Inibaru.id – Kalau kamu melewati jembatan gantung Kali Cakra yang ada di Desa Kedungpatangewu, Kecamtan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, bakal melihat pondasi jembatan lawas yang sudah nggak digunakan. Banyak orang yang nggak tahu kalau dulu itu adalah pondasi jembatan kereta api pada masa penjajahan Belanda, Millens.
Karena dilintasi jalur kereta utama di sisi utara Pulau Jawa, kebanyakan orang berpikir kalau itu adalah satu-satunya jalur kereta yang eksis di Pekalongan. Padahal, pada masa kolonial, ada jalur kereta lain yang beroperasi di sana, yaitu jalur Pekalongan-Wonopringgo.
Beda dengan jalur kereta utama yang lebih banyak digunakan untuk mengangkut manusia, jalur kereta api yang kini sudah nggak ada ini jadi lebih sering dipakai sebagai pengangkut hasil produksi gula dari Pabrik Gula Wonopringgo. Pabrik gula ini sudah nggak berbekas dan diduga berada di lokasi yang kini jadi markas Batalyon Infanteri 407/Kompi Senapan C.
Menurut arsip yang berasal dari harian Algemeen Handelsblad yang terbit pada 25 Oktober 1913, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) mendapatkan hak untuk membangun sekaligus mengoperasikan jalur kereta api yang bisa dinaiki barang dan orang dari Wonopringgo, melewati Kedungwuni, dan tiba di Stasiun Pekalongan. Pembangunan jalur kereta api ini dikabarkan selesai 3 tahun kemudian dan mulai beroperasi pda 7 Februari 1916.
Hanya Beroperasi 27 Tahun
“Pada awal abad ke-20, Pekalongan sangat ramai dan jadi pusat perdagangan. Di sini, semua jenis transportasi bisa ditemui. Jalur kereta apinya bahkan dulu sampai pelabuhan agar gula dari Wonopringgo bisa dikirim lewat kapal,” ujar salah seorang sejarawan Pekalongan Arief Dirhamsyah sebagaimana dilansir dari Radarsemarang, Jumat (29/5/2020).
Sayangnya, jalur tersebut hanya beroperasi kurang lebih 27 tahun. Pendudukan Jepang di Tanah Air membuat proses produksi pabrik gula terhambat. Setelah Indonesia Merdeka, kondisinya juga nggak kunjung membaik hingga pabrik tersebut akhirnya benar-benar tutup.
Yang lebih ironis, nggak hanya bekas pabriknya yang sudah lenyap, jalur keretanya juga hilang. Pada masa penjajahan Jepang, banyak rel-rel kereta yang dibongkar untuk kebutuhan pembangunan jalur kereta di jajahan Jepang lain di Asia Tenggara, tepatnya Burma (kini Myanmar). Jembatan rel kereta yang ada di Kedungpatangewu juga mengalami nasib serupa.
“Yang tersisa kini tinggal ceritanya saja,” ungkap Dirham.
Sangat disayangkan ya, melihat sisa-sisa jalur kereta Pekalongan-Kedungwuni, Millens? Tapi, setidaknya kita tahu kalau penyebabnya bukan karena kita yang nggak bisa menjaganya. (Arie Widodo/E10)