BerandaTradisinesia
Jumat, 8 Jun 2023 08:00

Padepokan Seni Cakra, Gudangnya Kesenian Tradisional di Pati

Para pengurus Padepokan Seni Cakra sedang memperlihatkan koleksi wayang milik mereka. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Saat ini banyak kesenian tradisional yang tergeser dengan kesenian modern. Namun, di Desa Bleber Kecamatan Cluwak, Pati, banyak warga yang masih menekuni berbagai macam kesenian tradisional Jawa.

Inibaru.id - Tiga lelaki paruh baya telah menyambut di pintu masuk begitu sepeda motor saya parkirkan di selasar Padepokan Seni Cakra, sore itu. Kami sejatinya sudah janjian dari siang, tapi hujan membuat saya terpaksa meminta maaf dan memundurkan waktu kedatangan.

Jarak dari rumah ke padepokan seni yang berlokasi di Desa Bleber, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati itu memang cukup jauh. Dwi Krismiarso, salah seorang dari mereka yang ternyata merupakan para pengelola padepokan ini, segera mempersilakan saya masuk.

Kris, begitu dia biasa disapa, kemudian menemani saya melihat-lihat padepokan. Mengenakan kemeja lurik lengkap dengan blangkonnya, dia mulai menceritakan sejarah dan apa saja yang ada di padepokan seni yang sudah berdiri sejak 1989 tersebut.

“Kesenian yang kami lestarikan di sini antara lain wayang, kerawitan, campursari, seni tari, dan gong cik,” terang lelaki 56 tahun itu sambil memperlihatkan koleksi alat kesenian milik padepokan.

Menurut lelaki berkumis tersebut, di Desa Bleber ini memang banyak masyarakat yang cinta seni. Banyak pula warga Desa Bleber maupun warga desa sekitar yang turut serta berkesenian bersama Padepokan Seni Cakra.

Bahkan dua tahun lalu, mereka membuat film pendek berdurasi 11 menit berjudul Sang Undagi yang lolos 30 besar film se-Indonesia.

“Itu salah satu prestasi yang patut kami banggakan. O iya, videonya bisa ditonton di channel Youtube Padepokan Seni Cakra,” tuturnya sembari tersenyum bangga.

Memakai Dana Mandiri

Koleksi wayang milik Padepokan Seni Cakra disimpan dalam box kayu besar. (Inibaru.id/ Rizki Arganingsih)

Sekitar sepeminuman teh berbincang, pelatih sekaligus pendiri Padepokan Seni Cakra Supriyadi bergabung bersama kami. Supriyadi adalah mantan dalang yang kini menghabiskan hidupnya untuk bersenian di Pati.

“Hidup saya ini memang untuk seni, Mbak. Saya ingin nguri-nguri kesenian yang sekarang sudah jarang dilestarikan,” jelas Supriyadi.

Itulah alasan Supriyadi membangun padepokan seni yang kebanyakan alat seninya dibeli secara mandiri itu. Dia mengaku kesulitan mendapat dana bantuan untuk membeli peralatan kesenian yang harganya puluhan juta rupiah.

“Untuk penggalian dana dari pemerintah sangat sulit. Kalau bukan dari kami-kami yang peduli dengan seni, bisa saja seni tradisional akan punah dengan cepat,” tutur lelaki yang bercita-cita membangun joglo-joglo kecil di padepokan untuk berlatih para anggota padepokan itu.

Mencari Generasi Penerus

Suasana latihan kerawitan anggota Padepokan Seni Cakra. (Dok. Padepokan Seni Cakra)

Selain kesulitan dalam hal pendanaan, Supriyadi juga mengaku kesusahan menggaet anak-anak muda untuk ikut berkesenian bersama. Hal ini dibenarkan Ahmad Zakial Shodiqin, salah seorang pemuda yang aktif dalam Padepokan Seni Cakra.

“Iya, dulu banyak pemuda Desa Bleber yang aktif ikut kerawitan. Tapi seiring perkembangan teknologi ini, mereka mulai nggak peduli, gengsi, dan bahkan malu untuk belajar kesenian tradisional,” ujar Zakial, menyayangkan hal ini.

“Kalau saya kebetulan memang suka seni. Jadi, saya pengin menggerakkan kegiatan kesenian di desa saya sendiri,” lanjut pemuda 21 tahun itu.

Selain sibuk sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Zakial juga aktif mengikuti pentas kesenian, khususnya seni kerawitan, sebagai pemain kendang. Dengan menekuni kesenian tradisional itu, sekarang Zakial mengaku dapat membiayai kuliahnya dari seni.

“Saya ingin menunjukkan ke anak-anak muda bahwa seni tradisional itu keren. Bahkan, jika diseriusi, itu akan menguntungkan kita,” tandas pemain kendang itu.

Yap, merangkul anak muda untuk turut mengembangkan kesenian daerah memang sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh para pegiat seni senior. Kita berharap akan ada banyak anak muda seperti Zakial yang dengan ringan hati mempertahankan seni tradisional warisan nenek moyangnya. (Rizki Arganingsih/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Harga Pertamax Berpeluang Turun Bulan Depan, Ini Penjelasan Menteri ESDM

21 Jul 2026

Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang Mengundurkan Diri, Fokus Jalani Pengobatan Jantung

22 Jul 2026

Populasi Macan Tutul Jawa di Gunung Ungaran Tinggal 4–7 Ekor, Konservasi Dinilai Kian Mendesak

22 Jul 2026

China Klaim Berhasil Komersialkan Chip Otak, Babak Baru Persaingan dengan Neuralin

23 Jul 2026

Penanda Perbatasan Baru DIY Segera Dibangun, Desain "Cahaya Pradipta" Terinspirasi Cahaya Matahari di Gunungkidul

24 Jul 2026

Sering Dianggap Sama, Ternyata Putu Bambu dan Putu Ayu Punya Banyak Perbedaan

25 Jul 2026

Dijuluki Little Tiongkok, Lasem Simpan Jejak Akulturasi Budaya yang Masih Terjaga

27 Jul 2026

KAI Siapkan Nusantara Explorer, Kereta Sleeper Mewah Bernuansa Budaya Indonesia

28 Jul 2026

BRIN Kembali Temukan 18 Ikan Purba Coelacanth di Pulau Talise, Bukti Pentingnya Konservasi Laut Dalam

29 Jul 2026

Mengenal Londo Ireng, Tentara Afrika yang Direkrut Belanda ke Nusantara

30 Jul 2026

Kelapa Kopyor Mahal Bukan Tanpa Alasan, Ini Fakta Menariknya

31 Jul 2026

Jemparingan, Seni Panahan Khas Mataram yang Mengajarkan Fokus dan Keteguhan Hati

1 Agu 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: