BerandaTradisinesia
Kamis, 13 Feb 2019 16:14

Nggak Cuma Gaya Surakarta, Jawa Tengah Punya Dua Gaya Wayang Lainnya

Sesi penyerahan wayang secara simbolis kepada ketiga dalang pada acara Pentas Seni Tradisi Gaya Wayang Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Millens, gaya pentas wayang rupanya berbeda-beda, lo. Di Jawa Tengah, ada tiga gaya besar dalam pentas wayang. Simak ulasan berikut, yuk!

Inibaru.id – Indonesia memang negara yang kaya akan budaya. Mulai dari bahasa, tarian hingga adat istiadat masyarakat bisa berbeda antara satu wilayah dan wilayah lain. Pertunjukan wayang juga nggak luput dari perbedaan itu.

Dalam pertunjukan wayang, setiap wilayah punya kekhasan masing-masing. Di Jawa Tengah saja, misalnya, ada tiga gaya yang bisa digunakan dalam pentas wayang. Gaya tersebut biasa disebut gagrak.

“Jawa Tengah itu kalau gaya kebudayaannya dipetakan ada tiga gaya besar yakni gaya istana (Surakarta), gaya Banyumas, gaya pesisiran,” ungkap Ketua harian Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah Widodo Brotosejati yang ditemui saat Pentas Seni Tradisi Gaya Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah.

Perbedaan gaya ini disebabkan karena karakteristik masyarakat yang berbeda pula. Masyarakat keraton lebih bersifat halus dan sangat menjunjung unggah-ungguh. Tentu berbeda dengan wilayah Banyumas yang masyarakatnya banyak berprofesi sebagai petani yang memiliki gaya lugas. Sementara itu, daerah pesisiran mendapat banyak akulturasi budaya karena para pedagang dari luar Jawa sering singgah di sana.

Nah, setiap gaya pementasan wayang itu memiliki kekhasan masing-masing, Millens. Kekhasannya bisa berupa pembawaan dalang waktu pentas, bisa juga unsur percampuran di dalam pentas wayang itu.

Supaya nggak bingung, simak ulasan tiga gaya pentas wayang berikut, ya!

Gaya Surakarta

Ki Manteb Sudarsono mementaskan wayang gaya Surakarta pada Pentas Seni Tradisi Gaya Jawa Tengah, Sabtu (3/2/2019) di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Surakarta atau masyarakat kerap menyebut Solo dianggap sebagai pusat kebudayaan Jawa. Adanya keraton di daerah tersebut menjadi salah satu alasan mengapa daerah yang ada di bagian tengah Jawa Tengah ini dijadikan pusat kebudayaan.

Gaya pentas wayang Surakarta dijuluki dengan adiluhung yang berarti tinggi mutunya.

“Keraton itu karena priyayi jadi punya waktu utk memikirkan seni dengan kualitas yg rumit. Lebih up to date, maka produk seni kraton itu dikenal adiluhung,” lanjut Widodo.

Di pentas seni yang digelar Pepadi Jateng tempo hari, gaya Surakarta ini dibawakan salah satu dalang kondang yakni Ki Manteb Sudarsono. Tahu kan, dalang yang terkenal dengan jargon oye itu, lo?

Gaya Banyumas

Ketua Pepadi Pusat Kondang Sutrisno memberikan wayang sebagai simbol mulai pementasan kepada dalang Ki Sigit Aji Sabdo Priyono yang mewakili gaya Banyumas. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Bergeser ke barat, kamu akan menemukan Banyumas. Wilayah ini terkenal dengan bahasa Ngapak yang unik dan terkesan berbeda dengan bahasa Jawa ala keraton. Selain bahasa, gaya pembawaan dalang saat mementaskan wayang juga lebih energetik.

“Kalau Banyumas itu Cablaka, budaya petani di pedalaman, jadi ekspresi seninya ceria, meriah,”

Hal lain yang membedakan wayang Banyumas dengan yang lain adalah goro-goro atau selingan yang disematkan dalang dalam salah satu episode. Goro-goro ini biasanya ditandai dengan munculnya punakawan yang terkenal jenaka.

Oh iya, gending yang digunakan untuk mengiringi pentas wayang juga berbeda, lo. Saat pentas wayang di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (3/2) lalu, gaya Banyumas diwakili Ki Sigit Aji Sabdo Priyono.

Gaya Pesisiran

Dalang Ki Sigid Ariyanto menerima pemberian wayang dari Ketua Pepadi Jawa Tengah Untung Wiyono sebaga simbol dimulainya pentas wayang. (Inibaru.id/ Ida Fitriyah)

Beralih ke pesisir utara Jawa yang membentang dari Kabupaten Brebes di barat hingga Rembang di timur. Karena memanjang, gaya pesisiran ini dibagi lagi menjadi dua yakni gaya pesisiran timur dan gaya pesisiran barat.

“Gaya pesisiran dibagi dua Semarang ke timur itu khasnya Rembang, Lasem. Pesisir ke barat itu berpusat di Tegal,” ujar lelaki yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Negeri Semarang.

Gaya pesisiran ini mendapat campuran budaya dari para pedagang asing yang masuk lewat pelabuhan-pelabuhan yang ada. di Semarang saja, gaya pentas wayangnya dipengaruhi empat kebudayaan yakni Arab, Jawa, Tionghoa, dan Eropa.

Salah satu yang paling khas dari gaya pesisiran wilayah Lasem adalah adanya srepeg Lasem dan pathetan Lasem. Kedua hal itu adalah alunan gending yang mengiringi pertunjukan wayang.

Eits, meski berbeda, ketiganya punya kesamaan, kok. Persamaan ketiga gaya itu adalah lakon yang diceritakan yakni Mahabarata dan Ramayana.

Gimana, masih bingung dengan gaya wayang di Jawa Tengah? Mending nggak perlu pusing-pusing deh tapi langsung nonton wayang saja biar paham. He-he. (Ida Fitriyah/E05)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengulik Filosofis Naga Jawa dalam Kosmologi Masyarakat Jawa Kuno

2 Jun 2026

Prabowo Copot Dadan Hindayana dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Ditunjuk sebagai Pengganti

3 Jun 2026

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: