BerandaTradisinesia
Senin, 18 Jan 2026 15:56

Ketika Wayang Klithik Menolak jadi 'Artefak' Budaya

Ki Sutikno saat pentas Wayang Klithik Wonosoco. (Dok Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir)

Dengan hanya menyisakan satu maestro berusia senja sebagai referensi hidup, Wayang Klithik dianggap tengah sekarat. Namun, upaya menolak Wayang Klithik Wonosoco jadi 'artefak' budaya rupanya masih ada. Yang menarik, upaya itu datang dari generasi muda.

Inibaru.id – Desa Wates di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, malam itu telah menjadi saksi bahwa Wayang Klithik Wonosoco menolak punah. Dalam sorot lampu panggung yang memantul pada bilah-bilah kayu pipih yang disusun rapi di balik kelir, pertunjukan langka itu terus bergulir.

Denting gamelan terdengar pelan seperti napas yang dijaga agar tak putus. Lalu, di hadapan penonton, tangan cekatan Ki Sutikno mulai menggerakkan wayang untuk sekali lagi menegaskan bahwa wayang klithik belum selesai.

Untuk yang belum tahu, Ki Sutikno adalah maestro dalang generasi kedelapan wayang klithik. Artinya, pentas yang digelar pada Sabtu (10/1/2026) malam itu bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga penanda waktu; sebuah upaya untuk menahan laju kepunahan yang kian mendesak.

Nggak hanya memberi hiburan dan nostalgia untuk penonton paruh baya, kehadiran Ki Sutikno malam itu juga menjadi peringatan betapa besarnya tanggung jawab budaya yang diembannya, yang seharusnya sudah digulirkan ke generasi berikutnya.

Ki Sutikno saat pentas Wayang Klithik Wonosoco. (Dok Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir)

Wayang klithik memang tengah menapaki usia senja. Denyutnya kian lemah. Napasnya semakin terengah. Regenerasi yang minim membuat seni pertunjukan ini berada di tepi jurang kepunahan. Padahal, ia adalah warisan budaya yang begitu penting untuk Kota Kretek.

Di Wonosoco, desa yang selama ratusan tahun menggelar wayang klithik, saat ini hanya tersisa satu dalang yang masih setia menghidupkannya, yaitu Ki Sutikno. Artinya, bisa jadi dialah satu-satunya orang yang bisa menjadi referensi hidup saat menyoal wayang klithik di Kudus.

Namun, jalan sunyi tersebut agaknya mulai dilihat orang. Malam itu, kesenyapan yang teus mengintai seperti ditolak oleh bunyi, oleh gerak, dan oleh kehadiran banyak pihak yang percaya bahwa wayang klithik tak boleh dibiarkan menjadi artefak mati.

Keunikan Wayang Klithik

Berbeda dengan wayang purwa yang dipenuhi kisah-kisah dalam kitab Mahabarata atau Ramayana, wayang klithik lahir dari babad dan sejarah lokal, serta refleksi dari cara masyarakat Jawa membaca hubungan kuasa, alam, dan kehidupan sehari-hari.

"Tokoh-tokohnya lebih membumi dan konfliknya dekat dengan realitas masyarakat," tutur Bustomy Rifa Aljauhari, Koordinator Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir yang malam itu menggagas pertujukan di Desa Wates.

Pentas Wayang Klithik Wonosoco. (Dok Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir)

Menurutnya, wayang klithik bukan sekadar seni pertunjukan, tapi pengetahuan hidup. Ia tumbuh dari tradisi, ritual, dan cara pandang masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Bertolak dari kesadaran itulah dia dan teman-temannya memutuskan untuk mendokumentasikan pertunjukan wayang klirhik.

Mendokumentasikan berarti mengarsipkan ingatan, merekam pengetahuan, dan membuka ruang dialog dengan generasi muda. Inilah yang dilakukan Bustomy dan kawan-kawan. Menurutnya, pelestarian nggak cukup berhenti pada romantisme masa lalu.

"Pelestarian juga harus bekerja di masa kini dengan bahasa dan medium yang relevan," sebutnya, mewakili teman-temannya.

Film dokumenter Sang Dalang Terakhir menjadi salah satu ikhtiar itu. Fokusnya jelas, yakni merekam perjalanan Ki Sutikno sebagai maestro dalang terakhir wayang klithik Wonosoco. Nggak hanya merekam pertunjukan, tapi juga keseharian, proses kreatif, dan relasi sang maestro dengan tradisi yang dijaganya.

“Kalau Ki Sutikno tidak didokumentasikan hari ini, kita akan kehilangan lebih dari sekadar sosok dalang,” ujar Bustomy. “Kita akan kehilangan satu dunia pengetahuan.”

Isyarat Kecil Regenerasi

Ki Sutikno sesaat sebelum pentas Wayang Klithik Wonosoco. (Dok Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir)

Hasil dokumentasi ini kemudian dipresentasikan kembali ke ruang publik di Desa Wates malam itu; diputar bersanding dengan pertunjukan langsung; menjadi semacam siklus yang menghubungkan arsip dengan tubuh atau rekaman dengan peristiwa hidup.

Malam itu, Ki Sutikno nggak manggung seorang diri. Dia tampak tampil bersama anaknya, Tino Mulyadi. Tentu saja hal ini menjadi satu isyarat kecil yang begitu penting; karena upaya regenerasi biasanya dimulai dari lingkar paling dekat.

Yang nggak kalah menarik, pementasan malam itu juga menghadirkan lakon baru, bukan sekadar mengulang cerita lama. Ki Sutikno sepertinya tengah mencoba membaca zaman dengan beradaptasi melalui cerita yang relevan untuk masa sekarang.

Inilah salah satu kekuatan wayang klithik, yakni kelenturannya. Ia tidak beku dalam pakem yang menutup diri dari perubahan. Sebaliknya, ia justru membuka ruang tafsir, refleksi, dan dialog dengan realitas hari-hari ini. Ia mengikuti perkembangan zaman, sebagaimana dikatakan Ki Sutikno seusai pentas.

“Wayang klithik bisa mengikuti zaman, asalkan ruhnya tidak ditinggalkan,” tegas Ki Sutikno.

Ruh itulah yang terus dia jaga. Bagi Ki Sutikno, wayang klithik adalah amanat leluhur. Ia bukan semata pertunjukan, jadi nggak bisa diperlakukan sekadar sebagai tontonan. Harus ada keberlanjutan agar nggak berhenti menjadi benda mati yang kehilangan ruh.

Pelestarian Butuh Ekosistem

Ki Sutikno saat pembuatan dokumentasi film Wayang Klithik Wonosoco. (Dok Program Dokumenter Sang Dalang Terakhir)

Pelestarian wayang klithik menuntut lebih dari seremoni dan pengakuan, tapi juga ekosistem. Ia butuh wadah tampil, tempat belajar, bahkan ruang untuk gagal dan mencoba ulang. Maka, kuncinya adalah kolaborasi; lintas generasi, disiplin, dan medium.

Teknologi yang sering dianggap ancaman justru bisa menjadi sekutu. Film, arsip digital, dan penyebaran informasi bisa membuka pintu baru bagi generasi muda untuk mengenal wayang klithik. Inilah yang akan mendekatkan wayang klithik kepada generasi muda.

Menjadi peran generasi muda pula untuk membuat sebayanya tertarik untuk mengenal dan mempelajari wayang klithik. Di sinilah Bustomy dan kawan-kawannya menemukan relevansi. Mereka nggak mendaku sebagai penyelamat, tapi penghubung masa lalu dan masa depan, serta jembatan tradisi dengan teknologi.

Ketika pertunjukan usai, gamelan berhenti, dan penonton mulai beranjak, malam itu wayang klithik tidak serta-merta kembali menjadi benda diam, tapi mendekam dalam ingatan orang-orang. Juga dalam rekaman serta diskusi panjang yang mungkin akan diulang-ulang.

Malam itu, di Desa Wates, wayang klithik menolak untuk menjadi sekadar catatan kaki sejarah. Ia hadir sebagai peristiwa dengan pertanyaan terbuka: siapa yang akan melanjutkan? Detaknya memang masih lirih, tapi suaranya mulai terdengar di kalangan generasi muda.

Wayang klithik masih menunggu. Bukan untuk dikasihani, melainkan diajak berjalan bersama menyusuri zaman yang terus berubah, tanpa kehilangan ruh yang sama yang ditiupkan ratusan tahun lalu. (Imam Khanafi/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Mengintip Sisi Lain Nusakambangan yang Indah di Pantai Bantar Panjang

11 Jan 2026

Waroeng Sate Pak Dul Tjepiring, Tempat Makan yang Juga Museum Mini

11 Jan 2026

Bahaya yang Mengintai saat Anak Terlalu Cepat Diberi Gawai

11 Jan 2026

Lebih dari Menikmati Kopi, 'Ngopi' adalah tentang Koneksi dan Ekspresi Diri

11 Jan 2026

Sungai Finke Sudah Mengalir Sebelum Dinosaurus Lahir

11 Jan 2026

Musim Hujan Bikin Para Ibu Gampang Capek dan Baperan? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

11 Jan 2026

Menilik Keindahan Curug Merak di Kabupaten Temanggung

12 Jan 2026

Cara Naik Kereta 36+3 di Jepang yang Santai dan Kaya Pemandangan Indah

12 Jan 2026

Belenggu Musim Baratan bagi Nelayan; Gagal Melaut dan Terjerat Lintah Darat

12 Jan 2026

Koperasi hingga Budi Daya Ikan, Upaya Pemkot Bantu Nelayan Semarang hadapi Paceklik

12 Jan 2026

3 Kode dari Tubuh Kalau Kamu Alami Intoleransi Gluten!

12 Jan 2026

Akses Jalan Mulai Terbuka, Desa Tempur Jepara Perlahan Bangkit Pascalongsor

12 Jan 2026

'Project Y', Film Korea Terbaru yang Duetkan Aktris Papan Atas Korea Han So-hee dan Jun Jong-seo

13 Jan 2026

Cerita Legenda Puncak Syarif di Gunung Merbabu

13 Jan 2026

Merti Sendang Curug Sari dan Kampanye 'Nggodog Wedang' Warga Pakintelan Semarang

13 Jan 2026

In This Economy, Mengapa Orang Masih Berburu Emas meski Harga Sudah Tinggi?

13 Jan 2026

Riset Ungkap Kita Sering Merasa Kebal dari Dampak Perubahan Iklim

13 Jan 2026

Bolehkah Makan Malam Cuma Pakai Buah?

13 Jan 2026

Sebenarnya, Boleh Nggak Sih Merokok di Trotoar Kota Semarang?

14 Jan 2026

Paradoks Memiliki Anak di Korea, Dianggap Berkah Sekaligus Kutukan Finansial

14 Jan 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: