BerandaTradisinesia
Minggu, 30 Agu 2025 15:01

Mengumpat adalah Simbol Kejujuran dan Kecerdasan, Benarkah?

Ilustrasi: Mengumpat adalah simbol kejujuran dan kekayaan kosa kata. (Getty Images/Dimitri Otis via Nbcnews)

Ada penelitian yang menyebutkan bahwa mengumpat adalah simbol kejujuran. Selain itu, studi lain mengungkapkan, variasi kata-kata kasar yang kita miliki juga menunjukkan kecerdasan linguistik kita.

Inibaru.id - Kelakuan sejumlah anggota DPR dan pejabat pemerintah yang "unik" belakangan ini acap membuat kita pengin mengumpat secara spontan. Namun, karena menganggap mengumpat sebagai perilaku negatif, kita pun memilih untuk mengurungkannya.

Padahal, dalam hal umpat-mengumpat, Indonesia terbilang kaya kosa kata. Hampir tiap daerah memiliki kata-kata kasarnya sendiri. Mengumpat juga nggak hanya dilakukan untuk mengungkapkan rasa marah atau kecewa. Kita juga melakukannya saat kaget, sedih, atau senang.

Meski acap dikaitkan dengan perilaku kasar, nggak sopan, atau kurang ajar, umpatan justru menjadi simbol keakrabanakan di sejumlah wilayah seperti Bandung, Semarang, dan Surabaya. Bahkan, sains memandang umpatan sebagai bentuk kejujuran dan kecerdasan linguistik.

Temuan dari hasil studi internasional ini diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science pada Januari 2017 dengan tajuk "Frankly, we do give a damn: The relationship between profanity and honesty".

Umpatan adalah Bentuk Kejujuran

Penelitian yang melibatkan akademisi dari University of Cambridge, Maastricht University, hingga Hong Kong University of Science and Technology tersebut menemukan fakta bahwa orang yang sering mengumpat justru lebih jarang berbohong.

Profanity was associated with less lying and deception at the individual level, and with higher integrity at the society level,” tulisnya, yang kurang lebih menjelaskan bahwa di tingkat individu, umpatan berkorelasi dengan perilaku lebih jujur; sementara di tingkat masyarakat, ada kaitannya dengan integritas yang lebih tinggi.

Dr David Stillwell, dosen psikologi dari University of Cambridge yang sekaligus menjadi salah seorang peneliti mengatakan, meski terdengar kasar, umpatan adalah bukti bahwa seseorang sedang berbicara apa adanya, tanpa sensor maupun polesan.

"Mengumpat adalah bentuk paling jujur dari opini mereka. Dengan tidak memfilter omongan, mereka juga tidak memfilter pandangan," terangnya.

Mengumpat dari Segi Linguistik

Ilustrasi: Orang yang biasa mengumpat umumnya mempunyai kosa kata yang lebih variatif. (Kozzi)

Penelitian lain di AS menyebutkan bahwa orang yang biasa mengumpat umumnya mempunyai kosa kata yang lebih variatif. Penelitian ini dilakukan oleh Benjamin Bergen, profesor linguistik sekaligus direktur Language and Cognition Lab di University of California, San Diego.

Dikutip dari wawancara eksklusifnya via Time pada 2016 lalu, Bergen menekankan bahwa orang-orang yang memiliki lebih banyak kosa kata akan mampu menghasilkan kata kasar yang lebih variatif dibanding mereka yang sedikit kota katanya.

Eksperimen di bidang linguistik itu menemukan, peserta yang bisa menyebut lebih banyak kata umpatan spontan juga mampu menyebut lebih banyak nama hewan dalam waktu terbatas. Ini sekaligus menepis pandangan umum yang melihat bahwa pengumpat biasanya miskin kata-kata.

"Mengumpat menunjukkan keluwesan dan kekayaan bahasa," tutur Bergen. "Umpatan adalah bagian alami dari komunikasi manusia yang mencerminkan kompleksitas emosi sekaligus kreativitas berbahasa."

Mengumpat dengan Beretika

Tentu saja kedua penelitian itu nggak bertujuan untuk mengatakan bahwa kita bebas mengumpat. Kata-kata kasar tetap saja nggak bisa dilakukan di segala situasi. Dalam budaya sehari-hari, umpatan tetap punya stigma negatif seperti nggak sopan, menyinggung, atau melukai perasaan.

Dalam lingkaran pertemanan dekat, umpatan bisa dipahami sebagai ungkapan keakraban atau humor. Namun, di ruang publik atau lingkungan formal, kata-kata kasar tetap bisa berdampak buruk pada reputasi dan hubungan sosial.

Kuncinya adalah konteks. Umpatan spontan saat kaget mungkin bisa dimaklumi. Namun, umpatan yang ditujukan pada orang lain, apalagi dengan maksud merendahkan, jelas masuk ranah nggak etis. Temuan-temuan itu hanyalah sudut pandang baru untuk menunjukkan bahwa mengumpat nggak selalu buruk.

Dalam situasi tertentu, ia adalah cermin kejujuran, ekspresi emosional yang tulus, bahkan bukti kecerdasan linguistik. Namun, meski fasih mengumpat, kita nggak selalu harus melakukannya, kan?

Dengan mengetahui hasil studi ini, seharusnya kamu jadi lebih bersabar saat ada temanmu yang mendadak mengumpat. Kamu justru sebaiknya bersyukur, karena artinya dia bisa berkata apa adanya di hadapanmu. Bukankah tujuan berkomunikasi adalah untuk itu? (Siti Khatijah/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: