Inibaru.id – Tiga penari berkostum senada tampak bergerak seirama di atas panggung, dengan caping unik berbentuk silinder di kepala mereka. Dengan gerakan gemulai tapi tegas, tarian yang dikenal sebagai Lajur Caping Kalo itu sukses memukau para penonton.
Berlokasi di Hotel @Hom Kudus pada Minggu (8/2/2026) malam, caping kalo, topi anyaman berbentuk silinder di atas kepala para penari, menjadi poros visual utama di atas panggung. Hari itu, Tari Lajur Caping Kalo memang tengah dirayakan.
Untuk yang belum tahu, Tari Lajur Caping Kalo adalah simbol rutinitas masyakat Muria yang dikenal bersahaja, dengan gerakan koreografi yang menunjukkan ketekunan dan kesederhanaan, senada dengan kostum dan selendangnya yang bernuansa bumi, serta formasi berlapis yang menjadi perlambang kebersamaan.
Tari Lajur Caping Kalo bukanlah tarian masa lampau, tapi tarian khas asal Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, yang diciptakan untuk melestarikan Caping Kalo, penutup kepala untuk perempuan yang menjadi bagian dari budaya Kudus sejak lama.
Tarian ini lahir dari ketakutan akan punahnya kerajinan caping kalo yang keberadaannya kian terkikis zaman seiring dengan melemahnya denyut produksi di Desa Gulang yang semula dikenal luas sebagai sentra pengrajin caping.
Perubahan zaman, pergeseran mata pencaharian, serta menurunnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisionallah yang diyakini membuat status Desa Gulang sebagai sentra caping limbung. Dari kegelisahan itulah, seni tari dipilih sebagai medium pengingat sekaligus penghidup kembali ingatan kolektif masyarakat.
Upaya pelestarian tersebut kemudian dikembangkan secara lebih terstruktur oleh Pemerintah Desa Gulang yang bekerja sama dengan Balai Budaya Rejosari (BBR) dan Yayasan Karya Bakti Nojorono (YKBN).
Melalui kolaborasi ini, Tari Lajur Caping Kalo nggak hanya diposisikan sebagai pertunjukan seni, tapi juga representasi budaya dan jiwa masyarakat Kudus yang berpijak pada nilai religius, ketekunan, dan kebersamaan.
Seniman tari dari Balai Budaya Rejosari, Kinanti Sekar Rahina, kemudian didapuk sebagai koreografer Tari Lajur Caping Kalo. Dia menggubah gerak tari dengan bersumber langsung pada filosofi dan proses pembuatan Caping Kalo yang dipenuhi ketekunan dan ketelitian.
Tari Lajur Caping Kalo diluncurkan pada 7–10 Oktober 2022 dan kali pertama ditampilkan secara publik di Kudus pada 14 Oktober 2022. Sejak itu, tarian ini kerap hadir dalam berbagai event adat, budaya lokal, dan pariwisata seperti penutupan Dandangan dan peringatan Hari Jadi Kota Kudus.
Secara konseptual, tarian ini menggambarkan proses “lajur” atau perjalanan kemenjadian caping kalo. Bentuk caping yang bulat dimaknai sebagai simbol kepasrahan manusia secara utuh kepada sang Pencipta.
Proses pembuatannya mengandung nilai religius, ketelatenan, suka cita, kekuatan perempuan, serta semangat kebersamaan masyarakat Muria. Secara nggak langsung, tari ini juga menjadi ungkapan syukur atas warisan budaya turun-temurun.
Perjalanan yang Menemukan Rumah
Di harapan penonton yang memenuhi aula hotel yang berlokasi di Jalan Tanjung tersebut, Tari Lajur Caping Kalo dimainkan sebagai tarian pembuka untuk peluncuran karya Kinanti Sekar Rahina kedua tentang caping kalo.
Setelah empat tahun, Kinanti kembali menyapa caping kalo melalui karya "sekuel"-nya yang diberi nama Tari Caping Kalo. Jika Tari Lajur Caping Kalo berbicara tentang proses dan perjalanan, Tari Caping Kalo adalah "rumah", karena menjadi bentuk pemaknaan yang utuh dari caping kalo.
Tari Caping Kalo merupakan tari tunggal yang menggambarkan sosok perempuan Muria yang anggun dan lincah, suka serawung, serta setia menjaga nilai-nilai tradisi. Alih-alih sebagai figur romantik semata, perempuan itu juga ditempatkan sebagai subjek budaya yang hidup, bekerja, berelasi, dan beriman.
“Caping Kalo bagi saya adalah simbol hidup,” ungkap Kinanti dalam diskusi menjelang peluncuran tarian tersebut, Minggu (8/2). "Anyaman bambu yang rapat dan halus mencerminkan hidup rukun dan guyub dalam masyarakat."
Sementara itu, dia melanjutkan, kerangka bambu yang kokoh dan liat menggambarkan jiwa yang kuat serta kesetiaan menjaga nurani dan nilai tradisi, baik saat perempuan berada pada fase remaja, menjadi ibu dalam rumah tangga, maupun ketika menjalani pekerjaan.
Caping kalo yang dikenakan di kepala juga dimaknai sebagai simbol spiritual: sebagaimana orang beriman yang menempatkan Tuhan di atas segalanya. Dalam Tari Caping Kalo, caping nggak lagi sekadar properti, melainkan pusat makna yang menyatu dengan tubuh penari.
Dalam diskusi bersama koreografer, pegiat seni, dan masyarakat yang dipandu Asa Jatmiko itu, Kinanti kemudian membagikan proses kreatif yang panjang dan personal. Dia bercerita bahwa Tari Caping Kalo lahir dari perenungan panjang atas hubungan tubuh perempuan, tradisi, dan spiritualitas.
“Kalau di Lajur (Tari Caping) saya banyak berbicara soal proses membuat caping, di Tari Caping Kalo saya ingin caping itu bicara tentang dirinya sendiri, tentang hidup yang dijalaninya sehari-hari,” ujarnya.
Proses penciptaan tersebut, Kinanti melanjutkan, nggak berlangsung instan. Dia melakukan riset lapangan, berdialog dengan pengrajin, serta mengamati bagaimana caping hadir dalam keseharian perempuan Kudus, di sawah, rumah, atau ruang-ruang sosial, lalu diramu menjadi bahasa gerak yang sederhana tapi sarat makna.
Asa Jatmiko dalam perannya sebagai pemandu diskusi kemudian menggali bagaimana kesinambungan antara Tari Lajur Caping Kalo dan Tari Caping Kalo. Diskusi mengalir pada pertanyaan tentang pentingnya kesinambungan karya, arsip tubuh, serta peran seni pertunjukan dalam menjaga ingatan kolektif.
Penciptaan Tari Caping Kalo juga melibatkan sejumlah talenta yang nggak kaleng-kaleng. Hamdani didapuk sebagai komposer musik, sedangkan syair dan lagu ditulis sekaligus dinyanyikan oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF.
Yang menarik, proses penulisan lirik dan rekaman lagu tersebut dilakukan di Buenos Aires, Argentina, di sela-sela tugas pastoral Romo Lukas di kota kelahiran pesepak bola legendaris Diego Maradona dan Javier Zanetti tersebut.
Syair yang Menyatu dengan Gerak
Melalui pesan suara yang diputar dalam diskusi, Romo Lukas mengatakan, bukan pekerjaan mudah untuk menulis lagu dan syair yang sangat Jawa, baik secara rasa maupun spiritual, di tengah budaya Argentina yang jauh berbeda.
"Menemukan suasana ‘Jawa’ tengah budaya Argentina adalah tantangan tersendiri,” ujar lelaki yang akrab disapa Romo Ipeng tersebut. "Namun, justru jarak geografis inilah yang akhirnya menghadirkan ruang refleksi yang lebih dalam."
Syair dan nyanyian dalam Tari Caping Kalo nggak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan gerak dan musik, menjadi lapisan makna yang memperkaya pengalaman penonton. Harapan Romo Ipeng, syair dan nyanyian tersebut dapat dinikmati sebagai bagian yang mempertajam pemahaman tentang Caping Kalo.
Oya, program penciptaan Tari Caping Kalo diproduksi oleh GsT Production, lembaga yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan dan pelestarian seni budaya. Produksi ini didukung oleh RKBBR (Rumah Khalwat & Balai Budaya Rejosari), Iniibubudi Publishing, serta Asa Academy of The Arts.
Kolaborasi lintas lembaga ini menegaskan bahwa seni tradisi membutuhkan ekosistem yang saling menopang: seniman, ruang budaya, produser, penulis, dan masyarakat. Tari Caping Kalo hadir bukan sebagai karya tunggal yang berdiri sendiri, melainkan sebagai simpul dari jejaring kerja budaya.
Dengan lahirnya Tari Caping Kalo, Kinanti Sekar Rahina telah menciptakan dua karya tari yang sama-sama bersumber dari Caping Kalo, tapi menawarkan sudut pandang yang berbeda. Keduanya dapat dibaca sebagai satu perjalanan kreatif yang berkesinambungan sekaligus berdiri sendiri dengan kekuatan masing-masing.
Tari Lajur Caping Kalo berbicara tentang proses, sementara Tari Caping Kalo berkisah tentang pemaknaan hidup. Keduanya menegaskan bahwa tradisi bukan benda mati, melainkan sesuatu yang terus hidup, ditafsir, dan dirawat melalui tubuh, ingatan, dan karya seni.
Di tengah arus perubahan yang cepat, Tari Caping Kalo menjadi pengingat bahwa menjaga budaya berarti menjaga cara hidup: telaten, guyub, beriman, dan selalu bersedia menempatkan nilai di atas segalanya. (Imam Khanafi/E10)
