Inibaru.id - Ngomongin soal tradisi di Jawa memang nggak pernah ada habisnya ya, Gez! Apalagi kalau sudah mendekati bulan suci Ramadan, suasana desa pasti mendadak jadi makin hangat dan guyub. Salah satu yang paling ikonik tentu saja Nyadran.
Tapi, pernah nggak sih kamu bayangin makan besar bareng warga satu desa, tapi lokasinya justru di area pemakaman? Eits, jangan merinding dulu! Ini bukan adegan film horor, melainkan tradisi turun-temurun yang sarat makna dan kasih sayang.
Jejak Sejarah: Dari Majapahit hingga Wali Songo
Nyadran bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa. Akar tradisinya kuat banget, bahkan sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Konon, nyadran berasal dari ritual Shraddha pada zaman Kerajaan Majapahit. Dulu, ritual ini dilakukan para raja untuk menghormati leluhur mereka yang telah tiada.
Nah, ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa, para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga melihat tradisi ini punya potensi besar sebagai sarana dakwah. Alih-alih menghapusnya, para wali melakukan "akulturasi" yang cantik banget. Doa-doa lama perlahan diganti dengan pembacaan tahlil, zikir, dan doa-doa secara Islami tanpa menghilangkan kearifan lokalnya. Inilah yang bikin Islam di Jawa terasa sangat sejuk dan bisa diterima siapa saja.
Prosesi yang Bikin Hati Adem
Nyadran biasanya terdiri dari beberapa rangkaian yang seru buat diikuti:
- Besik (Pembersihan Makam): Prosesi dimulai dengan gotong-royong membersihkan makam leluhur dari rumput liar dan sampah. Ini simbol kalau kita harus membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.
- Nyekar (Tabur Bunga): Setelah bersih, warga bakal menaburkan bunga mawar, melati, dan kenanga di atas pusara. Aroma bunga yang semerbak ini bikin suasana makam jadi tenang dan nggak seram sama sekali.
- Kenduri dan Kembul Bujana: Inilah puncaknya! Warga bakal duduk bersila di atas tikar panjang yang digelar di sepanjang jalan makam atau area terbuka sekitarnya. Mereka membawa ambengan (nasi dan lauk-pauk dalam wadah besar) untuk dimakan bareng-bareng.
Kembul Bujana: Saat Semua Kasta Hilang
Momen paling epik dari nyadran adalah saat kembul bujana atau makan bersama. Di sini, status sosial benar-benar luntur, Gez. Nggak peduli kamu orang kaya, pejabat, atau warga biasa, semua duduk sama rendah. Menu yang dimakan pun sama. Ada nasi gurih, ayam ingkung, sambal goreng, sampai aneka jajanan pasar.
Menurut beberapa sumber sejarah, filosofi makan bareng di makam ini adalah pengingat bahwa "semua yang bernyawa pasti akan kembali ke tanah". Makan di dekat pusara leluhur seolah menjadi alarm halus buat kita: "Jangan sombong, karena suatu saat kita juga akan menyusul mereka."
Lebih dari Sekadar Makan-Makan
Selain soal spiritual, nyadran adalah ajang silaturahmi paling ampuh. Banyak perantau sengaja mudik lebih awal demi ikut nyadran. Ini adalah cara masyarakat Jawa menjaga kohesi sosial supaya nggak pecah cuma gara-gara perbedaan.
Nyadran mengajarkan kita satu hal penting: seberapa jauh pun kita melangkah, jangan pernah lupa jalan pulang dan siapa asal-usul kita. Menghargai masa lalu adalah cara terbaik untuk melangkah ke masa depan.
Gimana, di daerahmu masih ada tradisi Nyadran nggak? Atau mungkin ada nama unik lain untuk tradisi menyambut Ramadan di desamu? (Siti Zumrokhatun/E05)
