BerandaTradisinesia
Selasa, 9 Feb 2026 15:21

Dugderan, Panggung Rakyat yang Sedang Berjuang jadi Warisan Budaya Indonesia

Perayaan Kirab Dugderan yang digelar tiap tahun untuk menyambut bulan ramadan di Kota Semarang. (Inibaru.id/ FN)

Selain sebagai ajang hiburan, Pemkot kini tengah memperjuangkan Festival Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya.

Inibaru.id - Wacana untuk menjadikan Dugderan, tradisi menyambut Bulan Suci Ramadan yang konon sudah digelar sejak masa kolonialisme, sebagai "Warisan Budaya" kembali mencuat pada acara pembukaan Festival Pasar Rakyat Dugderan 2026 pada Sabtu (7/2).

Bertempat di bilangan Kauman, tepatnya di kawasan Alun-Alun Masjid Agung Semarang, festival yang mulai digelar di bawah kepemimpinan Bupati Semarang RM Tumenggung Ario Purbaningra pada 1882 itu tahun ini mengangkat tema tentang “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi”.

Rencananya, tradisi tahunan tersebut akan berlangsung selama 10 hari ke depan, dengan puncak perayaan yang ditandai dengan kirab budaya berlangsung pada 16 Februari mendatang. Puncak Dugderan akan menjadi penanda dimulainya Ramadan yang diperkirakan bakal jatuh pada pekan depan.

Dalam sambutannya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tengah memperjuangkan Pasar Dugderan agar mendapatkan pengakuan yang lebih kuat sebagai Warisan Budaya Indonesia.

"Langkah ini kami ambil agar nilai sejarah dan identitas kota tetap terjaga," sebut Agustin. “Doakan ya! Kalau menjadi warisan budaya, siapa pun wali kotanya nanti punya kewajiban mengadakan Dugderan.”

Mengusung Tema Nostalgia

Agustin berharap, Dugderan bisa terus menjadi panggung rakyat dari tahun ke tahun dan masyarakat Kota Semarang terus merasa bangga dengan tradisi yang sudah ada sejak masa kolonialisme Hindia-Belanda tersebut, sehingga akan dengan sukarela melestarikan kekayaan budaya tersebut.

“Tahun ini kami bikin lebih ramai dengan tema nostalgia masa lalu. Tema, teknik, dan kostum, kita pakai baju-baju zadul. Mungkin tahun depan akan dipikirkan tema lain yang berbeda, yang tidak kalah menarik,” sebutnya.

Tema zadul yang dikatakan politikus asal PDI-P itu memang kentara sekali pada pembukaan Dugderan tahun ini, mulai dari kehadiran kesenian lokal di panggung hiburan yang didirikan hingga penampilan musik "dangdut jadoel" yang diinisiasi Orkes Melayu (OM) Lorenza.

Penampilan itu melengkapi suasana nostalgia para tamu undangan dan jajaran pejabat Pemkot yang tampil retro dengan kostum zadul serta lapak-lapak penjual mainan masa kecil seperti kapal otok-otok dan set gerabah warna-warni yang membangkitkan memori kolektif lintas generasi.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng saat membuka Dugderan. (Humas Pemkot)

Panggung untuk Rakyat

Agustin mengatakan, Pemkot Semarang berkomitmen untuk menjadikan Dugderan sebagai panggung untuk rakyat. Selama festival digelar, kawasan sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga Alun-Alun Barat telah disulap menjadi pusat ekonomi kerakyatan dengan zonasi yang tertata rapi.

Ratusan pelaku UMKM dan PKL binaan turut diberi ruang dalam event ini. Mereka menjajakan produk lokal, kuliner, hingga mainan tradisional. Pemkot mempersilakan siapa pun yang pengin berjualan untuk menggelar lapak mereka asalkan tertib dan menaati aturan.

“Biarlah alun-alun ini kita pakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat. Semua orang yang pengin berjualan, biarlah berjualan. Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil menjadi prioritas,” kata Agustin.

Dia berharap, rangkaian Dugderan tahun ini berlangsung meriah dan ramai pengunjung hingga pekan depan atau pada puncak perayaan yang ditandai dengan arak-arakan Warak Ngendog dari Balaikota ke Masjid Kauman menjelang Ramadan.

Koordinasi Lintas Sektor

Agar Dugderan berlangsung lancar, Pemkot telah melakukan koordinasi lintas sektor secara saksama, antara lain Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Satpol PP, dan aparat keamanan, untuk memastikan rekayasa lalu lintas, kerapian lapak, dan kebersihan kawasan tetap terjaga selama acara berlangsung.

Koordinasi secara intensif perlu dilakukan, karena Dugderan selalu berhasil menjadi magnet pengunjung. Dari tahun ke tahun, antusiasme penjual juga kian tinggi. Hal ini terlihat dari ramainya lapak yang berjajar rapi di sepanjang koridor Jalan Ki Narto Sabdo hingga area Alun-Alun.

Lis, salah seorang pedagang yang lapaknya sempat dikunjungi Agustin saat peninjauan lokasi mengaku beruntung bisa menjadi bagian dari kemeriahan Dugderan tahun ini. Dia juga antusias karena dagangannya sempat dicicipi langsung oleh Wali Kota.

“Senang. Bu Agustin suka. Kata beliau enak, gitu!" serunya sembari menunjukkan mimik muka semringah.

Dia berharap, event ini berjalan lancar hingga penutupan, banyak pengunjung, dan semoga langgeng untuk tahun-tahun mendatang. Lis juga berharap deretan untuk lapak kuliner tetap tersedia sehingga dia punya kesempatan untuk kembali berjualan di tempat tersebut.

"Semoga lancar; tambah ramai yang jualan; tambah ramai yang datang," tutupnya.

Yap, semoga lantar hingga penutupan event, lalu kita bersiap menyongsong Ramadan dengan hati yang suci dan senyum yang terulas lebar. Kamu sudah pernah ke Dugderan belum nih, Gez? (Murjangkung/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

AMSI Soroti Ancaman FIMI, Bentuk Baru Manipulasi Informasi di Era AI

14 Jun 2026

Kementerian Kehutanan Lepasliarkan Elang Jawa dan Resmikan Fasilitas Konservasi di Megamendung

15 Jun 2026

9 Tradisi Malam Satu Suro di Berbagai Daerah yang Masih Dilestarikan hingga Kini

15 Jun 2026

TikTok Jadi Media Sosial Paling Sering Diakses Warganet Indonesia pada 2026

16 Jun 2026

Sensus Ekonomi 2026 Dimulai, Warga Jateng Diminta Sambut Petugas dengan Baik

17 Jun 2026

Keraton Solo Keluarkan 14 Pusaka dan Kebo Bule dalam Kirab Malam 1 Suro

17 Jun 2026

Temuan Prasasti di Klaten Bukan yang Pertama, Diduga Terhubung dengan Dua Prasasti Era Kolonial

18 Jun 2026

AMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Menghadirkan Informasi Iklim yang Lebih Kredibel

19 Jun 2026

Kenapa Harga Pertamax Belum Turun Meski Ada Penurunan Harga Minyak Dunia? Ini Faktor yang Mempengaruhinya

20 Jun 2026

Mengapa Kebo Bule Selalu Hadir dalam Kirab Malam 1 Suro? Begini Sejarah dan Maknanya

21 Jun 2026

Melihat yang Luput: Dari Kudus, Festival Film Anak Bangsa Menyalakan Ruang Bagi Cerita-Cerita Kecil

22 Jun 2026

Kenali Ciri-Ciri Petugas Sensus Ekonomi 2026 Asli, Jangan Sampai Tertipu Oknum Mengatasnamakan BPS

23 Jun 2026

B50 Siap Beredar Juli 2026, Pemerintah Optimistis Tak Perlu Lagi Impor Solar

24 Jun 2026

Mendag Tegaskan NIB untuk Penjual Online Bukan untuk Pungutan Pajak

25 Jun 2026

5 Alasan Penting Mengapa Anda Harus Mengunjungi Dunia Fantasi Ancol Tahun Ini

25 Jun 2026

Dasun di Lasem, Galangan Kapal yang Pernah Menopang Armada Majapahit hingga Demak

26 Jun 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: