BerandaAdventurial
Senin, 27 Jul 2025 13:06

Menghidupkan Kembali Warisan Intelektual Syekh Abdul Hamid Kudus

Pengunjung sedang mendokumentasian sebuah kitab yang dipamerkan di beberapa sudut ruangan. (Inibaru.id/ Imam Khanafi)

Nggak banyak yang tahu bahwa Syekh Abdul Hamid Kudus bukanlah ulama dari Timur Tengah, tapi bumiputera Nusantara yang lahir di Kudus. Di pameran yang digelar di Kompleks Menara inilah informasi itu terkonfirmasi.

Inibaru.id - Kompleks Menara Kudus, seperti biasa, selalu ramai. Nggak peduli pagi, siang, atau sore, para pengunjung terus mengalir berdatangan tanpa henti, nggak terkecuali hari itu, sekitar pertengahan Juli 2025 lalu, saat pameran bertajuk Intelektual Syekh Abdul Hamid Kudus dan Jejak Ulama Kudus dalam Khasanah Keilmuan Islam digelar.

Sekelompok pengunjung tampak malu-malu menyambangi pameran, sementara yang lain hanya berdiri lama di depan meja berkaca yang mematut lembaran-lembaran tua beraksara Arab gundul atau tanpa harakat. Naskah-naskah klasik yang lama tak tampak itu seakan kembali bernapas.

Bertempat di selasar kompleks Masjid Menara yang berada di jantung kota Kudus, pameran ini bukan sekadar event seremonial, tapi awal dari sebuah misi besar, yakni Jelajah Turots Nusantara (Jalantara) zona Jawa-Madura, yang kemudian akan berlanjut ke Sumatera, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara Barat.

“Kami ingin menyulut kembali obor yang dulu pernah terang di bumi Nusantara,” kata KH Utsman Hasan Al-Akhyari, Ketua Nahdlatut Turrots, membuka percakapan dengan suara rendah tapi mantap kepada Inibaru.id.

Pengunjung sedang melihat beberapa kitab dipamerkan di beberapa sudut ruangan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Yang menjadi sorotan adalah tokoh sentral, Syekh Abdul Hamid Kudus; ulama besar kelahiran 1860 yang karyanya mengalir deras di bidang tata bahasa Arab, fikih, dan sastra tinggi.

Di antara manuskrip yang dipamerkan, satu judul menjadi magnet utama, yakni Fathul Aliyyil Karim fi Maulidin Nabiyil Adzim, sebuah kitab maulid yang sempat hilang, tapi kini telah kembali dipublikasikan.

Salah satu kitab lawas yang dipamerkan (Inibaru.id/Imam Khanafi)

“Bahasa yang dipakai Kiai Hamid itu sastra tinggi, tapi anehnya terasa seperti bahasa kita sendiri. Dekat. Tidak asing,” ujar Utsman sambil menunjukkan salinan kitab dengan sampul hijau tua, yang ditulis tangan dengan tinta yang mulai memudar.

Di lembar lain, terlihat karya seperti Latihaful Isyarat dan Athufah Al-Mardiyah, naskah-naskah yang membuktikan kapasitas keilmuan Syekh Abdul Hamid sebagai ulama mutafannin, sosok polymath yang menguasai banyak cabang ilmu sekaligus secara menyeluruh.

Asli Kudus, Bukan dari Timur Tengah

Panitia pemeran sedang menjelaskan kepada pengnjung. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Selama ini, nama Syekh Abdul Hamid Kudus kerap disangka berasal dari Timur Tengah karena reputasinya sebagai pengajar di Masjidil Haram, Mekkah. Nah, pameran ini mengonfirmasi bahwa sejatinya dia adalah bumiputera asli Kudus—darah, tanah, dan ilmunya.

“Banyak orang baru tahu bahwa beliau bukan dari luar negeri, tapi dari kampung kita sendiri,” tutur Utsman. “Turots ini napas, bukan fosil, yang menyambungkan kita dengan mereka yang meletakkan fondasi peradaban Islam di tanah ini.”

Pengunjung sedang melihat beberapa kitab yang dipamerkan di beberapa sudut ruangan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Tak hanya para kiai dan santri senior, pameran ini juga menyedot perhatian generasi muda. Salah satunya adalah Bani, mahasiswa salah satu universitas di Kudus yang datang bersama beberapa temannya.

“Melihat langsung karya ulama Nusantara rasanya seperti disentuh sejarah,” katanya. “Kami terbiasa dengan kitab terbitan Timur Tengah, tapi jarang menyadari kekayaan ilmu dari ulama sendiri.”

Menurut Bani, pengalaman ini bukan sekadar intelektual, tapi emosional. “Saya merasa diajak pulang,” ucapnya lirih.

Kudus adalah Rumah yang Layak

Salah satu sudut pemeran yang memperlhatkan ulama-ulama Kudus. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) KH Muhammad Fathan mengaku menyambut baik acara ini. Menurutnya, Kudus bukan hanya tempat lahir tokoh besar, tapi juga rumah yang layak bagi warisan ilmu mereka.

“Banyak santri luar daerah yang mondok di sekitar Menara karena ingin belajar langsung dari sumber. Pameran ini mempertegas Kudus sebagai pusat keilmuan,” katanya.

Beberapa mahasiswa sedang melihat kibat kuno yang dipamerkan di beberapa sudut ruangan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

Fathan menyebut cita-cita para pendiri yayasan seperti KH Asnawi dan KH Hamid terus dijaga lewat gerakan-gerakan seperti ini.

“Kalau bukan kita yang mengenalkan turots ini ke publik, siapa lagi?” tuturnya.

Oya, terkait Program Jalantara, Utsman menargetkan, akan ada dokumentasi 500 naskah kuno hingga 2026 mendatang. Menurutnya, itu merupakan angka yang ambisius, tapi bukan berarti mustahil.

Pengunjung sedang melihat beberapa peninggaan bagunan masjid menara Kudus yang juga dipamerkan di beberapa sudut ruangan. (Inibaru.id/Imam Khanafi)

“Setiap naskah adalah mata rantai,” tegas Utsman. “Kita boleh belajar dari luar, tapi jangan sampai tercerabut dari akar. Dan akar itu ada di sini, di tangan para ulama Nusantara yang menulis, mengajar, dan mencintai negeri ini dalam diam mereka.”

Ketika langit mulai petang, dan pengunjung terakhir keluar dari area pameran, lembaran-lembaran turots itu tetap tinggal di balik kaca. Namun, mereka kini lebih dari sekadar benda lama, tapi bara yang mulai menyala lagi. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

HP Gratis dengan Rekening Digital Diusulkan untuk Penyaluran Bansos

15 Okt 2026

Dari Jepara ke Sarajevo, Merawat Ukiran dan Diplomasi yang Tak Selesai di Meja Pertemuan

16 Okt 2026

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: