BerandaTradisinesia
Jumat, 26 Feb 2026 18:08

Bukan Sekadar Berisik, Tradisi Tongtek Jepara Adalah Simbol Solidaritas dan Kreativitas Tanpa Batas!

Ilustrasi tradisi tongtek yaitu membangunkan warga sekitar untuk sahur dengan kentongan dan berbagai alat lainnya. (via FB)

Alarm ponsel boleh saja canggih, tapi warga Jepara punya cara yang lebih "berisik" namun asyik buat bangunin sahur yaitu Tongtek! Dari alat dapur hingga drum bekas, para pemuda Bumi Kartini menyulap waktu dini hari jadi konser perkusi yang penuh semangat dan solidaritas.

Inibaru.id - Ramadan di Jepara nggak cuma soal aroma kolak atau kemeriahan pasar takjil menjelang berbuka. Begitu jarum jam menyentuh angka 02.00 dini hari, ada sebuah denyut kehidupan yang unik yaitu Tongtek. Buat masyarakat Jepara, suara bambu yang dipukul beradu dengan galon bekas bukan sekadar kebisingan, melainkan "alarm" alami yang sarat akan nilai seni dan kebersamaan.

Secara harfiah, nama tongtek diambil dari onomatope suara alat musiknya: "tong" dari bunyi drum atau galon, dan "tek" dari suara kentongan bambu. Awalnya, tradisi ini adalah bagian dari sistem keamanan lingkungan (Siskamling). Namun, di tangan para pemuda kreatif Jepara, tongtek bertransformasi menjadi pertunjukan perkusi jalanan yang energik.

Alih-alih cuma teriak "Sahur! Sahur!", gerombolan remaja ini biasanya membawa gerobak yang dimodifikasi menjadi set alat musik. Isinya beragam, mulai dari kentongan berbagai ukuran yang menghasilkan nada berbeda, drum rakitan, hingga simbal dari tutup panci. Hebatnya, irama yang dihasilkan nggak asal-asalan, lo. Mereka sering mengaransemen lagu religi populer atau selawat dengan tempo upbeat yang bikin mata yang mengantuk langsung melek!

Sebenarnya, kegiatan ini nggak cuma ada di Jepara. Banyak daerah di Jawa Tengah yang memiliki tradisi membangunkan orang sahur dengan kentongan dengan penyebutan yang berbeda.

Lebih dari Sekadar Membangunkan Sahur

Salah satu penampilan peserta lomba tongtek di Kecamatan Mayong pada 2024. (Inibaru.id/ Alfia Ainun Nikmah)

Mengapa tongtek tetap eksis di tengah canggihnya alarm ponsel? Jawabannya adalah interaksi sosial. Di desa-desa seperti kawasan Mayong, Kalinyamatan, Tahunan, hingga Mlonggo, tongtek adalah ruang berekspresi bagi generasi Z dan Alpha.

Menariknya, di Jepara sering diadakan Festival Tongtek. Ini bukan sekadar acara kampung, tapi sudah menjadi agenda tahunan yang bergengsi. Di sini, setiap kelompok tani atau pemuda RW bakal unjuk gigi dengan kostum unik, koreografi yang kompak, hingga dekorasi lampu warna-warni pada gerobak mereka.

Dari sisi historis, tradisi ini juga mencerminkan karakter masyarakat Jepara yang gotong royong. Untuk membuat satu set alat tongtek yang bagus, para pemuda biasanya iuran atau mencari sponsor dari tokoh masyarakat setempat. Ini membuktikan bahwa tongtek adalah perekat hubungan antara generasi tua dan muda.

Adaptasi di Era Digital

Meski sempat ada kekhawatiran soal polusi suara atau potensi gesekan antar-kelompok, Pemerintah Kabupaten Jepara biasanya rutin memberikan imbauan agar tradisi ini dilakukan dengan tertib. Jam operasionalnya pun diatur agar nggak mengganggu warga yang belum waktunya bangun.

Bahkan, kini tongtek mulai merambah dunia digital. Nggak jarang aksi kelompok tongtek ini viral di TikTok atau Instagram karena kreativitas mereka dalam memadukan musik tradisional dengan lagu-lagu yang lagi trending. Hal ini menunjukkan kalau tradisi lokal nggak akan mati selama anak mudanya masih diberi ruang untuk berinovasi.

Penjaga Warisan Budaya

Tongtek di Jepara adalah bukti nyata bahwa nilai religius dan budaya lokal bisa berjalan beriringan. Irama yang menggema di tengah malam bukan sekadar penanda waktu makan, tapi adalah pengingat identitas bahwa kita adalah makhluk sosial yang butuh kebersamaan. Menjaga tongtek berarti menjaga semangat gotong royong agar nggak luntur tergerus zaman.

Btw, kamu pernah ikutan tongtek atau kegiatan serupa nggak nih? (Siti Zumrokhatun/E05)


Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Wali Kota Agustina Akui Sempat Kewalahan Menangani Banjir Semarang

21 Feb 2026

Bukan Cantik Berwarna-warni, Anggrek Misterius di Hutan Merapi Ini Justru Beraroma Ikan Busuk!

21 Feb 2026

Statistik Catat Hanya Ada 2.591 Tunawisma di Seluruh Jepang

22 Feb 2026

Boleh Nggak Sih Pulang Setelah Tarawih 8 Rakaat di Masjid Lalu Witir di Rumah?

22 Feb 2026

Bersiap Sambut Pemudik, Jateng Akan Kebut Perbaikan Jalan

22 Feb 2026

Arus Mudik Lebaran 2026 dalam Bayang-Bayang Cuaca Ekstrem di Jateng

22 Feb 2026

Deretan Poster Humor Ramadan di Mijen; Viral dan Jadi Spot Ngabuburit Dadakan

22 Feb 2026

Manisnya Buah Tanpa Biji dan Perampokan Kemandirian

22 Feb 2026

Meriung Teater Ketiga 'Tengul' melalui Ruang Diskusi Pasca-pentas

22 Feb 2026

Ini Dokumen Wajib dan Cara Tukar Uang Baru Lebaran 2026 yang Perlu Kamu Tahu!

22 Feb 2026

Mengapa Orang Korea Suka Minum Alkohol dan Mabuk?

23 Feb 2026

Tren Makanan Kukusan Makin Populer, Sehat bagi Tubuh?

23 Feb 2026

Ratusan Jemaah Tiap Hari, Tradisi Semaan di Masjid Agung Kauman selama Ramadan

23 Feb 2026

Bukan Perlu atau Tidak, tapi Untuk Kepentingan Apa Perusahaan Media Adopsi AI

23 Feb 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Intip Ketan, Camilan Warisan Sunan Kudus

23 Feb 2026

Akhir Penantian 8 Tahun Petani Geblog Temanggung Berbuah Embung Manis

23 Feb 2026

Viral, Harga Boneka Monyet Punch Naik Gila-gilaan di Internet!

24 Feb 2026

Negara Mana dengan Durasi Puasa 2026 yang Terlama dan Tersingkat?

24 Feb 2026

Menyusuri Peran Para Tionghoa di Kudus via Walking Tour 'Jejak Naga di Timur Kota'

24 Feb 2026

Antisipasi Banjir, Pemkot Semarang akan Rutin Bersihkan Sedimentasi Sungai

24 Feb 2026

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: