Inibaru.id - Wacana untuk menjadikan Dugderan, tradisi menyambut Bulan Suci Ramadan yang konon sudah digelar sejak masa kolonialisme, sebagai "Warisan Budaya" kembali mencuat pada acara pembukaan Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 pada Sabtu (7/2).
Bertempat di bilangan Kauman, tepatnya di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Semarang, festival yang mulai digelar di bawah kepemimpinan Bupati Semarang RM Tumenggung Ario Purbaningra pada 1882 itu tahun ini mengangkat tema tentang “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi”.
Rencananya, tradisi tahunan tersebut akan berlangsung selama 10 hari ke depan, dengan puncak perayaan yang ditandai dengan kirab budaya berlangsung pada 16 Februari mendatang. Puncak Dugderan akan menjadi penanda dimulainya Ramadan yang diperkirakan bakal jatuh pada pekan depan.
Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tengah memperjuangkan Pasar Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya Indonesia.
"Langkah ini kami ambil agar nilai sejarah dan identitas kota tetap terjaga," sebut Agustin. “Doakan ya! Kalau menjadi warisan budaya, siapa pun wali kotanya nanti punya kewajiban mengadakan Dugderan.”
Mengusung Tema Nostalgia
Agustin berharap, Dugderan bisa terus menjadi panggung rakyat dari tahun ke tahun dan masyarakat Kota Semarang terus merasa bangga dengan tradisi yang sudah ada sejak masa kolonialisme Hindia-Belanda tersebut, sehingga akan dengan sukarela melestarikan kekayaan budaya tersebut.
“Tahun ini kami bikin lebih ramai dengan tema nostalgia masa lalu. Tema, teknik, dan kostum, kita pakai baju-baju zadul. Mungkin tahun depan akan dipikirkan tema lain yang berbeda, yang tidak kalah menarik,” sebutnya.
Tema zadul yang dikatakan politikus asal PDI-P itu memang kentara sekali pada pembukaan Dugderan tahun ini, mulai dari kehadiran kesenian lokal di panggung hiburan yang didirikan hingga penampilan musik "dangdut jadoel" yang diinisiasi Orkes Melayu (OM) Lorenza.
Penampilan itu melengkapi suasana nostalgia para tamu undangan dan jajaran pejabat Pemkot yang tampil retro dengan kostum zadul serta lapak-lapak penjual mainan masa kecil seperti kapal otok-otok dan set gerabah warna-warni yang membangkitkan memori kolektif lintas generasi.
Panggung untuk Rakyat
Agustin mengatakan, Pemkot Semarang berkomitmen untuk menjadikan Dugderan sebagai panggung untuk rakyat. Selama festival digelar, kawasan sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga Alun-Alun Barat telah disulap menjadi pusat ekonomi kerakyatan dengan zonasi yang tertata rapi.
Ratusan pelaku UMKM dan PKL binaan turut diberi ruang dalam event ini. Mereka menjajakan produk lokal, kuliner, hingga mainan tradisional. Pemkot mempersilakan siapa pun yang pengin berjualan untuk menggelar lapak mereka asalkan tertib dan menaati aturan.
“Biarlah alun-alun ini kita pakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat. Semua orang yang pengin berjualan, biarlah berjualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil menjadi prioritas,” kata Agustin.
Dia berharap, rangkaian Dugderan tahun ini berlangsung meriah dan ramai pengunjung hingga pekan depan atau pada puncak perayaan yang ditandai dengan arak-arakan Warak Ngendog dari Balaikota ke Masjid Kauman menjelang Ramadan.
Koordinasi Lintas Sektor
Agar Dugderan berlangsung lancar, Pemkot telah melakukan koordinasi lintas sektor secara saksama, antara lain Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan aparat keamanan, untuk memastikan rekayasa lalu lintas, kerapian lapak, dan kebersihan kawasan tetap terjaga selama acara berlangsung.
Koordinasi secara intensif perlu dilakukan, karena Dugderan selalu berhasil menjadi magnet pengunjung. Dari tahun ke tahun, antusiasme penjual juga kian tinggi. Hal ini terlihat dari ramainya lapak yang berjajar rapi di sepanjang koridor Jalan Ki Narto Sabdo hingga area Alun-Alun.
Lis, salah seorang pedagang yang lapaknya sempat dikunjungi Agustin saat peninjauan lokasi mengaku beruntung bisa menjadi bagian dari kemeriahan Dugderan tahun ini. Dia juga antusias karena dagangannya sempat dicicipi langsung oleh Wali Kota.
“Senang. Bu Agustin suka. Kata beliau enak, gitu!" serunya sembari menunjukkan mimik muka semringah.
Dia berharap, event ini berjalan lancar hingga penutupan, banyak pengunjung, dan semoga langgeng untuk tahun-tahun mendatang. Lis juga berharap deretan untuk lapak kuliner tetap tersedia sehingga dia punya kesempatan untuk kembali berjualan di tempat tersebut.
"Semoga lancar; tambah ramai yang jualan; tambah ramai yang datang," tutupnya.
Yap, semoga lantar hingga penutupan event, lalu kita bersiap menyongsong Ramadan dengan hati yang suci dan senyum yang terulas lebar. Kamu sudah pernah ke Dugderan belum nih, Gez? (Murjangkung/E10)
