BerandaTradisinesia
Sabtu, 12 Mar 2021 20:00

Jadi 'Maskot' di Alun-Alun Kota, Mengapa Pohon Beringin Dianggap Angker?

Pohon beringin sering dianggap angker. (Flickr/ Samantha Levang)

Meski menjadi maskot di alun-alun kota di Jawa, pohon beringin kerap dianggap angker. Namun, keangkeran pohon berukuran besar dengan cabang yang melebar ini justru memberikan keuntungan, lo. Apa itu?

Inibaru.id – Trowulan, ibukota Majapahit, sebagaimana tertuang dalam Negarakertagama, memiliki sebuah lapangan luas berbentuk persegi yang disebut tanah sakral. Konon, inilah ihwal mula alun-alun, yang dalam perkembangannya menjadi pusat sosial budaya dengan keraton, masjid, dan sel. Sebagai maskotnya, alun-alun punya pohon beringin.

Salah satu beringin paling terkenal di Jawa adalah Kiai Dewa Ndharu dan Kiai Jana Ndharu. Dulu, pohon ara kembar di Alun-alun Yogyakarta ini jadi tempat untuk memprotes kebijakan raja. Dengan pakaian serba putih, orang yang protes akan pepe, bersila seharian hingga raja melihat dan menyuruhnya menghadap.

Entah apa yang membuat beringin begitu istimewa hingga menjadi "maskot" di alun-alun. Masyarakat Jawa kuno memang kerap menyakralkan pohon besar, nggak terkecuali beringin. Seiring dengan kesakralan tersebut, berbagai mitos tentang pohon yang sering dibikin bonsai ini juga acap muncul.

Bentuknya yang kekar menjulang dengan cabang yang melebar, daun lebat nan rimbun, serta akar gantung yang menjulur hingga hampir menyentuh tanah memang membuat beringin terlihat menakutkan. Maka, satu kesan pun muncul: angker!

Mitos Keangkeran Beringin

Pohon beringin kerap dianggap angker. (Kompasiana/Wayan Tarne)

Beringin merupakan salah satu pohon berdaun lebat dengan cabang melebar yang cocok menjadi peneduh di taman atau sekitar rumah. Namun, kebanyakan orang nggak berani menanamnya lantaran termakan mitos bahwa pohon bernama latin Ficus benjamina ini menjadi sarang mahluk halus.

Yang lebih menakutkan, akar gantung pada pohon beringin ini dipercaya jadi sarana bermain sekaligus tempat bersembunyi sejumlah hantu, misalnya kuntilanak atau genderuwo, yang sangat identik dengan masyarakat Jawa.

Alasan lain mengapa banyak orang takut dengan pohon beringin adalah permukaan batangnya yang kasar dan beralur-alur. Beberapa pohon bahkan terlihat seperti manusia dengan kaki dan tangannya yang banyak. Ini membuatnya tampak seram dan seakan-akan sesuai dengan karakternya yang angker.

Saking sakralnya pohon beringin, banyak orang yang nggak berani menebangnya. Apalagi jika lokasinya ada di hutan atau permakaman. Bahkan, ada yang sampai nggak mau buang air kecil di sekitar pohon ini karena nggak ingin mengganggu penunggunya. Ha-ha. Ini bagus sih!

Pohon Penuh Manfaat

Saking angkernya, banyak orang nggak berani menebang pohon beringin sehingga ukurannya bisa sangat besar. (Flickr/ Mark Doliner)

Entah sekadar mitos atau memang benar adanya, keengganan orang untuk menebang pohon beringin sejatinya bagus karena pohon yang masih bersaudara dengan pohon ara ini memang kaya manfaat, salah satunya sebagai penyedia oksigen dalam jumlah besar.

Dalam filosofi orang Jawa, beringin memang "dimuliakan". Ini karena pohon tersebut menjadi perlambang dari pengayoman, keadilan, hingga keabadian. Selain itu, ada yang menyebut beringin sebagai simbol manunggaling kawula Gusti.

Manunggaling kawula Gusti adalah bersatunya manusia dengan Yang Maha-esa. Intinya, beringin memang dianggap lebih dari sekadar pohon, tapi juga perwujudan dari hubungan manusia dengan penciptanya.

Selain alasan mistis, alasan kesakralan inilah yang membuat pohon beringin jarang ditebang. Pengeramatan pohon tersebut menjadikan banyak beringin bisa berusia puluhan, bahkan ratusan tahun. Mereka pun jadi tumbuh besar lantaran selalu dirawat masyarakat.

Perlu kamu tahu, beringin termasuk pohon yang memproduksi oksigen dalam jumlah besar. Pohon ini juga dikenal mampu meningkatkan resapan air di dalam tanah. Maka, menanam beringin di dekat sumur atau sumber air sangatlah bagus untuk membuat ketersediaan airnya tetap terjaga.

Jadi, gimana nih, masih menganggap beringin angker atau justru berniat memanfaatkan tanaman asli Asia dan Australia ini sebagai penopang kehidupan sehari-hari kita, nih, Millens? (Min/IB09/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Dolar Tembus Rp18.000, Apa Dampaknya bagi Masyarakat dan Apa yang Perlu Dilakukan?

4 Jun 2026

Membaca Duduk Perkara Kasus MBG: Berikut Dugaan Penyimpangan yang Sedang Diusut

4 Jun 2026

Bancakan, Tradisi Makan Bersama Masyarakat Jawa yang Sarat Makna Kebersamaan

5 Jun 2026

Grebeg Besar Keraton Solo, Tradisi Iduladha yang Menyatukan Syukur, Budaya, dan Harapan

5 Jun 2026

Mirip Orient Express, KAI Siapkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer dari Jakarta hingga Banyuwangi

6 Jun 2026

Bediding Kembali Datang Saat Musim Kemarau, Dari Mana Asal Istilahnya?

7 Jun 2026

Akun Instagram Bisa Diretas Lewat Chatbot AI? Ini Penjelasannya

8 Jun 2026

Puluhan Rafflesia Bermekaran di Anambas, Peneliti Temukan Habitat Baru

9 Jun 2026

Berusia 67.800 Tahun, Cap Tangan di Pulau Muna Pecahkan Rekor Dunia

10 Jun 2026

Kuliner Indonesia Masuk 10 Besar Dunia Versi TasteAtlas 2026, Nasi Padang Jadi Salah Satu yang Tertinggi

11 Jun 2026

Majelis Masyayikh: Pengakuan terhadap Pesantren Harus Diikuti Dukungan Pendanaan

12 Jun 2026

Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Himpun Masukan soal RUU Hak Cipta

12 Jun 2026

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: