BerandaAdventurial
Selasa, 23 Des 2019 13:12

Kampoeng Wisata Taman Lele, Menemu Kesejukan bersama Ikan-Ikan

Taman Lele Semarang. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Suka dengan wisata yang berbau ikan? Eits, kamu nggak harus berkunjung ke laut untuk menyambangainya. Di Semarang ada tempat rekreasi murah meriah bernama Kampoeng Wisata Taman Lele yang bisa jadi pilihan untuk mengisi akhir pekan.

Inibaru.id – Sebuah gerbang terbuat dari bebatuan seperti batu candi berdiri menjulang menyambut saya memasuki Taman Lele. Di samping sebelah kanan gerbang terdapat ruang membeli tiket seharga Rp 4.000. Usai membayar dan masuk, saya melihat sebuah kolam besar berisi banyak ikan. Di tengahnya ada gazebo kecil yang berhubungan dengan Hotel Kampoeng Wisata Taman Lele.

Di samping kolam itu ada beberapa kursi santai yang terasa rindang karena banyak pohon. Saya seperti mengalami deja vu. Padahal ini baru pertama saya berkunjung. Mungkin hal ini terjadi karena pernah menonton film teenlit pas saya remaja atau hal lain yang nggak saya ingat lagi. Saya duduk sebentar di salah satu kursi, rasanya adem dan tenang.

Tempat duduk di pinggir kolam. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Saya melihat pula becak air yang berderet-deret di pinggir kolam, tapi nggak terpakai karena posisinya seperti dianggurkan. Nggak jauh dari kolam utama depan hotel, juga terdapat kolam renang yang diberi nama Kolam Keceh. Buka hari Senin-Jumat dari pukul 08.30-15.30 WIB, pas saya datang kolam ditutup. Saat itu sepertinya kolam tengah dikuras karena nggak ada air.

Memasuki Taman Lele lebih jauh, banyak spot bermain anak-anak yang saya lihat. Di tempat itu ada jungkat-jungkit, perosotan, bandulan, dan sebagainya. Selain itu juga ada kandang-kandang binatang berisi hewan seperti ular, kalkun, ayam langka, hingga merpati. Seorang laki-laki berumur 40-an memberi makan pada salah satu hewan dalam kandang.

Di Taman Lele juga terdapat area pembibitan tanaman. Seperti tanaman Sapu Tangan (Maniltoa grandiflora) yang bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan, Keben (Barringtonia asiatica) yang bermanfaat untuk mata, juga tanaman-tanaman lain.

Kolam keceh. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Di bagian ujung area wisata ada sebuah tempat kecil bernama Taman Naga Gini. Di sana ada patung seorang perempuan berdiri bersama seekor ular. Bulu kuduk saya langsung berdiri ketika mengamati patung tersebut. Seperti ada hal mistis. Maklum saya teringat dengan Nyi Tuk Sari penunggu sumber mata air (sendang) Taman Lele.

Padahal menurut Kasubag TU Taman Lele Sri Sumiyati patung tersebut hasil kompetisi lomba untuk karyawan dalam rangka menghias tempat wisata agar tambah menarik. “Naga Gini nggak ada mitosnya. Dulu patung itu lomba, bagian lomba 17-an bagi kreativitas karyawan. Kan kita pariwisata, jadi bagaimana cara mengembangkan biar menarik orang,” katanya.

Hm, saya lumayan lega mendengarkan penjelasan itu.

Di depan Taman Naga Gini juga terdapat panggung lumayan besar. Saat saya mendekat ada sekumpulan mahasiswa yang tengah melakukan diskusi. Perempuan bernama Kurnia Pangesti Avesiana merupakan salah seorang dari kelompok tersebut. Dia mengatakan pergi ke Taman Lele bersama teman-temannya karena ada rapat kerja organisasi kampus.

“Di sini dekat kampus, tempatnya strategis. Meski kalau dikatakan sebagai tempat wisata masih kurang maksimal. Mungkin ketika masuk arsitektur gerbangnya wah, dari dalam kurang jadi tempat wisata yang menarik bagi warga sekitar,” kata mahasiswi jurusan PAI UIN Walisongo tersebut.  

Area bermain anak di Taman Lele. (Inibaru.id/ Isma Swastiningrum)

Memang pas saya berkunjung tempat tersebut lumayan sepi. Sri Sumiyati pun menjelaskan di hari-hari biasa pengunjungnya nggak terlalu banyak, kadang hanya 20 pengunjung sehari. “Minggu weekend sampai 500 dari luar  kota. Pas Sabtu nggak begitu ramai,” ujarnya.

Hm, menurut saya sendiri Taman Lele sangat sejuk, Millens. Enak buat ngadem. Karena relatif sepi, tempat ini cocok juga buat kamu yang nggak terlalu suka keramaian. (Isma Swastiningrum/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: