Atur-Atur Strategi Agar Usaha Tidak Rugi saat Harga Cabai Terus Meninggi

Atur-Atur Strategi Agar Usaha Tidak Rugi saat Harga Cabai Terus Meninggi
Sri, saat menyiapkan pesanan ceker bledek. (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Mereka yang menjadi pelaku usaha kuliner tentu terdampak dengan harga cabai yang tengah meroket seperti sekarang. Lalu, gimana mereka atur strategi agar usaha tidak rugi saat harga cabai terus meninggi?

Inibaru.id – Harga sekilogram cabai rawit merah per Rabu (3/3/2021) mencapai Rp 120 ribu. Normalnya, harganya sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Ini tentu menimbulkan kegalauan di kalangan para pelaku usaha kuliner, khususnya yang menajikan masakan pedas.

Di tengah merebaknya para pencinta masakan pedas di Tanah Air, para pelaku kuliner pedas ini pun mau nggak mau harus ikut dalam pusaran kenaikan harga cabai yang gila-gilaan ini, nggak terkecuali Sri, pemilik rumah makan Omah Pedes yang berada di Jalan Raya Bandungan, Kabupaten Semarang.

Sri mengaku khawatir. Sudah sekitar seminggu ini dirinya harus menebus cabai di pasar dengan harga yang naik sampai hampir empat kali lipat.

“Sekarang kami beli Rp 100 ribu, pakai cabai seret (cabai setan),” kata perempuan 45 tahun ini, Selasa (2/3). Sebelumya, harga cabai setan berkisar antara Rp 35 ribu sampai Rp 40-an ribu saja per kilogram.

Meski begitu, dirinya mengaku nggak kaget jika harga cabai melambung tinggi. Menurut pengalamannya berjualan selama empat tahun, harga cabai tertinggi bisa mencapai Rp. 120 ribu. Sri mengaku harga cabai merangkak naik sedikit demi sedikit.

“Kenaikan baru terjadi. Kemarin-kemarin beli Rp 70-80 ribu. Kalau Rp 100 ribu baru seminggunan ini,” ungkapnya.

Bertahan dengan Kualitas 

bagaimana nasib para oelaku kuliner pedas? (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)
bagaimana nasib para oelaku kuliner pedas? (Inibaru.id/ Zulfa Anisah)

Kenaikan bahan baku yang hingga berlipat-lipat nggak lantas membuat Sri menurunkan tingkat kepedasan. Dia mencoba bertahan dengan kualitas kepedasan seperti sebelum harga cabai melambung tinggi, meski dengan begitu dia harus menurunkan kuantitasnya.

“Pas jual diakali dengan pengurangan porsi," kata perempuan berjilbab tersebut, menyikapi tingginya biaya operasional yang harus dia keluarkan. "Tapi, kalau pedas, tetap!”

Selama harga cabai melangit, Sri mengaku terpaksa mengurangi porsi ceker bledek yang jadi andalan di tempatnya. Seporsi ceker bledek yang biasanya berisi enam buah, dikurangi menjadi lima buah saja. Namun, dia tetap nggebyah sambalnya.

Sri berusaha meyakinkan para pelanggannya dengan menjaga kualitas, membebaskan para pembeli untuk rekues tingkat kepedasan, dan menggunakan cabai yang fresh seperti biasanya. 

“Kepercayaan pelanggan itu nomor satu, agar mereka nggak kecewa,” tukas Sri saat ditemui Inibaru.id di warungnya yang berlokasi tepat di depan pom bensin Bandungan.

Sudah Nyetok Lebih Dulu

Harga cabai kian naik lantaran ada kelangkaan di pasar. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Harga cabai kian naik lantaran ada kelangkaan di pasar. (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Anas Kolil Lullah, pemilik gerai seblak, masakan berupa "kerupuk" berkuah khas Bandung yang biasanya disajikan dengan tingkat kepedasan ekstra, saat ini nggak merasa terdampak ketika harga cabai merangkak naik.

Mengelola tiga gerai seblak di daerah Ngaliyan, Kota Semarang, dia bahkan mengaku belum mengikuti harga cabai terkini lantaran sudah nyetok cabai sebelum harganya naik. Untuk bahan baku sambal, Anas, begitu dia biasa disapa, memang menggunakan cabai kering, bukan cabai segar seperti Sri. 

Mbuh ra reti saiki (Nggak tahu sekarang), soale terakhir beli agak turun,” jawabnya saat dihubungi via pesan singkat, Rabu (3/3).

Kendati begitu, dia nggak menepis perasaan waswas jika harga cabai terus melambung, karena stok cabai keringnya saat ini sudah mulai menipis. Lelaki muda yang biasanya membeli cabai langsung dari petani di Magelang ini mengaku pasrah dnegan harga yang sudah kadung meroket.

“Ini tinggal beberapa kilogram aja. Dari pertengahan Februari sudah cari, tapi belum dapat," keluh dia. "Pasrah saja sekarang!”

  Beli saat Murah, Stop saat Mahal

Bakso nggak lengkap tanpa sambal! (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)
Bakso nggak lengkap tanpa sambal! (Inibaru.id/ Triawanda Tirta Aditya)

Tri Winarti, pegawai di warung bakso X-Corong yang berlokasi di Desa Pakis, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, mengaku di tempatnya bekerja, pemiliknya nggak pernah mengeluhkan harga cabai yang belakangan nggak terkendali. Laiknya Anas, mereka juga nyetok cabai dalam jumlah banyak.  

“Pemiliknya sudah nyetok 2-3 kwintal cabai seret saat harganya masih Rp 7.000-an,” ungkap Tri. "Dia (pemilik warung) stop nyetok cabaik kalau harganya naik hingga di atas Rp 25 ribu, karena ini berkaitan dengan biaya operasional warung."

Perempuan paruh baya itu kemudian menambahkan, cabai yang sudah dibeli dalam jumlah banyak tersebut kemudian dicuci, lalu dikeringkan. Cabai yang sudah kering kemudian diambil sesuai kebutuhan dan diolah menjadi sambal, kondimen penting di warung bakso tersebut.

“Cabai (yang dikeringkan) paling tidak seminggu sekali harus dijemur dan dicek adakah jamur di dalamnya, Kalau ada jamur, ini bisa mempengaruhi rasa,” beber perempuan yang mengaku membutuhkan sekitar dua kilogram cabai untuk olahan bakso di warung tempatnya bekerja itu.

Ibarat banyak jalan menuju Roma, agaknya memang bakal ada banyak jalan saat harga cabai meninggi ini. Asal nggak curang dan bikin pelanggan berkurang, sah saja atur-atur strategi agar usaha tidak rugi! Penjual cuan, pembeli senang. Sama-sama menguntungkan, bukan? (Zulfa Anisah/E03)