BerandaTradisinesia
Rabu, 18 Jan 2022 17:15

Jembatan Gondolayu Jogja dan Kisah-Kisah yang Menyertainya

Suasana Jembatan Gondolayu ketika sore menjelang malam. (Twitter/fransiscaecilia)

Jembatan Gondolayu menjadi salah satu spot ikonik di Jogja. Namun, di balik gemerlapnya jembatan yang melintang di atas Kali Code ini, ada banyak kisah yang menarik yang perlu kamu tahu. Apa saja?

Inibaru.id – Hampir semua orang yang pernah menginjakkan kaki di Yogyakarta agaknya memiliki kenangan mendalam terkait kota ini. Banyak alasan yang membuatnya begitu; mulai dari orang-orangnya yang ramah hingga bangunan-bangunan ikoniknya yang bikin betah.

Maka, nggak heran kalau wilayah yang sangat menjunjung tinggi budaya dan tradisi ini menjadi salah satu kota wisata terpenting di Indonesia. Siapa pun pasti pengin mematut diri di Tugu Pal Putih atau lebih dikenal sebagai Tugu Jogja. Kamu juga?

Namun, tahukah kamu bahwa sepelemparan batu dari tugu yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman itu, ada satu jembatan yang juga nggak kalah ikonik? Yap, Jembatan Gondolayu namanya. Pada malam hari, jembatan ini menjadi salah satu tempat nongkrong paling asyik bagi para muda-mudi di sana.

Terbentang di atas Kali Code, jembatan yang merupakan peninggalan dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda ini memang menjadi salah satu spot paling menawan di kota tersebut. Oya, Jembatan Gondolayu diyakini dibangun pada 1840-an, atau di masa yang sama saat Perang Diponegoro berlangsung.

Kisah Ratmi dan Ngatino

Kali pertama eksis, Jembatan Gondolayu terbuat dari batang bambu yang disatukan. Jembatan ini baru mengalami renovasi beberapa tahun berselang; yang semula dari batang bambu menjadi beton. Konon, agar jembatan berdiri kokoh saat dibangun, ada tumbal yang harus dikorbankan.

Kisah tumbal ini mungkin hanyalah mitos, meski banyak yang masih meyakini kebenarannya hingga sekarang. Dikutip dari Jogja Hidden Story, tumbal yang dikorbankan adalah sepasang istri-suami yang baru saja melangsungkan pernikahan, yakni Ratmi dan Ngatino.

Sejoli itu mengalami nasib sial setelah dijemput paksa tentara Belanda nggak lama setelah melangsungkan akad nikah. Mereka diikat tangannya dan disumpal mulutnya, kemudian dilempar ke dasar pondasi jembatan, lalu diuruk; terpendam bersama material jembatan lainnya.

Hingga kini, kisah tersebut masih sering dibahas oleh masyarakat setempat. Meski begitu, nyatanya cerita menyeramkan Ratmi dan Ngatino nggak menyurutkan anak muda di sana untuk tetap nongkrong-nongkrong di jembatan yang dihiasi lampu-lampu jalan zadul ini hingga larut malam.

Jembatan Gondolayu di sore sebagai salah satu spot untuk berfoto ria. (Tribun Joga)

Kisah Yu Djiyem

Cerita yang justru membuat bulu kuduk merinding adalah sebuah legenda tentang sosok hantu penjual jamu gendong yang kerap menampakkan diri di Jembatan Gondolayu. Masyarakat setempat menamai sosok tersebut sebagai Yu Djiyem.

Yu Djiyem diyakini sebagai penjual jamu yang meregang nyawa di jembatan tersebut pada 1915. Suatu malam pada tahun tersebut, Yu Djiyem diadang lima orang lelaki di atas jembatan Gondolayu, lalu dipaksa untuk berjalan ke tepian Kali Code bagian timur.

Di tempat tersebut, dia diperkosa beramai-ramai, kemudian dibunuh dan jenazahnya dilarung ke sungai bersama dengan dagangannya. Keesokan harinya, jasad Yu Djiyem ditemukan warga Sayidan. Dia meninggal dengan pakaian yang sudah nggak utuh.

Sejumlah kesaksian mengatakan, hantu Yu Djiyem masih kerap muncul di Jembatan Gondolayu. Dia muncul menyaru sosok penjual jamu dengan wajah semrawut dan tubuh berbalut pakaian koyak. Hiiii!

Terlepas dari kisah mistis yang melatarbelakangi bangunan bersejarah tersebut, Jembatan Gondolayu tetaplah lekang di hati para pelancong yang pernah menginjakkan kaki di Jogja. Ehm, jangan-jangan justru cerita mistis inilah yang jadi daya tarik utamanya, ya? Ha-ha. (Kharisma Ghana Tawakal/E07)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: