Inibaru.id - Olahraga padel sedang naik daun di Kota Semarang. Dalam enam bulan terakhir, lapangan dan klub baru bermunculan di berbagai sudut kota, menandai lonjakan minat masyarakat terhadap aktivitas yang cukup menguras keringat sekaligus kocek ini.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeung Pramestuti menilai situasi tersebut seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, padel menjadi energi baru bagi budaya berolahraga di Kota Lunpia; tapi di sisi lain, ia berpotensi hanya akan menjadi gaya hidup sesaat. Maka, keberadaannya perlu dijaga agar sekadar "numpang lewat".
"Harus diakui, fenomena padel di Semarang luar biasa. Dalam enam bulan, lapangan tumbuh begitu cepat," ujar Agustina usai pelantikan pengurus Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) Kota Semarang, Kamis (12/2). "Selain menyehatkan, padel juga menghadirkan keakraban dan bikin kita bertemu banyak orang."
Tren ini, dia melanjutkan, bukan hanya terjadi di Semarang. Dalam beberapa tahun terakhir, padel juga mewabah di kota-kota lain, bahkan telah resmi menjadi cabang olahraga (cabor) di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (Koni).
"(Di bawah naungan Koni) ada peluang lahirnya sistem kompetisi berjenjang. Sementara, banyak yang bisa main padel, tapi mungkin saat ini belum tentu siap jadi atlet. Inilah yang harus didorong. Jangan cuma ikut tren, tapi juga harus ada pembinaan yang jelas," tegasnya.
Membentuk Kompetisi Rutin
Menurut Agustin, sapaan akrabnya, pembentukan pengurus PBPI adalah langkah yang tepat dan bisa menjadi babak baru bagi pengembangan padel di Kota Semarang. Karena itulah dia berharap akan segera ada liga atau kompetisi rutin yang dibuat.
"Pengurus yang dilantik semoga segera bisa membentuk liga dan kompetisi rutin sebagai langkah konkret untuk menjaring bibit atlet potensial sejak dini," lontarnya.
Apa yang dikhawatirkan politikus PDI-P itu masuk akal. Di balik popularitasnya yang sedang melejit, padel menghadapi tantangan berupa stigma fomo alias tren sesaat yang hanya diikuti karena takut ketinggalan. Tanpa pembinaan dan kompetisi yang mewadahi, olahraga ini berpotensi nggak bertahan lama.
Hal serupa juga diungkapkan Ketua PBPI Kota Semarang Alexander Riandro. Menurutnya, kunci utamanya saat ini adalah menjaga konsistensi minat masyarakat agar padel nggak sekadar jadi tren musiman, tapi perlahan berkembang menjadi cabang prestasi yang berkelanjutan.
"Meski ada stigma bahwa padel cuma olahraga fomo, dalam setahun terakhir ternyata padel tetap eksis, bahkan di Semarang, lapangan baru terus bermunculan. Jadi, target kami, olahraga ini tetap eksis hingga 2030 dan bisa diterima semua kalangan," jelasnya.
Selain stigma fomo, Alexander menambahkan, pelabelan sebagai olahraga eksklusif juga menjadi tantangan lainnya bagi PBPI Kota Semarang. Untuk mengikis anggapan ini, menurutnya perlu ada sosialisasi secara masif, termasuk menjajaki kemungkinan untuk kerja sama dengan sekolah.
"PBPI Semarang akan mencoba menjajaki kerja sama dengan sekolah-sekolah, agar padel bisa menjadi kegiatan ekstrakurikuler sehingga sekaligus menjadi wadah pembinaan atlet sejak usia dini," jelasnya.
Segera Ada Turnamen
Menurut Alexander, tingginya animo masyarakat pada padel di Kota Semarang bisa dilihat dari banyaknya komunitas olahraga tersebut yang sejauh ini mencapai 50 kelompok. Fasilitas lapangan yang tersedia juga lumayan banyak, ada sekitar 11-15 titik yang tersebar di berbagai lokasi dan semuanya aktif.
"Dalam waktu dekat, kami akan menggelar turnamen bersama PPBI Jawa Tengah. Selain sebagai ajang kompetisi, turnamen ini juga menjadi sarana screening untuk memetakan kemampuan pemain dan menempatkan mereka sesuai kelas masing-masing," paparnya.
Terkait kompetisi, Ketua Koni Kota Semarang Arnaz Agung Adrarasmara menyarankan, kompetisi padel sebaiknya dikemas sebagai sportainment agar semakin diminati anak muda. Jadi, bukan semata kompetisi, tapi juga hiburan.
"Konsep sport dan entertainment akan membuat turnamen lebih seru dan menarik perhatian generasi muda. Terus, organisasi harus profesional dan pembinaan atlet harus dimulai dari turnamen rutin. Sehebat apa pun atlet, kalau tidak ditempa lewat kompetisi, kemampuannya tidak akan maksimal," tuturnya.
Arnaz menjelaskan, padel akan menjadi cabor ekshibisi pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026. Menurutnya, ini bisa menjadi panggung penting bagi para atlet untuk unjuk kemampuan. Karena itulah dia menilai, pembinaan atlet nggak bisa ditunda lagi jika pengin memaksimalkan peluang tersebut.
"Perbanyak turnamen dengan konsep sport entertainment agar anak muda tertarik. Ini akan memperbesar peluang menemukan bibit-bibit atlet potensial," sarannya kepada PBPI Kota Semarang.
Pembinaan yang tepat dan turnamen berkala akan memperbesar peluang padel berumur panjang di Kota Semarang, nggak sekadar jadi tren "numpang lewat" yang akan berlalu seiring berjalannya waktu. Kamu pernah main padel belum, Gez? (Sundara/E10)
