BerandaTradisinesia
Senin, 17 Jan 2021 10:20

Bahasa Indonesia Juga Berevolusi, Kapan 'di' sebagai Kata Depan Mulai Dipisah, ya?

Ejaan Bahasa Indonesia berevolusi. (Freepik)

Hingga kini, masih banyak orang salah menuliskan 'di' sebagai imbuhan dan penanda keterangan tempat. Sebagai kata depan, 'di' seharusnya dipisah sebagaimana 'ke'dan 'dari', karena kendati terbaca sama baik, maknanya berbeda. Namun, siapa sangka, dulu kata 'di' selalu ditulis menempel. Lalu, kapan kata depan 'di' mulai dipisah?

Inibaru.id – Kamu pernah membaca atau sekadar melihat buku berjudul Dibawah Bendera Revolusi yang berisi himpunan tulisan Sukarno? Kalau peka, kamu mungkin merasa bahwa penulisan judul tersebut salah. Pasalnya, kata “di” yang dirangkai dengan kata “bawah” seharusnya dipisah karena menunjukkan keterangan tempat.

Belum lama ini Ivan Lanin, salah seorang selebtwit yang banyak mengulik tentang penggunaan bahasa di Indonesia, bercerita tentang ejaan yang mengalami perubahan. Dan, perubahan ini nggak terjadi sekali. Jadi, bisa dibilang ejaan dalam bahasa Indonesia berevolusi hingga mencapai bentuknya yang sekarang.

Dulu, menyambung kata depan seperti disini, disana, diatas, dibawah, dirumah, nggak salah. Kamu nggak akan diomeli dosen pembimbing atau dinyinyiri polisi bahasa. Tapi sekali lagi, itu dulu! Kamu kan orang sekarang, bukan warga bahela.

FYI, buku Sukarno itu terbit pada 1959. Penulisan merujuk pada ejaan Soewandi. Waktu itu, belum ada aturan mengenai pembedaan “di” yang dipisah sebagai kata depan dan “di-” yang disambung sebagai awalan pembentuk kata kerja.

Lalu, kapan “di” kata depan mulai dipisah? Penerapan untuk membedakan kata “di” baru ada pada Ejaan yang Disempurnakan (1972), Millens.

Evolusi Ejaan Bahasa Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia diawali dengan ditetapkannya Ejaan van Ophuijsen. Setelah itu, pemerintah melakukan beberapa pembaruan ejaan, mulai dari Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi, Ejaan Pembaharuan, Ejaan Melindo, Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kasusastraan (LBK), Ejaan yang Disempurnakan (EyD), hingga Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).

Kamu penasaran nggak tahap evolusi ejaan ini? Yuk, simak ulasannya!

1. Ejaan van Ophuijsen (1901-1947)

Charles Adriaan van Ophuijsen, penemu ejaan Bahasa Indonesia pertama. (GNFI)

Pada 1901, Ejaan van Ophuijsen mengawali penetapan ejaan Bahasa Indonesia. Ejaan ini memakai huruf Latin dan sistem ejaan Bahasa Belanda. Penciptanya, Charles A. van Ophuijsen. Masyarakat memakai ejaan ini sampai 1947. Setelah, ejaan ini nggak sepenuhnya dihilangkan. Salah satu ciri ejaan ini ada pada penulisan kata “oe”.

2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (1947-1956)

Setelah van Ophuijsen, diciptakanlah Ejaan Republik yang berlaku sejak 17 Maret 1947. Tujuan pemerintah adalah menyempurnakan ejaan sebelumnya, yaitu van Ophuijsen. Kebijakan ini dibahas dalam Kongres Bahasa Indonesia I, pada 1938 di Solo.

Dari kongres inilah Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi lahir. Nama ini diambil dari Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan kala itu Raden Soewandi. Selain menyamakan penulisan kata depan dengan kata kerja, ciri ejaan ini menulis angka dua (2) di belakang kata ulang seperti anak2, mobil2, rumah2, dan seterusnya. Hayo, siapa yang pernah nulis gini?

3. Ejaan Pembaharuan (1956-1961)

Prof Mr Muhammad Yamin. (Wikipedia)

Dalam Kongres Bahasa Indonesia II yang digelar pada 1954 di Medan, perubahan sistem ejaan untuk menyempurnakan Ejaan Soewandi dibicarakan. Kongres ini digagas oleh Menteri Mohammad Yamin. Ciri ejaan ini, mengeja sungai dengan sungay, koboi dengan koboy, kerbau dengan kerbaw, dan lain-lain.

4. Ejaan Melindo (1961-1967)

Pada akhir 1959, ejaan ini dikenal dalam Perjanjian Persahabatan Indonesia dan Malaysia. Pembaruan ini dilakukan karena beberapa kosakata sulit dituliskan. Sayangnya, rencana peresmian ejaan bersama tersebut gagal. Hal ini dikarenakan hubungan Indonesia-Malaysia yang makin panas pada 1962. Tadinya, akan ada penyederhanaan fonem seperti menyapu” ditulis “meɳapu”.

5. Ejaan Baru atau Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (1967-1972)

Ejaan Baru ini dikeluarkan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK), yang kini bernama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, pada 1967. Pembaharuan ejaan ini merupakan kelanjutan dari Ejaan Melindo yang sempat gagal diresmikan pada saat itu. Pada pembaruan ini hampir sama dengan EYD kecuali dalam hal kaidah.

6. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (1972-2015)

Sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) berlaku. Ejaan ini diberlakukan pada masa menteri Mashuri Saleh untuk menggantikan Ejaan Soewandi. Dalam perjalanannya, EYD mengalami dua kali perbaikan yaitu pada 1987 dan 2009. Ciri-cirinya; masyarakat sudah nggak menulis “djayalah Indonesia”, tapi “jayalah Indonesia.

7. Ejaan Bahasa Indonesia (2015-sekarang)

embenahan ejaan terakhir dilakukan Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. (Liputan6)

Melalui Badan Pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia, Pemerintah terus melakukan pembenahan ejaan. Pembenahan ini dilakukan pada saat Anies Baswedan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bagaimanapun, ejaan merupakan aspek penting dalam berbahasa Indonesia yang benar. Betul nggak, Millens?

Jadi, sudah tahu kan kalau kamu menulis “disini, dirumah, didepan, berarti sudah nggak up to date dan kamu termasuk manusia zaman apa? Ha-ha. (lin,sua,zen/IB21/E03)

Tags:

ARTIKEL TERKAIT

Sritex Masuk Rencana Akuisisi Danantara, Ini Tujuan Pemerintah

18 Okt 2026

Warteg on Train, Inovasi Kuliner KAI yang Bikin Penumpang Penasaran

19 Okt 2026

Indonesia Women's League 2026 Resmi Dibuka, Sepak Bola Wanita Indonesia Siap Berkembang

21 Okt 2026

Ghost in the Cell Borong Dua Penghargaan di Sitges Film Festival 2026

22 Okt 2026

Jauh Sebelum Pajak Modern, Jawa Kuno Sudah Punya Sistem Pajak Tanah

23 Okt 2026

Pesawat N219 Buatan Indonesia Siap Terbang Desember 2026

24 Okt 2026

Progres Tol Semarang-Demak Capai 79,42 Persen, Ditarget Rampung 2027

26 Okt 2026

Dari Surabaya, Lahir Seruan Jihad yang menginspirasi Hari Santri Nasional

27 Okt 2026

Mengapa Salatiga Disebut Salah Satu Kota Tertua di Indonesia? Ini Sejarahnya

28 Okt 2026

Menjaga Napas Rawa Gambut yang Kian Rentan Terbakar

29 Okt 2026

Poke Wayang, Ketika Pikachu dan Wayang Kulit Bertemu dalam Satu Panggung

30 Okt 2026

Lima Kasus HAM yang Pernah Terjadi di Indonesia, Ada yang Belum Selesai!

10 Des 2019

Sebelum Menikah, Coba deh Hitung Wetonmu dan Pasangan, Cocok Nggak?

24 Jun 2020

Terkuak, Ini Penyebab Mitos Orang Jawa dan Sunda Nggak Boleh Menikah

28 Jun 2020

Cek Daftar Kata Ini Sebelum Beli Baju di Online Shop

30 Mei 2018

Macan Akar a.k.a Kucing Hutan kok Dipiara

7 Des 2017

Jarang Disadari, Begini Ciri-Ciri WhatsApp yang Disadap dan Cara Mencegahnya

1 Mar 2021

Kidung Rumekso Ing Wengi, Mantra Tolak Bala Warisan Sunan Kalijaga

15 Nov 2020

Terjawab Sudah Alasan Achmad Yurianto Diganti Reisa Broto Asmoro

10 Jun 2020

8 Tokoh Penting Kongres Pemuda II yang Lahirkan Sumpah Pemuda

28 Okt 2017

Inibaru Media adalah perusahaan digital yang fokus memopulerkan potensi kekayaan lokal dan pop culture di Indonesia, khususnya Jawa Tengah. Menyajikan warna-warni Indonesia baru untuk generasi millenial.

A Group Member of

Ikuti kamu di: