BerandaTradisinesia
Kamis, 14 Jan 2026 18:44

Tradisi Nyadran Jadi Bukti Cinta dan Simbol Kesetaraan Masyarakat Jawa Jelang Ramadan

Nyadran masih banyak dilakukan masyarakat Jawa menjelang Ramadan. (Inibaru.id/ Saiful Anam)

Makan besar di tengah kuburan mungkin terdengar seram bagi sebagian orang, tapi bagi masyarakat Jawa, tradisi Nyadran adalah momen paling hangat untuk menyambut Ramadan. Warisan agung zaman Majapahit yang dikemas cantik oleh Wali Songo ini bukan sekadar ritual tabur bunga, melainkan simbol kerukunan di mana semua kasta lebur dalam satu nampan makanan yang sama.

Inibaru.id - Ngomongin soal tradisi di Jawa memang nggak pernah ada habisnya ya, Gez! Apalagi kalau sudah mendekati bulan suci Ramadan, suasana desa pasti mendadak jadi makin hangat dan guyub. Salah satu yang paling ikonik tentu saja Nyadran.

Tapi, pernah nggak sih kamu bayangin makan besar bareng warga satu desa, tapi lokasinya justru di area pemakaman? Eits, jangan merinding dulu! Ini bukan adegan film horor, melainkan tradisi turun-temurun yang sarat makna dan kasih sayang.

Jejak Sejarah: Dari Majapahit hingga Wali Songo

Nyadran bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa. Akar tradisinya kuat banget, bahkan sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Konon, nyadran berasal dari ritual Shraddha pada zaman Kerajaan Majapahit. Dulu, ritual ini dilakukan para raja untuk menghormati leluhur mereka yang telah tiada.

Nah, ketika Islam mulai masuk ke tanah Jawa, para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga melihat tradisi ini punya potensi besar sebagai sarana dakwah. Alih-alih menghapusnya, para wali melakukan "akulturasi" yang cantik banget. Doa-doa lama perlahan diganti dengan pembacaan tahlil, zikir, dan doa-doa secara Islami tanpa menghilangkan kearifan lokalnya. Inilah yang bikin Islam di Jawa terasa sangat sejuk dan bisa diterima siapa saja.

Prosesi yang Bikin Hati Adem

Para warga berbondong-bondong menuju makam dengan membawa makanan untuk didoakan dan dinikmati bersama. (Inibaru.id/ Saiful Anam)

Nyadran biasanya terdiri dari beberapa rangkaian yang seru buat diikuti:

  1. Besik (Pembersihan Makam): Prosesi dimulai dengan gotong-royong membersihkan makam leluhur dari rumput liar dan sampah. Ini simbol kalau kita harus membersihkan hati sebelum memasuki bulan suci.
  2. Nyekar (Tabur Bunga): Setelah bersih, warga bakal menaburkan bunga mawar, melati, dan kenanga di atas pusara. Aroma bunga yang semerbak ini bikin suasana makam jadi tenang dan nggak seram sama sekali.
  3. Kenduri dan Kembul Bujana: Inilah puncaknya! Warga bakal duduk bersila di atas tikar panjang yang digelar di sepanjang jalan makam atau area terbuka sekitarnya. Mereka membawa ambengan (nasi dan lauk-pauk dalam wadah besar) untuk dimakan bareng-bareng.

Kembul Bujana: Saat Semua Kasta Hilang

Momen paling epik dari nyadran adalah saat kembul bujana atau makan bersama. Di sini, status sosial benar-benar luntur, Gez. Nggak peduli kamu orang kaya, pejabat, atau warga biasa, semua duduk sama rendah. Menu yang dimakan pun sama. Ada nasi gurih, ayam ingkung, sambal goreng, sampai aneka jajanan pasar.

Menurut beberapa sumber sejarah, filosofi makan bareng di makam ini adalah pengingat bahwa "semua yang bernyawa pasti akan kembali ke tanah". Makan di dekat pusara leluhur seolah menjadi alarm halus buat kita: "Jangan sombong, karena suatu saat kita juga akan menyusul mereka."

Lebih dari Sekadar Makan-Makan

Selain soal spiritual, nyadran adalah ajang silaturahmi paling ampuh. Banyak perantau sengaja mudik lebih awal demi ikut nyadran. Ini adalah cara masyarakat Jawa menjaga kohesi sosial supaya nggak pecah cuma gara-gara perbedaan.

Nyadran mengajarkan kita satu hal penting: seberapa jauh pun kita melangkah, jangan pernah lupa jalan pulang dan siapa asal-usul kita. Menghargai masa lalu adalah cara terbaik untuk melangkah ke masa depan.

Gimana, di daerahmu masih ada tradisi Nyadran nggak? Atau mungkin ada nama unik lain untuk tradisi menyambut Ramadan di desamu? (Siti Zumrokhatun/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: