BerandaHits
Jumat, 29 Jan 2026 15:27

Jembatan Hanyut, Getek Jadi Transportasi Sehari-hari di Mangkang Wetan

Potret anak-anak pulang sekolah harus naik getek untuk menyeberangi Sungai Bringin. (Inibaru.id/ Sundara)

Setelah jembatan hanyut, getek rakitan kini menjadi satu-satunya transportasi andalan warga Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari?<br>

Inibaru.id - Cukup sulit untuk membayangkan masih ada warga di Kota Semarang yang masih mengandalkan getek atau rakit sederhana untuk beraktivitas sehari-hari. Namun, inilah yang terjadi di Kampung Tambaksari, Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu.

Untuk menyeberangi Sungai Bringin, dalam dua pekan terakhir warga setempat terpaksa memakai getek rakitan manual yang terbuat dari stirofoam, jerigen, bambu, papan kayu, dan triplek, sebagai moda transportasi utama lantaran jembatan swadaya yang mereka bikin rusak.

Curah hujan yang tinggi pada Kamis (15/1/2026) malam membuat debit air Sungai Bringin naik. Aliran sungai yang deras pun menyapu bersih jembatan yang sebelumnya menjadi jalur penghubung menuju jalan utama di Kelurahan Mangunharjo, desa yang harus dilalui untuk mencapai jalan raya.

Jaraknya memang nggak terlalu lebar, tapi karena jalur itu menjadi satu-satunya penghubung, masyarakat pun terpaksa menggunakan alat sederhana itu untuk menyeberang. Setiap pagi, anak sekolah dan warga yang harus bekerja ke luar desa pun terpaksa mengantre di "dermaga" dadakan tersebut.

Bergantian Menarik Getek

Upaya membuat getek diinisiasi langsung oleh warga setempat. Untuk mengoperasikannya, getek berukuran sekitar 2x1,5 meter itu ditarik dengan seutas tali yang dibentangkan selebar sungai. Sekali mengangkut, getek bisa dinaiki sekitar 5-8 orang, tapi para penumpang harus berimpitan agar nggak oleng.

Oya, para penarik getek ini adalah para sukarelawan yang bekerja bergantian. Ngamuri, salah seorang sukarelawan penarik getek mengatakan, siapa saja yang sedang memiliki waktu luang dan bersedia membantu akan dipersilakan, karena tujuannya adalah saling menolong; warga bantu warga.

"Warga Tambaksari kan lagi susah semua. Jadi, kami saling bantu saja, guyub rukun untuk narik getek," tutur lelaki paruh baya itu di tengah kesibukannya menarik getek, Rabu (28/1/2026).

Anak-anak sekolah saat naik getek untuk menuju Kampung Tambaksari yang berada di sebrang Sungai Bringin. (Sundara/Inibaru.id)

Profesi sehari-hari Ngamuri adalah nelayan. Namun, karena sedang nggak melaut, dia pun memilih membantu para tetangganya, khususnya anak sekolah dan yang harus bekerja ke luar desa, sebagai penarik getek. Meski sudah nggak muda lagi, tenaganya sangat dibutuhkan mengingat getek beroperasi hampir 24 jam sehari.

"Kota Semarang kok masih ada getek!" seru Ngamuri, lalu tertawa menyindir. "Tentu saja kami khawatir dengan keselamatan diri dan penumpang, tapi mau gimana lagi? Jadi, Harapan kami semoga segera dibangun jembatan yang layak. Lha wong anak-anak sekolah mau cari ilmu kok kayak susah banget gitu!"

Sebanyak 300 Keluarga Terisolasi

Sejak akses jembatan putus, warga Kampung Tambaksari pun terisolasi, khususnya RW 9 yang terdiri atas sekitar 300 keluarga. Sejak itu, mereka mendirikan tenda di Kelurahan Mangunharjo yang dijadikan tempat parkir dadakan. Motor-motor warga diangkut menggunakan perahu.

Ketua RT 9 RW 7 Mustagfirin mengatakan, sejak Sungai Bringin dinormalisasi dua tahun lalu, sebenarnya ada rencana pembangunan jembatan permanen. Bahkan, fondasinya sudah ada. Namun, eksekusinya terhambat sengketa lahan di sisi barat, sehingga pembangunan jembatan nggak kunjung dilakukan.

Untuk memudahkan aktivitas sehari-hari, warga pun kemudian membangun jembatan darurat secara swadaya. Nahas, jembatan sementara itu hanyut terbawa arus Sungai Bringin saat hujan deras mengguyur wilayah hulu pada pertengahan Januari lalu.

"Pihak kelurahan dan kecamatan sudah mengetahui kondisi kami. Mereka juga sudah melakukan tinjauan ke sini, tapi respons mereka sebatas memberi semangat dan ngasih bantuan sembako," ungkap Mustagfirin, Rabu (28/1).

Jalur Alternatif Juga Rusak

Getek menjadi andalan anak sekolah dan warga yang bekerja di Kampung Tambaksari Mangkang Wetan Kota Semarang. (Sundara/Inibaru.id)

Mustagfirin mengatakan, selain naik getek, sebenarnya ada satu jalur alternatif yang bisa dilalui, yakni di sisi timur sungai. Namun, kontur jalan yang masih berupa tanah liat membuat mereka kesulitan melalui, terutama saat musim hujan seperti sekarang.

"Warga sudah sepakat meminta agar jembatan segera dibangun. Namun, pemerintah menanggapi dengan mengatakan bahwa permintaan itu sudah diusulkan. Kami disuruh menunggu," resahnya.

Sembari menunggu jembatan dibangun, Bhabinkamtibmas Kelurahan Mangkang Wetan Aipda Hery Prasetyo mengimbau agar warga nggak memaksakan diri menyeberangi sungai saat arus air sedang tinggi, karena berbahaya.

"(Yang memakai getek) tetap berhati-hati, termasuk dalam menjaga kendaraan yang dipindahkan ke sisi barat tanggul sungai," imbaunya.

Sedikit informasi, karena nggak bisa diseberangkan menggunakan getek, kendaraan warga saat ini dikumpulkan dalam satu lokasi, yakni di tenda darurat. Untuk mencegah kehilangan, tempat tersebut dijaga ketat secara swadaya oleh warga setempat.

Sebagai ibu kota Jawa Tengah yang hampir tiap sudutnya dipenuhi fasilitas wah, situasi ini tentu saja terasa aneh, bukan? Namun, tetap salut dengan bagaimana warga setempat tergerak untuk saling membantu mengatasi bencana yang tengah terjadi di Tambaksari. (Sundara/E10)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Riset CISDI: Satu Dekade Berlalu, Harga Rokok Tetap Murah, Reformasi Cukai Diperlukan

17 Apr 2026

Sisi Positif Mitos Genderuwo; Cara Leluhur Jaga Pohon Raksasa Biar Sumber Air Tetap Awet

20 Apr 2026

Sumanto Dorong Desa Gempolan Jadi 'Surga' Durian: Jangan Cuma Tanam, Harus Inovasi!

20 Apr 2026

Jung Jawa, Jejak Kapal Raksasa Penguasa Laut Nusantara

21 Apr 2026

Spot Favorit Bali, Wajib Masuk Daftar Itinerary Liburan Keluarga

22 Apr 2026

Pilihan Penginapan Nyaman di Bandung untuk Liburan Singkat yang Maksimal

22 Apr 2026

Pendaftaran Beasiswa OSC 2026 Dibuka, Sediakan 140 Beasiswa S1

22 Apr 2026

7 Pemikiran Kartini yang Masih Relevan Sampai Saat Ini

23 Apr 2026

Adon-Adon Coro: Minuman Hangat Khas Jepara Favorit Kartini

23 Apr 2026

Kini Jadi Ancaman, Plastik Ternyata Pernah Jadi Solusi Menyelamatkan Bumi

24 Apr 2026

Sosialisasi Mitigasi Gunung Slamet, Pemprov Jateng Tekankan Keselamatan Warga

24 Apr 2026

Kasus Daycare Jogja: Tentang Kepercayaan, Pengasuhan, dan Sistem yang Belum Utuh

27 Apr 2026

Gunung Ungaran: Jejak Tiga Generasi yang Tumbuh dari Runtuhan

28 Apr 2026

Saat Video Kekerasan Anak Viral, Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

28 Apr 2026

Ilmu Tebang Bambu Leluhur, Tradisi Canggih yang Terbukti oleh Sains

30 Apr 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: