BerandaTradisinesia
Senin, 6 Sep 2020 10:49

Makna Tembang 'Gundul-Gundul Pacul': Petuah agar Nggak Jadi Manusia Gembelengan

Ilustrasi: Tembang "Gundul-Gundul Pacul" sarat makna. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Kamu tahu lagu anak-anak 'Gundul-Gundul Pacul'? Siapa sangka, di balik syairnya yang cenderung lucu tersirat makna mendalam. Ia berisi ajaran tentang kesopanan dan kemuliaan bagi seorang pemimpin. Hm, seperti apa penjelasan lengkapnya?

Inibaru.id - Gundul-Gundul Pacul bukan lagu asing di telinga orang Jawa. Nadanya yang ceria memang cocok dinyanyikan anak-anak saat bermain. Ada yang mengatakan tembang ini diciptakan RC Hardjosubroto, tapi ada juga yang yakin kalau Raden Said atau Sunan Kalijaga yang menciptakannya.

Terlepas dari siapa pencipta tembang dolanan ini, ada makna tersirat dalam syairnya yang sederhana. Eh, kamu ingat liriknya nggak? Yuk, nostalgia sedikit sambil nyanyi ya.

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan. (Gundul gundul cangkul, sembrono.)

Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan. (Membawa bakul (di atas kepala) dengan sembrono.)

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. (Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman.)

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. (Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman.)

Makna Tersirat

Gundul gundul pacul-cul, gembelengan

Kesombongan dapat membuat pemimpin gundul kehormatannya. (Getty/Telegraph)

Gundul adalah kepala botak alias nggak berambut. Kepala merupakan simbol kehormatan dan kemuliaan seseorang. Sedangkan rambut merupakan mahkota yang menjadi simbol keindahan kepala. Bisa dikatakan "gundul" berarti kehormatan tanpa sebuah mahkota.

Pacul merupakan cangkul petani dalam bahasa Jawa. Ia terbuat dari lempengan besi berbentuk persegi. Alat ini merupakan milik petani yang melambangkan orang sederhana. Pacul juga diibaratkan papat kang ucul (empat yang lepas) . Artinya, kemuliaan seseorang akan sangat ditentukan dari empat hal.

Empat hal tersebut; bagaimana dia menggunakan mata, telinga, hidung dan mulutnya. Apabila keempat hal itu lepas, hilanglah sudah kehormatannya.

"Gembelengan" berarti besar kepala alias sombong. Orang-orang "gembelengan" sangat hobi bermain-main dalam menggunakan kehormatannya. Seperti juga banyak pemimpin yang nggak ingat kalau dirinya sebenarnya mengemban amanah dari rakyat.

Bisa ditarik simpulan kalau lirik "Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan" bisa berarti seorang pemimpin yang lupa kalau dia sedang memikul amanah rakyat. Dia justru memakai kekuasaan sebagai kemuliaannya, mempergunakan kedudukannya untuk menyombongkan diri di antara sesama dan menyebut kekuasaan itu diraih karena kepandaiannya.

Nyunggi nyunggi wakul kul, gembelengan

Nasi di dalam bakul ibarat sumber kekayaan negara dari rakyat, harus dijaga dengan baik. (Flickr)

"Nyunggi wakul" artinya membawa bakul (tempat nasi) di atas kepalanya. Tapi sayangnya, banyak pemimpin yang lupa kalau dia sedang mengemban amanah penting yaitu membawa bakul di kepalanya.

"Wakul" adalah lambang kesejahteraan rakyat. Di dalamnya terdapat kekayaan negara, sumber daya, dan pajak. Saat seseorang menyunggi bakul, posisi kepala berada di bawah bakul. Seharusnya kedudukan rakyat lebih tinggi dari pemimpin pemegang amanah tadi.

Tapi sayang, banyak pemimpin yang masih "gembelengan". Dengan sombongnya, mereka melenggak-lenggokkan kepala dan bermain-main dengan amanah rakyat.

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

"Wakul ngglimpang" berarti bakul di atas kepala jatuh. "Segane dadi sak latar", nasi di dalam bakul berantakan di mana-mana.

Apabila pemimpin "gembelengan", sumber daya akan tumpah ke mana-mana sehingga nggak terdistribusi dengan baik. Kesenjangan muncul di mana-mana. Nasi yang jatuh ke tanah sudah kotor sehingga nggak akan bisa dimakan lagi. Menjadikan orang sombong tadi sebagai pemimpin merupakan hal yang sia-sia. Gagal sudah dia mengemban amanah dari rakyat.

Bisa ditarik garis besar bahwa tembang ini mengajarkan soal pentingnya menjaga komitmen ketika bekerja. Dalam pekerjaan terdapat amanah yang nggak bisa dibuat main-main. Dirinya harus siap bertanggung jawab.

Hm, kamu setuju nggak dengan makna tersirat ini, Millens? (Ok/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Lebih dari Sekadar Pantai, Begini Serunya Main ke Pantai Balongan Rembang

25 Mar 2026

Rekomendasi Restoran Ramen Halal di Tokyo yang Bisa Kamu Coba

25 Mar 2026

Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Bentuk Cinta Sunan Gunung Jati untuk Istri

25 Mar 2026

Lelah Jadi 'Hustle Culture'? Saatnya Beralih ke Soft Living

25 Mar 2026

Tari Serimpi Sangupati; Diplomasi Cantik Keraton Jawa yang Siapkan Peluru buat Penjajah

25 Mar 2026

Tips Mendapatkan Spot Hanami untuk Melihat Bunga Sakura di Jepang

26 Mar 2026

Menilik Keindahan Puncak Gunung Mundri di Kecamatan Jepon, Blora

26 Mar 2026

Stevanus Ming, Juru Bahasa Isyarat yang Selalu Suarakan Teman-Teman Tuli

26 Mar 2026

Festival Balon Udara Kembaran, Daya Tarik Wonosobo Sepekan setelah Lebaran

26 Mar 2026

Raksasa Ritel Pangan Asia Disorot: Jago Jualan Daging, tapi Loyo Tekan Emisi Metana!

26 Mar 2026

Kunjungan Wisata Jateng Naik 5,25 Persen, Kota Lama Semarang Jadi Juara

26 Mar 2026

Mudik Lebaran, Me-refresh Pikiran

27 Mar 2026

Jika Memasang Dashcam Mobil, Apakah Aki Bisa Tekor?

27 Mar 2026

Kesederhanaan Mendiang Bos Djarum yang Terpatri di Dinding Kedai Tahu Pong Karangsaru Semarang

27 Mar 2026

Akhiri Libur Lebaran di Semarang dengan Rangkaian Mahakarya Goa Kreo dan Prosesi Sesaji Rewanda!

27 Mar 2026

Kemarau Panjang 2026; Saat Daratan Kering, Laut Indonesia Justru Panen Raya Ikan!

27 Mar 2026

Besok Gubernur Ahmad Luthfi Lepas Ribuan Perantau Balik Gratis ke Jakarta & Bandung

27 Mar 2026

Manisnya Kecap Kentjana Kebanggaan Kebumen

28 Mar 2026

Apa Saja yang Perlu Dipersiakan Traveler Muslim Sebelum Liburan ke Jepang?

28 Mar 2026

Hati-Hati, 56 Persen Konten Mental Health di Medsos Ternyata Ngawur!

28 Mar 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: