruko.

Lalu, yang nggak kalah menarik adalah Bioskop Gris di Jalan Pemuda atau yang dulu disebut Jalan Bodjong. Di jalan tersebut, ada dua bioskop yang berdiri, yakni Gris dan Semarang Theater yang berlokasi tepat di depannya.

Kendati berhadapan, kedua bioskop itu beda kelas. Semarang Theater menjual tiket yang lebih murah dan memutar film-film bergenre anak muda, dari film yang dibintangi Didi Petet hingga Onky Alexander.

Saat ini, dua bangunan bioskop itu sudah beralih fungsi. Yayuk, penjual kacang sangan asin yang beberapa waktu lalu saya temui pernah mengatakan, pada masa kejayaannya, kedua bioskop ini sangat ramai, yang berimbas pada penjualan kacang di tempatnya.

Sebelum ada pop corn, kacang kulit memang menjadi camilan yang kerap dibawa orang saat menonton film di bioskop. Selain kacang, ada pula permen kokoriko, yang ditemani minuman kaleng seperti Sprite atau Fanta.

Yayuk, penjual kacang sangan legendaris di depan Paragon City Mall. (Inibaru.id/ Audrian F)

Ada bioskop kelas atas, ada pula yang kelas menengah. Imam memasukkan Bioskop Indera di Jalan Dr Cipto, Kencana Theater di Kaligawe, Merdeka di Bugangan, dan Palapa di Jalan Majapahit, sebagai bioskop kelas semenjana.

Bioskop kelas menengah memiliki fasilitas di bawah bioskop elit: tempat duduk dari kayu dan penyejuk ruangan menggunakan kipas angin besar. Harga tiketnya terbilang murah, sekitar Rp 150.

“Bioskop-bioskop (kelas menengah) ini cenderung lebih laris karena jadi pelarian bagi mereka yang nggak bisa menonton di bioskop mahal,” tutur Imam, yang kemudian berkelakar, saat film diputar penonton kadang bisa melihat tikus berseliweran di dalam gedung. Duh!

Ada yang Memutar Film Khusus

Toko Trend sebagai bekas Gedung Bioskop Rahayu. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Selain dibedakan kelas sosialnya, beberapa bioskop juga hanya memutar film-film khusus yang diminati masyarakat sekitar. Misalnya, Bioskop Rahayu yang saat ini telah beralih fungsi menjadi toko sepatu Trend.

Berlokasi nggak jauh dari Pekojan, sekitar sepelemparan batu dari Alun-alun Semarang dan Pasar Johar, bioskop dengan harga tiket yang sangat nyaman di kantong itu kerap memutar film-film India yang berdurasi hingga tiga jam.

Sementara, Bioskop Ria dan Jagalan Theater yang berada di sekitar Pecinan lebih sering menampilkan film-film bercita rasa Tiongkok.

“Kalau Ria spesialis film silat, misalnya Andy Lau, Chow Yun Fat, Anita Mui, dan Moon Lee. Kalau Jagalan seringnya drama Mandarin,” kata Imam.

Bekas Gedung Bioskop Ria di Pecinan. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>

Bioskop lain yang juga memutar film khusus adalah Peterongan Theater. Bukan film India atau Tiongkok, bioskop ini justru memutar film lokal Tanah Air, tapi khusus legenda seperti Nyi Blorong, Joko Sembung, dan Si Buta dari Goa Hantu.

Selain spesialis genre legenda, Peterongan Theater juga dikenal masyarakat lantaran memakai cara yang unik dalam mempromosikan film yang akan tayang.

“Kalau ada film baru, biasanya ada mobil yang pakai TOA (mempromosikan film) keliling MT Haryono,” ujar Imam.

Nggak cuma menjadi tempat menonton film, bioskop yang dikenal dengan antrean panjang para penontonnya ini juga menyediakan hiburan tambahan, berupa permainan ding-dong.

Saya nggak menyangka Kota Semarang punya berbagai macam bioskop semacam itu. Untuk lebih lengkapnya, saya sertakan ke-27 bioskop yang pernah ada di Semarang. Sambil diingat-ingat lagi, yuk, kita pernah nonton di bioskop mana saja! Ha-ha.

Daftar Eks Bioskop di Kota Semarang:

  1. Tugu Indah di Jrakah;
  2. Rajawali, Jalan Jenderal Sudirman;
  3. Siliwangi Theater  Jalan Jenderal Sudirman;
  4. Studio 1 Jalan Puri Anjasmara (sekarang jadi Giant);
  5. Semarang Theater Jalan Pemuda;
  6. Gris (Gedung Rakyat Indonesia Semarang) sekarang Paragon Mal;
  7. Rahayu Theater, dekat Alun-alun Johar;
  8. Kanjengan Theater, kompleks Pasar Johar;
  9. Taman Hiburan Diponegoro (THD) Jalan H Agus Salim;
  10. Semarang Center Djohar (SCD), Matahari Johar;
  11. Merdeka Theater Jalan Bugangan (PasarBugangan);
  12. Kencono Theater Jalan Raya Kaligawe;
  13. Gelora Theater Jalan Mataram/ MT Haryono;
  14. Indera Theater Jalan Mataram;
  15. Peterongan Theater Jalan Mataram;
  16. Metro Theater Jalan Mataram (sekarang Java Mal);
  17. Taman Hiburan Rakyat (THR) Jalan Sriwijaya;
  18. Gajahmada Theater Simpang Lima Semarang;
  19. Bahari/Admiral Theater Jalan Ki Mangun Sarkoro;
  20. Manggala Theater di Jalan Gajah mada;
  21. Murni Theater di Jalan Gajahmada;
  22. Sri Indah Theater (SIT) di Jalan Gajahmada;
  23. Ria Theater Jalan Kompleks Pecinan;
  24. Jagalan Theater di Jalan Jagalan;
  25. Palapa Theater di Jalan Majapahit;
  26. Karina Theater di Jalan Sukun;
  27. dan Banyumanik Theater di Banyumanik (belakang RS Hermina).

(Audrian F/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Iri dan Dengki, Perasaan Manusiawi yang Harus Dikendalikan

27 Mar 2025

Respons Perubahan Iklim, Ilmuwan Berhasil Hitung Jumlah Pohon di Tiongkok

27 Mar 2025

Memahami Perasaan Robot yang Dikhianati Manusia dalam Film 'Companion'

27 Mar 2025

Roti Jala: Warisan Kuliner yang Mencerminkan Kehidupan Nelayan Melayu

27 Mar 2025

Jelang Lebaran 2025 Harga Mawar Belum Seharum Tahun Lalu, Petani Sumowono: Tetap Alhamdulillah

27 Mar 2025

Lestari Moerdijat: Literasi Masyarakat Meningkat, tapi Masih Perlu Dorongan Lebih

27 Mar 2025

Hitung-Hitung 'Angpao' Lebaran, Berapa Banyak THR Anak dan Keponakan?

28 Mar 2025

Setengah Abad Tahu Campur Pak Min Manjakan Lidah Warga Salatiga

28 Mar 2025

Asal Usul Dewi Sri, Putri Raja Kahyangan yang Diturunkan ke Bumi Menjadi Benih Padi

28 Mar 2025

Cara Menghentikan Notifikasi Pesan WhatsApp dari Nomor Nggak Dikenal

28 Mar 2025

Hindari Ketagihan Gula dengan Tips Berikut Ini!

28 Mar 2025

Cerita Gudang Seng, Lokasi Populer di Wonogiri yang Nggak Masuk Peta Administrasi

28 Mar 2025

Tren Busana Lebaran 2025: Kombinasi Elegan dan Nyaman

29 Mar 2025

AMSI Kecam Ekskalasi Kekerasan terhadap Media dan Jurnalis

29 Mar 2025

Berhubungan dengan Kentongan, Sejarah Nama Kecamatan Tuntang di Semarang

29 Mar 2025

Mengajari Anak Etika Bertamu; Bekal Penting Menjelang Lebaran

29 Mar 2025

Ramadan Tetap Puasa Penuh meski Harus Lakoni Mudik Lebaran

29 Mar 2025

Lebih dari Harum, Aroma Kopi Juga Bermanfaat untuk Kesehatan

29 Mar 2025

Disuguhi Keindahan Sakura, Berikut Jadwal Festival Musim Semi Korea

29 Mar 2025

Fix! Lebaran Jatuh pada Senin, 31 Maret 2025

29 Mar 2025