Fly To Sky, Perkumpulan Penyuka Parkour di Kota Semarang

Fly To Sky, Perkumpulan Penyuka Parkour di Kota Semarang
Komunitas Fly To Sky di Tri Lomba Juang. (Inibaru.id/ Audrian F)

Olahraga ini menampilkan orang-orang yang piawai melompati gedung satu ke gedung lainnya. Yap, namanya parkour. Di Kota Semarang ada komunitasnya lo, namanya Fly To Sky.

Inibaru.id - Kalau lihat olahraga ini, saya jadi teringat film “District 13”. Film ini bercerita tentang seseorang yang punya keterampilan melompati sebuah bangunan atau gedung dengan lihainya. Namanya adalah “parkour”.

Sebagaimana cerita di film itu, menurut saya parkour sungguh keren. Apalagi di Instagram sering ada parkour profesional yang melompat dari satu gedung ke gedung lainnya dengan sudut pandang kamera yang diletakkan di kepalanya. Wiih, mengagumkan banget nggak sih?

Saya sebetulnya sempat pengin mencoba, tapi lihat ketinggian saja kaki dan telapak tangan saya sudah berkeringat semua. Jadi, dengan segala kesadaran diri, saya nonton saja. Hehehe.

Nah, di Semarang ada komunitas parkour, namanya adalah “Fly To Sky”. Saya sempat mampir ke latihan rutinnya yang bertempat di Tri Lomba Juang Semarang. Hm, jujur saya agak kecewa sih awalnya. Saya kira komunitas ini bakal lompat-lompat di gedung begitu tapi ternyata hanya di dalam ruangan.

“Ini kalau nggak pandemi kami sudah bikin kegiatan di luar ruangan,” ujar Aldi, ketua Fly To Sky pada Minggu (21/2/2020).

Karena alasan itu ya sudah saya memaklumi saja. Namun apa yang mereka tunjukkan di ruangan ini juga nggak kalah keren kok. Di sini mereka hendak lebih mengasah gerakan-gerakan dasar. Jadi ketika beneran mencoba di ruangan publik beneran nanti, mereka bakal semakin terampil.

Nah, Fly To Sky ini kata Aldi terbentuk pada 2009. Seperti yang saya bilang di awal tadi, terbentuknya Fly To Sky juga nggak lepas dari pengaruh film-film parkour. Mereka mengaku terinspirasi film Yamakasi (2001). O ya, sebelum Fly To Sky, ada kelompok-kelompok kecil pencinta parkour yang lebih dulu mentas di Semarang.

“Sebelumnya itu misalnya kayak Free Run Semarang, Semarang Parkours, terus dari Unika itu ada juga. Cuma mereka buat senang-senang saja. Jadi sistematis dan tertata ya semenjak ada Fly To Sky ini,” terang Aldi.

Awalnya Belajar dari Youtube

Sebagai pelopor, mereka tentu nggak punya banyak mentor. Namun besarnya keinginan mengalahkan kedangkalan teknik mereka. Untungnya di tahun-tahun itu Youtube sudah "membumi". Dari platform inilah mereka belajar, Millens.

“Guru kami ya Youtube,” ujarnya.

Keinginan untuk melakukan parkour tadi nggak main-main. Bukanya ngeri seperti saya karena melihat ketinggian, orang-orang ini justru makin semangat dan terinspirasi.

Lompat ke sana ke mari di ketinggian tentu berisiko. Generasi awal Fly To Sky merasakan betul risiko ini. Beberapa mengalami cidera hingga patah tulang.

Aksi akrobatik. (Inibaru.id/ Audrian F)<br>
Aksi akrobatik. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Namun setelah mengalami berbagai macam cedera kami tahu patokannya. Jadi untuk generasi selanjutnya kami bisa jadi mentor," tambah Aldi.

Setahun setelah terbentuk, Fly To Sky langsung punya banyak peminat. Saat itu memang kebetulan film-film parkour sedang hangat. Olahraga ini pun jadi ikut populer.

Di tahun-tahun itu pula nama Fly To Sky beneran ‘fly’. Banyak event yang mengundang mereka untuk unjuk kebolehan. Jangan salah ya, meskipun identik dengan arena gedung atau ruang publik, namun parkour ini bisa jadi ajang pertunjukan juga lo.

“Ya karena jadi perform, arenanya dibikin sendiri pakai properti. Pertunjukannya lebih akrobatik,” jelas Aldi.

Parkour Juga untuk Perempuan

Nggak hanya kaum adam saja yang suka parkour, perempuan-perempuan Semarang juga ikut gabung dengan olahraga ekstrem ini. Bahkan, dengan keikutsertaannya, Kota Semarang pernah jadi satu-satunya kota yang punya partisipan perempuan.

Pipi ANF, salah seorang perempuan generasi lama di Fly To Sky mengungkapkan pengalamannya selama mendalami parkour. Menurutnya khusus untuk perempuan, gerakannya nggak seakrobatik laki-laki. Lebih ke yang dasar dan ringan-ringan.

Latihan di dalam ruangan karena masih pandemi. (Inibaru.id/ Audrian F)
Latihan di dalam ruangan karena masih pandemi. (Inibaru.id/ Audrian F)

“Tapi sekarang sudah nggak ada. Saya pun juga nggak begitu aktif karena kerja,” ujar Pipi yang juga pernah jadi instruktur parkour perempuan.

Saat ini eksistensi parkour mungkin nggak setenar dulu. Saat populer dulu, banyak kelompok parkour kecil di beberapa wilayah Semarang. Sekarang, sudah nggak lagi. Bisa dibilang Fly To Sky merupakan induk bagi kelompok-kelompok kecil tersebut.

Meskipun induk, anggota mereka nggak menentu. Ketika latihan rutin, anggota yang datang paling banyak 10 orang. Usinya pun beragam, dari remaja sampai dewasa 30-an tahun.

Kalau tertarik mempelajari parkour, kamu bisa gabung dengan Fly To Sky, Millens. Masih malu-malu? Kepoin dulu saja Instagramnya di @parkoursemarang. (Audrian F/E05)